-->

Tokoh Toggle

Sigit Susanto, Rak Bukuku

Di website Goethe dikabarkan Sigit Susanto disebutkan lahir 1963 di Kendal, Jawa Tengah. Ia tak sudah-sudah membangun kemampuan menulis lewat milis. Ada sejumlah milis yang aktif dia ikuti, kalau bukan malah ikut mendirikan, antara lain apresiasi-sastra@yahoogroups.com, salah satu komunitas sastra Indonesia terbesar di Internet. Sebagian tulisannya disebar lewat milis, baik berupa catatan perjalanan, kritik buku, wawancara, atau artikel terkait dunia sastra dan politik. Dia bisa menulis apa saja di sana; tentang novel J.M. Coetzee, Vladimir Nabokov, Thomas Mann, termasuk berita-berita sastra mutakhir. Karena tinggal di Swiss, kebanyakan novel berbahasa Inggris ia baca dalam bahasa Jerman. Di Indonesia, tulisannya antara lain dipublikasi Koran Tempo dan Imajio, sebuah majalah sastra.

Kang Bondet–demikian ia akrab disapa–tinggal di Swiss karena menikahi Claudia Beck, seorang warga Swiss. Mereka dulu bertemu di Bali, ketika dia selama tujuh tahun (1988-1996) jadi guide bahasa Jerman di Bali yang menangani turis dari travel terbesar Jerman, TUI-Service. Sejak menikah itu dia diboyong ke Swiss. Mereka tinggal di tepi danau Zug, Swiss. Di salah satu negeri paling makmur di dunia itu dia pernah kerja di pabrik elektronik selama lima tahun, sebelum beralih jadi pembuat hamburger sekaligus tukang kebun restoran, yang dia jalani selama enam tahun lalu.

Booklovers, di bulan Februari ini Sigit Susanto menampilkan foto rak bukunya di Facebook. Bagaimanakah cerita di balik rak itu? Nah, kepada IBOEKOE via Facebook, Sigit Susanto berkisah.

2012 02 25_Buku_Koleksi Pribadi Sigit Susanto web

IBOEKOE: Apa pentingnya koleksi bagi seorang pembaca buku. Terutama koleksi dgn tema khusus?

Sigit Susanto: Aku punya 2 idola sastrawan: James Joyce dan Franz Kafka. Kedua sastrawan itu kubuatkan 2 rak khusus dan aku isi koleksi semua ynag terkait dengan karya mereka. baik biografi maupun sekunder literaturnya. Bahkan aku pernah nyuri karya Franz Kafka di sebuah perpustakaan mini di hotel di Swedia, balam bahasa Swedia atau Cheko, yang bahasanya sama sekali tidak kuketahui. Secara militansi, tetap menarik punya koleksi dari bahasa lain dari penulis idola. Format ini aku meniru Yayasan James Joyce di Zürich, dimana koleksinya Ulysses dari bahasa Arab, China dan Cheko. Secara esensi, banyak koleksi pada penulis tertentu akan membantu, jika menulis tentang karya sang penulis. Lebih meyakinkan, bahwa karya tersebut membentang lintas bahasa dan benua.

IBOEKOE: Di mana tempat favorit Anda membeli buku-buku sastra?

Sigit Susanto: Biasanya aku membeli buku sastra di loakan. Loakan di sini bukan berarti seperti di Indonesia, dijual di trotoar, tapi lebih di sebuah gudang barang bekas kota yang disebut Brochenhaus. Juga di toko buku loakan. Di kedua tempat itu harganya bersahabat erat. Itu untuk yang novel, karena novel paling mudah ditemukan, kan publik habis membacanya dibuang saja buku itu ke gudang barang rongsokan kota. Tapi untuk buku semacam analisis karya, harus pesan di toko buku.

IBOEKOE: Di antara 1.800 koleksi itu, adakah cerita-cerita seru dan tak terlupakan untuk mendapatkan satu atau dua koleksi?

Sigit Susanto: Ada 4 buku yang proses membelinya aku anggap unik. Pertama, Novel bekas: Idiot karya Dostojewski yang kubeli di toko buku lShakespeare and Company di Paris. Mengejutkanku, ternyata novel bekas itu sebelum dibungkus distempel dulu Shakespeare and Company. Kupahami akhirnya, memang toko buku itu sangat legendaris. Tak hanya Hemingway muda dulu sering pinjam di perpustakaan di toko buku ini, tapi Ulysses diterbitkan oleh toko buku ini tahun 1922.

Kedua, aku pesan di toko buku sebuah buku berjudul Bloomsday `97 karangan Walter Kemposwki. Aku baru tahu ada penulis yang tak menulis terutama pada buku ini. Kenapa? Karena Kempowski pada 16 Juni 1997 mengumpulkan berbagai berita di TV seluruh dunia yang merayakan Bloomsday dari Ulysses. Novel ini berisi biografi Joyce dan Nora, istrinya yang dimulai kencan pada 16 Juni 1904 di Dublin. Maka setiap 16 Juni tiap tahun diperingati sebagai Bloomsday. Kemposwki berhasil mengumpulkan semua berita dari berbagai TV dan bahasa dan dicetak dalam bentuk buku. Saat aku pesan buku tersebut, yang datang pesananku bukan buku cetak layaknya buku yang lain, melainkan sebuah jilidan mirip makalah tertulis Unkorrigiertes Fahnenex. Nah, ternyata ini semacam Dummy nya dari penerbit. Ya, baru kali ini aku pesan buku dapat dummy, kalau dami buah nangka kan enak….hahaha.

Ketiga, suatu kali aku datang di Reading Group Ulysses di Yayasan James Joyce di kota Zürich. Di sebelahku duduk John Bishop, seorang profesor dari Amerika. Akhirnya aku tahu, ia lah yang memberi pengantar pada novel James Joyce berjudul Finnegans Wake terbitan penguin. Ia bilang juga menulis buku berjudul Joyce`s Book of The Dark, Finnegans Wake. Buru-buru aku pesan di toko buku, karena dalam hitungan minggu, ia akan kembali. Untunglah pesananku tiba, sebelum ia pergi. Setelah dapat tanda tangan,kusimpan rapi di rak khusu karya Joyce. Akhir-akhir ini aku dapat kabar, John Bishop terkena stroke.

Keempat, di antara 1800-an buku itu ada satu novel yang ditandatangani langsung oleh peraih nobel, novel berjudul Rot ist Mein Name. Saat itu Orhan Pamuk sedang membedah novel terbarunya The Museum of Innocence di Swiss. Tentang kisah dapat tanda tangan dari Pamuk bisa dibuka di blog taman bacaku di kampung. Kisahnya baca di sini blog Pondok Maos.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan