-->

Lainnya Toggle

Akrobat Rasio ala Sukab

Oleh Titik Kartitiani

“Jika Kehidupan ini Selalu Logis, Maka Akan Sangat Kering,” itu salah satu kalimat yang diucapkan SGA (Seno Gumira Ajidarma) dalam diskusi “Sastra dan Politik, Membaca Karya SGA” di FIB UI, 24 Februari silam. Sebelumnya, izinkan saya menjelaskan bahwa tulisan ini dimaksudkan untuk sharring saja, tidak untuk menelaah lebih lanjut tentang bahasan ‘serius’ tersebut. Tak lain  karena keterbatasan pengetahuan saya tentang kritik sastra, tentang posmodern dan modern sebagai kaca mata untuk menelaah karya-karya SGA. Seperti kata Mba Fanny Poyk di Fbnya, kami berdua hanya dua makhluk yang mengangguk-angguk (sok) mengerti di diskusi yang dihadiri para ilmuwan sastra itu dan sesekali ‘nyengenges’ bila hal serius ini disampaikan dengan lucu dan ringan. Yang jelas kami cukup bahagia, dengan belajar dari pembicaraan itu.

Sebelum saya datang ke diskusi ini, saya sudah ‘berusaha’ membaca buku Andy Fuller tersebut. Buku setebal 128 halaman (plus indeks) yang jujur saya akui, tidak mudah untuk saya baca. Saya harus membacanya dua kali bahkan lebih untuk memahami apa yang ada di dalamnya (bahkan sampai buku itu tertinggal di bis dan saya beli lagi). Sampai akhirnya saya menjadi terkagum-kagum, ah betapa tulisan yang selama ini saya jatuh cinta (pada senjanya) menjadi teramat dalam maknanya bila dibaca oleh seorang Andy Fuller.

Baiklah, tidak untuk bermaksud narsis, tapi saya hanya ingin membandingkan betapa sebuah karya akan tumbuh menjadi pohon yang sungguh berbeda ketika berkecambah di pembacaya yang berbeda latar pemahaman. Pada awalnya, saya membaca karya SGA tidak lebih dari cara menikmati saya untuk memahami cerita itu. Ibarat makan biskuit, saya hanya bisa merasakan manisnya biskuit dan seringkali mengagumi kegilaan yang tak biasa dari bentuk-bentuk biskuit yang terhidang. Tapi tidak pernah menelaah, bahwa rasa dan bentuk biskuit yang disajikan adalah lambang dari sebuah jaman pada saat biskuit itu dibikin.

Berada di dalam (terutama) karya fiksi SGA, membran fiksi dan fakta rusak sudah, fakta dan fiksi memang kadang diletakkan oleh SGA tidak pada tempatnya, tapi toh tetap saja sedap untuk dinikmati. Misalnya saja, tidak mungkin senja dipontong pakai pisau lipat? Tapi toh bayangan kita menjadi turut menyala-nyala mengikuti Sukab yang membawa sepotong senja di sakunya? Bukankah hidup membutuhkan hal-hal yang tidak logis agar tidak kering?

Tapi jangan salah, walau fakta dan fiksi memang dimain-mainkan, tapi fakta yang sesungguh dari sebuah karya fiksi itu tetaplah fakta yang hadir secara ‘fakta’ (benar terjadi). Saya menyebut sebagai ‘pesan rahasia’ penulis yang akan sampai bila pembacanya membaca dengan melihat ‘behind the scene’ sebuah karya.

Yang jelas, fakta itu dihadirkan melalui riset dan bacaan yang tidak sedikit. Ini yang saya salut dari SGA  sebagai pencerita yang jurnalis itu (bahkan saya menulis artikel non fiksi (fakta) saja kadang tidak sempat untuk riset). Inilah yang dimaknai dan ditangkap oleh Andy.

Modern dan Posmodern
Dari buku yang ditulis Andy Fuller, karya SGA merupakan pemberontakan terhadap otoriter sebuah rezim (dalam hal ini Orba). Lebih jauh lagi, karya-karya SGA dimaknai sebagai bentuk-bentuk pemberontakan terhadap modern (yang diagungkan Orba). Karena modern pada masa itu menimbulkan banyak tragedi kemanusiaan.

Hanya saja, sebagaimana yang dilontarkan Binhad Nurrohmat dalam diskusi tersebut, bahwa SGA lebih ‘bermain cantik’ di mana karya-karya pemberontakan dan satir itu tidak akan membuat marah yang dituju (dalam hal ini punggawa Orba). Di mata Orba, SGA adalah ‘bocah imut’ yang dianggap tidak membahayakan. Hal senada juga dikatakan oleh Muhidin M Dahlan saat saya cerita tentang buku ini. Dia bilang: tugas saya mencari kata ‘penjara’ dalam buku Andy Fuller, dan memang tak lebih dari 5 frase ‘penjara’ dalam buku ini. Seno adalah pendongeng dengan ‘azimat posmo’ ini tidak dianggap berbahaya sama sekali oleh Soeharto dan serdadunya yang (ini ciri khas nyinyirnya Muhidin) tak pernah menang perang itu.

Berbeda dengan Rendra di mana pentasnya sempat dilarang, atau juga Pramoedya yang buku-bukunya dilarang terbit dan beredar. Bahkan pihak yang dikritik dan turut membaca karya SGA-pun tidak merasa tersinggung bahkan tertawa (walaupun diragukan, apakah pihak-pihak tersebut membaca karya SGA atau malah karya sastra pada umumnya).

Saat berbica mengenai dialektika modern dan posmo, SGA dengan gaya jenakanya menjadi pencerita yang menceritakan tokoh penulis namanya Seno. Mastodon dan Burung Kondor karya Rendra adalah pentas dari sebuah karya sastra yang memesona si Seno ini. Bahwa lantas kemudian dia bergitu ‘terpesona’ dengan karya-karya yang kemudian ia kenali sebagai karya sastra. Tapi kemudian menjadi ‘terkesima’ ketika membaca puisi mbelingnya Remy Silado yang mengobrak-abrik tatanan sebuah karya sastra yang dia kenali. Keduanya dicobanya, dan keduanya memberi kekayaan pada tulisan-tulisannya.

Menurut Seno, seorang penulis semakin menunjukkan kualitasnya ketika dia bisa ‘bermain’ di berbagai ranah karya dan pembaca. Dia bisa menulis untuk Horison tapi bisa juga menulis untuk Good and House Keeping hingga free magazine. Demikian proses perjalanan seorang penulis namanya Seno itu, hingga akhirnya ia gemar sekali menggunakan akrobat rasio dan ‘bermain-main’ dengan fakta dan fiksi hingga menempatkan karyanya pada arus posmo.

SGA (kali ini bukan Seno) mengilustrasikan dialektika modern dan posmo dengan bahasa yang bagi saya lebih bisa saya mengerti. Pertama dengan jilbab dan helm. Saat di parkiran, SGA melihat bagaimana seorang yang berjilbab menumpuki jilbanya dengan helm. Bila ditarik ke belakang, jauh lebih belakang sana, jauh sebelum Islam, esensi kerudung dahulu tentunya untuk melindungi diri (khususnya kepala) dari sesuatu. Untuk mengatakan yang lebih fisik, kerudung melindungi dari debu. Sebagaimana di Timbuktu, yang memakai kerudung adalah laki-laki dan perempuan karena di sana debunya banyak sekali.

Nah kemudian, helm lahir di zaman modern. Saat didesain, helm tentunya untuk melindungi kepala dari benturan yang sangat dahsyat. Saat didesain, tentunya helm ini tidak akan dibayangkan akan dipakai bertumpuk dengan jilbab.

Ilustrasi kedua perihal safety box. Ada seorang kawannya yang menyimpan surat-surat rumah tangga dan juga uang dolar di safety box. Tentunya safety box adalah produk modern. Tapi entah bagaimana, di safety box itu juga diletakkan cermin dan juga sehelai rambut. Sebuah kepercayaan Jawa, bila ada cermin maka tuyul akan membatalkan diri untuk mengambil uang yang disimpan. Tidak perlu dipertanyakan, bagaimana seorang (atau seekor?) tuyul bisa mengenali dolar, yang jelas keduanya tetap dilakukan.

Inilah sebuah realitas dalam kehidupan manusia. Bahwa manusia tidak seharusnya menjadi 100 % modern (yang disimbulkan dengan hal–hal yang sangat rasional) tapi kadang-kadang juga menyukai ‘kenakalan posmodern’. Yang jelas, bila hidup terlalu rasional maka kehidupan kita akan sangat kering. Manusia membutuhkan hal-hal ‘basah’  yang membuat hidup ini menjadi menyenangkan untuk dinikmati.

Sumber: Facebook “Titik Kartitiani”, 27 Februari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan