-->

Kronik Toggle

Diluncurkan, Karya Sumohadi Marsis (kiri) dan Hendry Ch Bangun

JAKARTA–Wartawan olahraga senior, Sumohadi Marsis (kiri) dan Hendry Ch Bangun, menjadi narasumber pada acara peluncuran dan resensi buku Kritik Olahraga karya Sumohadi Marsis dan Kumpulan Esai Olahraga karya Hendry Ch Bangun di Jakarta, Sabtu (29/10).

Pegiat dunia olahraga Indonesia tentu tak asing dengan nama-nama Sumohadi Marsis maupun Hendry Ch Bangun. Mengingat, keduanya wartawan olahraga senior dan punya kontribusi pada pembangunan dunia olahraga nasional pada era mereka masing-masing.

Sumo, begitu panggilan akrab mantan wartawan Kompas serta Pemimpin Redaksi Tabloid Bola itu, mengaku kehidupan tulis-menulis yang menjadi pekerjaan wartawan merupakan roh dari kehidupannya. ”Itu sebabnya saya akan terus menulis bukan sampai mati. Tetapi, sampai semua sudah berjalan sebagaimana mestinya. Sebab, kalau hanya menulis yang isinya puji-puji, lebih baik saya berhenti saja,” tutur Sumo yang lahir di Kutoarjo, 8 Juli 1944, itu.

Ungkapan itu langsung disambut tepuk tangan hadirin yang mengikuti acara ”A Tribute To Sumohadi Marsis” yang disertai peluncuran buku Kritik Olahraga karya Sumohadi Marsis, yang berlangsung di Auditorium Universitas Tarumanegara, Jakarta, Sabtu (29/10).

Selain peluncuran buku kumpulan tulisan Sumo, juga diluncurkan buku Kumpulan Esai Olahraga karya Hendry Ch Bangun, wartawan senior Kompas yang kini bertugas di harian Warta Kota. Ada satu buku lagi yang juga diluncurkan, yakni buku kumpulan cerpen karya Aba Marjadi yang diberi judul Markonah Binti Marjunet yang merupakan salah satu judul dari cerpennya. Aba juga mantan wartawan tabloid Bola yang kini bergabung di harian olahraga GOsport.

Menurut Sumo yang mengawali karier dunia jurnalistiknya sejak bergabung dengan Harian KAMI 1970 sampai 1972, cita-citanya tersebut akan dijalani karena berkaca pada seniornya. ”Seperti almarhum Rosihan Anwar yang saat menjelang ajalnya pun masih menulis,” tuturnya.

Atau seperti Jakob Oetama, salah satu pendiri Kompas Gramedia. ”Sekalipun beliau baru merayakan ulang tahun ke-80, saya yakin Pak Jakob masih menulis serta berbagi ilmu dan wawasan kepada wartawan muda di Kompas untuk dapat menulis dengan baik,” ujarnya.

Atal Depari, salah satu wartawan senior yang eranya berdekatan dengan Sumohadi Marsis, berharap diterbitkannya buku itu dapat menjadi pemicu wartawan lain untuk juga membuat buku.

Tegas

Rosiana Tendean, salah satu mantan bintang bulu tangkis Indonesia, juga memberikan pendapat pada tulisan Sumohadi Marsis maupun Hendry Ch Bangun. Menurut Rosiana, dalam tulisan yang dimuat di tabloid Bola, Sumo kerap mengingatkan dengan halus, tetapi mengena.

”Berbeda dengan Bang Hendry yang selalu menyampaikan kritiknya dengan tegas,” tutur mantan andalan ganda putri Indonesia itu. Hendry yang menjadikan almarhum Valens Doy sebagai idola sekaligus mahaguru jurnalistiknya mengakui hal tersebut, ”Saya memang selalu mau berterus terang.”

Menanggapi beberapa pertanyaan mahasiswa Universitas Tarumanegara tentang hak cipta, Hendry menjelaskan bahwa semua hasil karya intelektual wartawan menjadi hak institusi media bersangkutan. ”Hanya memang ketika tulisan kita diterbitkan dalam bentuk buku, kami yang di Kompas biasa mendapat royalti,” katanya.

Sumber: Kompas, 30 Oktober 2011, “Sumo: Menulis Bukan sampai Mati”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan