-->

Kronik Toggle

Gelisah Berbuah Karya

Jakarta – Suatu hari sepulang sekolah, Janis, 8 tahun, mempertanyakan sikap seorang guru yang menunjukkan perlakuan berbeda antara murid muslim dan non-muslim. Pertanyaan anak bungsunya membuat Muna Pangabean gelisah. Mengapa sekolah yang seharusnya menjadi pilar pembentukan akal budi anak-anak justru menanamkan sekat-sekat perbedaan yang memisahkan satu kelompok dengan yang lain.

Gelisah ibu lima anak yang bernama lengkap Budina Julianti Artauli Panggabean ini membuahkan hasil sebuah buku Dari Sebuah Guci yang berisi 18 cerita tentang keberagaman. Bukan itu saja, perempuan kelahiran Jakarta 4 April 1965 ini berencana mengawinkan cerita buku itu dengan musik pada pertengahan Februari 2012. Pertunjukan kolaborasi ini akan diisi sederet penyanyi seperti Ari Lasso, Cindy Bernadette, Dewi Gita, Eka Deli, Gabriel Banang Harvianto, Mike Mohede, Rio Febrian, dan komposer Aminoto Kosim. 

“Aku ingin masyarakat yang membaca buku dan menyaksikan pentas musik ini terketuk perasaanya, peka, dan tak berlaku sinis terhadap perbedaan,” katanya.

Dari kolaborasi ini, Muna berharap ada gerakan bersama menghargai perbedaan kepercayaan, aliran, agama, suku, ras, strata sosial, dan lain sebagainya. Memelihara dan merawat keberagaman tidak bisa dilakukan orang per orang. “Sikap ini harus menjadi gerakan,” katanya. Itu sebabnya dia mengajak teman-temannya di jejaring sosial dan kelompok-kelompok lain yang selama ini memiliki gagasan sama untuk bergerak.

Pelarangan ibadah GKI Yasmin, pembakaran pesantren di Sampang, kekerasan di Cikeusik, bahkan pernyataan sesat pejabat atau sekelompok pada kelompok masyarakat yang lain sungguh memprihatinkan batinnya. ”Kini, konflik horisontal dan beragam perpecahan bisa mencuat ke permukaan karena kita tidak lagi menghargai keberagaman,” kata Muna.

Putri dari pasangan Partogi Panggabean dan Martina Siahaan ini kemudian berdiskusi dengan banyak orang, seperti penyanyi Fariz R.M., intelektual muslim Ulil Abshar Abdalla, pimpinan-pimpinan pesantren, pendeta dan banyak pihak lainnya. “Saya yakin, pada dasarnya tiap orang punya kontribusi yang sama-sama penting,” ujarnya.

Dalam buku itu, Muna bercerita misalnya tentang kisah cinta pendeta dan seorang wanita muslim, ada juga cerita tentang kerinduan seorang perempuan Batak berwudhu dengan air Danau Toba. ”Pluralisme ini sudah ada sejak zaman nenek moyang kita dulu, menyatu begitu indah. Sayang, kini tercabik-cabik memporak-porandakan Indonesia yang beragam dan indah ini,” kata Alumni Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

*)Tempo.co 1 Februari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan