-->

Kronik Toggle

The Panas Dalam Institute : Live Streaming di Radio Buku Jogjakarta

Teks & Foto : Ifan F. Harijanto

Yogyakarta – Jumat malam (29/9) rombongan dari The Panas Dalam Intitute dan Indonesia Kreatif tiba di Bandara Adi Sucipto Jogjakarta dalam rangka mengisi acara Wedangan kerjasama ADGI, The Panas Dalam Institute dan Indonesia Kreatif di Jogja dengan tuan rumah Iqbal dari Reka Rupa yang juga menjemput kami di Bandara Adi Sucipto. Perjalanan dilanjutkan ke tempat Istirahat di Indraloka Homestay di daerah Sagan Jogjakarta yang merupakan tempat untuk acara wedangan besok malamnya. Tempat yang nyaman ini sangat membantu teman – teman dari The Panas Dalam Intitute yang diwakili oleh Sang Imam Besar The Panas Dalam Pidi Baiq ( Ayah ), Budi Mulianto dan kang Ujang Koswara yang ditunjuk langsung oleh kang Pidi Baiq untuk menjadi Guru Besar The Panas Dalam Institute untuk melepas lelah. Tidak lama berselang berdatanganlah para penduduk The Panas Dalam ke tempat kami beristirahat, mendengar Imam Besar The Panas Dalam sedang berada di Jogja mereka langsung mendatanginya, walhasil waktu yang sedang digunakan istirahat akhirnya digunakan untuk menyambut para penduduk The Panas Dalam dengan senang hati langsung di sambut Imam Besar The Panas Dalam kang Pidi Baiq.

Pidi Baiq sang Imam Besar The Panas Dalam akan melakukan wawancara live streaming di Radio Buku Jogjakarta.

Belum lama ngobrol – ngobrol dengan para penduduknya, ternyata malam itu The Panas Dalam Institue juga mendapatkan undangan untuk wawancara live streaming di Radio Buku. Dijemput langsung oleh pihak Radio kami pun berangkat menuju tempat Radio Buku yang tepatnya berada di jalan Patehan Wetan. Sesampainya disana The Panas Dalam institute disambut oleh Muhidin M. Dahlan atau biasa dipanggil Gus Mu yang merupakan penanggung jawab di i.boekoe. Suasana di dalam ruangan i.boekoe benar – benar penuh dengan berbagai macam judul buku berkualitas yang selayaknya bisa dibaca dan dimiliki oleh para pembaca yang masih senang dengan buku –buku jenis konvensional ( dikarenakan sekarang ini sudah banyak e-book yang bisa di download ). Namun biasanya masih ada keasyikan tersendiri untuk memiliki buku yang berupa “Cetakan”, karena akan berasa nilainya dibanding dengan e-book. Jarum jam menunjukkan pukul 23.15, kang Pidi Baiq yang mewakili The Panasa Dalam Institute langsung memasuki ruangan siaran yang berada di bagian samping belakang i.boekoe, Pertanyaan dari penyiar masih seputar biografi Pidi Baiq dan pendapatnya mengenai bukunya yang telah terbit beberapa waktu silam. Dalam sebuah kesempatan bertanya, penyiar menanyakan mengapa bukunya hanya sampai pada 4 judul buku yang diterbitkan, dengan gaya khas Pidi Baiq menjawab, karena kalau 5 nanti saya melebihi Tuhan yang hanya menurunkan 4 kitab ke bumi ini sambil tersenyum, namun kemudian dia berikan jawaban seriusnya, bahwa dengan 4 buku saja sudah repot dengan berbagai tawaran untuk masuk televisi, jadi mendingan di stop sampai 4 saja, tapi nanti akan terbit buku lagi dengan judul yang berbeda dan tidak langsung berhubungan dengan 4 seri judul buku sebelumnya, drunken monster, drunken marmut, drunken molen dan drunken mama. Dan menurut kang Pidi Baiq seorang seniman itu tetap harus membumi tidak kemudian terbuai ikut terbang, seperti bermain layangan jadilah orang yang memainkan layang – layangnya, tapi jangan jadi orang yang ikut terbang dengan layangannya.

Setelah siaran Pidi Baiq dan penduduk The Panas Dalam berdiskusi ringan mengenai The Panas Dalam Institute di ruang meeting i.boekoe.

Tidak terasa 2 jam telah dilalui di i.boekoe setelah selesai wawancara di Radio Buku, Pidi Baiq tidak langsung beranjak untuk pulang ke tempat istirahat, namun mengadakan sedikit pembicaraan dengan penduduk The Panas Dalam dan perwakilan dari i.boekoe untuk mebicarakan mengenai The Panas Dalam Institute. Pembicaraan yang selalu diselingi celotehan Pidi Baiq yang sangat khas membuat para penduduk yang hadir disana tetap betah untuk mendengarkannya, namun akhirnya harus ada yang menghentikan pembicaraan malam itu karena waktu sudah menunjukkan pukul 02.30 wib.

Pidi Baiq yang seorang Imam Besar The Panas Dalam merupakan sosok ceria dan sederhana namun dalam setiap candanya menyimpan kata – kata yang bermakna dan membuat orang yang mendengarkannya menjadi berpikir lagi, beda dengan yang hanya mendengarkan dengan sekilas, karena setiap yang diungkapkan oleh Pidi Baiq membutuhkan pencernaan yang diibaratkan apabila kita makan dan makanannya dicerna maka akan menjadi daging, begitupun apabila hanya sekilas dan asal masuk saja maka makanan itu akan mubajir memenuhi perut saja dan dikeluarkan lagi dengan utuh. (@justsayifan).

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan