-->

Kronik Toggle

Kumpulan Cerpen Mona, Segalanya Tentang Perempuan

Bandung -Guspika berbusana seperti sopir bus dengan sehelai handuk kecil di pundak . Pemain Dapur Musik Teater itu membacakan cerita pendek berjudul Perjalanan Hujan yang pernah dimuat Koran Tempo pada 2004. Di panggung yang berukuran sekitar 20 meter persegi, ia berbagi ruang dengan bentangan kain hitam dan layar putih. Layar itu menampilkan ilustrasi cerita berupa gerakan pemain lainnya dalam bentuk siluet.

Pemanggungan cerpen itu, juga musikalisasi cerpen oleh Mukti-mukti dan kawan-kawan, mewarnai peluncuran buku perdana Mona Sylviana, 39 tahun, yang berjudul Wajah Terakhir di Bale Rumawat Universitas Padjadjaran, Bandung, Sabtu 8 Oktober 2011. Buku yang judulnya berasal dari salah satu cerpennya itu berisi kumpulan 13 cerpen Mona. Karyanya itu telah dimuat di berbagai koran kemudian disunting kembali.

Seluruh ceritanya berpusat pada berbagai tokoh perempuan dan pengalamannya tentang kebobrokan moral manusia. “Karena saya juga perempuan jadi lebih banyak tahu, mendengar gosip ibu-ibu, dan mengalami,”katanya di sela acara. Selain itu, dari hasil karyanya sejak 1993 atau saat masih mahasiswi jurusan Hubungan Masyarakat Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, cuma dua cerita yang bertokoh laki-laki. Tapi bukan masalah gender yang menjadi topik hangat diskusi buku itu di tempat yang sama.

Perwakilan panitia acara dari Institut Nalar Jatinangor, Djasepudin, dari awal telah menyinggung soal tanggapan sebagian orang yang menyatakan buku Mona sebagai cerita yang menjijikkan saat diskusi buku itu sebelumnya. Kesan itu juga kembali diulas dua pembicara pada diskusi kali ini, Conrad William Watson dari University of Kent yang menjadi dosen tamu di ITB, serta Aquarini Priyatna Prabasmoro, dosen jurusan Sastra Inggris Unpad.

Kesan menjijikkan itu berasal dari gambaran rinci Mona pada beberapa cerita, misalnya tentang kondisi kamar mandi yang jorok dan penyakit sipilis yang dialami tokoh Marza. Bagi Mona, ia perlu menggambarkan itu dengan jelas agar pembaca lebih paham dan ikut merasakan penderitaan yang dialami tokoh ceritanya yang digambarkan sebagai wanita tuna susila. “Bahaya penyakit itu juga bisa menyerang ibu-ibu rumah tangga,” ujarnya.


ANWAR SISWADI

*)Tempointeraktif, 8 Oktober 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan