-->

Lainnya Toggle

Esensi Perpustakaan Desa

“Jika mayoritas masyarakat bermata pencaharian petani, lengkapi perpustakaan desa dengan bacaan tentang pertanian”

TAHUN 2012, tiap desa di Jateng minimal memiliki satu perpustakaan desa/ kelurahan. Demikian target Badan Arsip dan Perpustakaan Jawa Tengah. Selain untuk mengembangkan minat baca, target itu menjadi bagian dari upaya merawat masyarakat yang sudah melek aksara agar tidak kembali buta aksara. Diharapkan pula melalui kegiatan perpustakaan desa bisa menjadi sarana masyarakat sekitar meningkatkan kesejahteraan ekonominya.

Di Jateng terdapat 8.490 desa/ kelurahan, tersebar di 545 kecamatan. Berarti sebesar itu pula target yang disasar. Tulisan ini tidak akan menganalisis apakah target tercapai atau tidak, realistis atau utopis. Penulis lebih membahas pengelolaan perpustakaanagar keberadaannya dapat memenuhi tujuan dan manfaat yang sejak awal dilekatkan.

Minimal ada tiga faktor penting dalam pengelolaan perpustakaan desa. Pertama; tempat atau lokasi. Kedua; koleksi dan petugas/pengelola perpustakaan, serta ketiga; kegiatan perpustakaan. Soal tempat, meskipun mayoritas orang tidak meragukan lagi manfaat membaca, tapi untuk sampai pada kondisi gemar membaca, masih jauh panggang dari api.

Salah satunya masalah akses. Jauh dan susahnya mendapatkan bahan bacaan menjadi salah satu sebab jauhnya masyarakat desa pada buku. Terlebih jika perpustakaan berada di dekat balai desa yang posisi atau lokasinya terpencil atau terpisah dari pusat keramaian desa.

Perpustakaan desa harus jemput bola. Artinya lokasi tidak harus berada di dekat balai desa, atau satu kompleks bangunan balai desa. Lantas di mana perpustakaan desa idealnya didirikan? Bisa di rumah perangkat desa, atau lebih bagus lagi jika secara khusus membangun ruang untuk perpustakaan desa di ‘’jantung kota’’ warga desa agar kehadirannya betul-betul diketahui.

Faktor kedua; koleksi dan pengelola. Sesuai dengan namanya, perpustakaan, tentu isinya adalah bahan bacaan atau pustaka. Seandainya isinya hanya bacaan, baik koran, majalah,maupun buku, itu tak soal. Namun yang tak boleh silap, tingkat kebutuhan dan modus masyarakat mengonsumsi informasi sekarang ini tidak melulu mengandalkan buku, koran, dan majalah berbasis pohon (kertas). Masyarakat kini perlu mengonsumsi informasi dari internet dan televisi.

Insentif Pengelola

Maka pada fase berikutnya, setelah perpustakaan desa melengkapi dirinya dengan kelengkapan standar, yaitu buku, koran, dan majalah, juga harus menyempurnakan dirinya dengan fasilitas  akses internet dan koleksi VCD edukatif. Apalagi kini, ada program internet masuk desa.

Mengenai pengelola, pilihlah orang yang betul-betul mencintai buku, atau minimal punya semangat belajar melalui bermacam-macam buku yang dimiliki perpustakaan desa. Ia juga harus bisa memahami jam biologis warga desa. Kapan waktu bekerja, kapan waktu istirahat, dan seterusnya.

Yang tak kalah penting adalah insentif untuk pengelola. Meskipun tugasnya ada segi-segi sifat kerelawanannya, tetap saja ia harus diapresiasi. Dari mana insentif itu diambilkan? Bisa dikeluarkan dari anggaran dana pendampingan yang (akan) digulirkan tiap tahun (Yuliati, 2011), baik dari APBN maupun APBD. Bisa juga diambilkan dari kas desa, atau membangun mekanisme penghimpunan dana (fundraising) dari masyarakat.

Faktor ketiga yang bisa mengefektifkan keberadaan perpustakaan desa adalah kegiatan perpustakaan itu sendiri. Salah satu kendala besar mengajak masyarakat datang ke perpustakaan dan membaca buku karena mereka tidak menemukan keterkaitan yang erat antara bacaan dan aktivitas keseharian.

Atas dasar hipotesis itu, agar perpustakaan desa fungsional, ia harus menyediakan bacaan yang bersifat keaksaraan fungsional. Jika mayoritas masyarakat bermata pencaharian petani, penuhi dan lengkapi dengan berderet bacaan tentang pertanian. Satu lagi, hampir semua masyarakat kita penggila bola, tidak perlu tunggu lama-lama segera informasikan kepada masyarakat bahwa perpustakaan desa menyediakan buku A-Z tentang sepak bola. (10)

— Agus M Irkham, alumnus Undip, instruktur Literasi Forum Indonesia Membaca, Kepala Departemen Litbang Pengurus Pusat  Forum Taman Bacaan Masyarakat

*)Suara merdeka, 18 Februari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan