-->

Tokoh Toggle

Tomas Tranströmer, Nobelis Sastra 2011

Oleh Luki Aulia

Penantian panjang Tomas Tranströmer (80), penyair dan psikolog asal Swedia, berakhir sudah. Komite Nobel akhirnya menganugerahinya Nobel Sastra 2011. Terpilihnya Tranströmer tidak mengejutkan karena namanya selalu muncul dalam nominasi penghargaan prestisius Nobel sejak tahun 1993.

Meski terserang stroke tahun 1990, yang kemudian membuatnya lumpuh separuh dan tidak mampu bicara, Tranströmer tetap produktif menulis, bahkan akhirnya memublikasikan kumpulan puisi The Great Enigma pada tahun 2004.

Karya-karya yang bercerita tentang misteri akal pikiran manusia menjadikannya penyair Skandinavia paling berpengaruh sejak Perang Dunia II. Akademi Swedia menilai puisi Tranströmer yang singkat, padat, dan gamblang memberikan perspektif baru dalam melihat kenyataan hidup.

Puisi-puisi Tranströmer banyak berbicara tentang kematian, memori, sejarah, dan kehidupan alam sekitar. Sebagian besar berbicara tentang pengalaman pribadi Tranströmer. Seperti Mörkseende (1970) yang mengeksplorasi kehidupan pribadi Tranströmer, penyakit, dan kematian anggota keluarga.

Di antara semua puisi yang pernah dihasilkan, Windows and Stones (1966) dan Baltics (1974) merupakan kumpulan puisi yang paling terkenal. Puisi-puisinya menggambarkan perjalanan Tranströmer ke segala penjuru dunia, antara lain Balkan, Spanyol, Afrika, dan Amerika Serikat.

Sarat makna

Puisi sarat makna dan gamblang digambarkan Tranströmer. Penggambaran konflik bersenjata, kebebasan, dan pemasungan kebebasan berbicara pun dijabarkan dengan menggunakan analogi pertarungan antara lautan dan daratan. Ada puisinya yang berbicara tentang kondisi politik kawasan Baltik tahun 1970-an, ketika negara-negara Baltik masih bagian dari Uni Soviet.

Garis besar pesan perubahan dan pergerakan ada pada semua puisi Tranströmer. Pandangannya tentang ”perdamaian kosmik” ini dikritik para penulis garis keras.

Keunikan puisi Tranströmer itulah yang membuat Akademi Swedia menganugerahinya Nobel. Tranströmer menjadi warga negara Swedia kedelapan yang mendapat Nobel Sastra. Warga berkebangsaan Swedia yang pertama kali meraih Nobel Sastra adalah Eyvind Johnson dan Harry Martinson (1974). Warga Swedia peraih Nobel paling akhir, sebelum Tranströmer, adalah Arvid Carlson di bidang kedokteran pada tahun 2000.

Reputasi Tranströmer mulai dikenal sejak sebagian besar karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Robert Bly, sahabatnya yang juga penyair asal AS. Kini karya-karya Tranströmer sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa dan memengaruhi dunia puisi di seluruh dunia, terutama di kawasan Amerika Utara.

Psikolog

Pria kelahiran Stockholm, 15 April 1931, itu hanya dibesarkan oleh ibunya yang berprofesi guru. Ayahnya, seorang wartawan, menceraikan ibunya ketika Tranströmer baru saja menginjak usia remaja. Tranströmer mulai belajar membaca sekaligus menulis puisi pertama kali ketika masih duduk di bangku sekolah di Sodra Latin, Stockholm.

Untuk mengisi musim liburannya, Tranströmer remaja kerap melancong ke Pulau Runmarö. Pengalaman masa kecil dan remajanya itu ia tumpahkan ke dalam puisi Östersjöar (1974, Baltik) dan memoar Minnena ser mig (1993).

Ketika berusia 23 tahun, koleksi puisi pertamanya, Seventeen Poems, dipublikasikan Bonnier, penerbit paling prestisius di Eropa Utara. Bonnier menilai karya Tranströmer ”analisis permanen tentang teka teki identitas individu yang berhadapan dengan labirin keanekaragaman dunia”.

Karena senang mempelajari alam pikiran manusia dan kehidupan sekitarnya, Tranströmer memilih mendalami psikologi di Stockholm University. Setelah lulus tahun 1956, ia kemudian bekerja di Psychotechnological Institute yang ada di dalam lingkungan universitas. Pada tahun 1960 ia menjadi psikolog di Roxtuna, rumah tahanan bagi narapidana berusia remaja. Sebagai psikolog, ia juga mendampingi penyandang cacat dan pasien di pusat rehabilitasi obat- obatan terlarang.

Pada tahun 1965 ia memutuskan pindah bersama keluarganya ke kota Västerås yang berjarak hampir 10 kilometer sebelah barat Stockholm. Ia lalu menjadi psikolog di institut milik organisasi buruh, Arbetsmarknadsinstitutet, pada tahun 1980. Namun, ia kemudian memutuskan kembali ke Stockholm tahun 1990.

Pada tahun 1966 ia menerima penghargaan Bellman yang diikuti penghargaan lain, termasuk penghargaan Bonner, Petrarch (Jerman), dan penghargaan Nordic, Swedish Academy.

Setelah memublikasikan 10 edisi kumpulan puisi, Tranströmer terserang stroke tahun 1990. Sejak itulah ia tidak bisa lagi berbicara sehingga istrinya, Monica, yang selalu menjadi juru bicaranya. Setelah enam tahun ”menghilang”, Tranströmer muncul kembali dengan Grief Gondola, buku berbahasa Swedia yang terjual 30.000 eksemplar.

Sejak terserang stroke dan tidak lagi bisa bicara, Tranströmer mulai mendalami musik klasik dan memilih piano. Setiap hari ia selalu berteman piano dan organ yang ia mainkan hanya dengan tangan kiri. Tangan kanan dan separuh tubuh bagian kanan lainnya lumpuh akibat stroke. Tranströmer yang sampai saat ini belum bisa berbicara tetap tinggal di Swedia bersama istri dan kedua putrinya. Ia tetap produktif menulis puisi sembari mendengarkan musik klasik setiap pagi, seperti yang ia lakukan pada saat pengumuman Nobel.

Sumber: Kompas, 7 Oktober 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan