-->

Kronik Toggle

Buku dan Kisah Hobi Fotografi Ani SBY

JakartaIbu Negara Ani SBY meluncurkan buku fotografi yang berisikan fotofoto hasil jepretannya di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Jumat, 28 Oktober 2011. Foto ini diambil dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, selama beliau mendampingi suaminya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ke hampir semua provinsi di Indonesia dan berbagai negara di lima benua yang menurutnya telah membuka matanya untuk melihat realitas kehidupan yang dihadapi saat ini. Tak ketinggalan, foto keluarga juga menjadi “warna” yang wajib ada di buku ini.

Ani bercerita mengenai hobi lama yang akhirnya ia geluti lagi setelah puluhan tahun ditinggalkannya. Menurutnya, ia diperkenalkan pertama kali dengan dunia fotografi oleh ayahnya, Sarwo Edhie Wibowo, saat ia masih remaja.

Saat itu, ayahnya sangat rajin mendokumentasikan foto keluarga dengan kamera “Canon” jagoannya. Penasaran dengan hobi ayahnya itu, Ani bahkan sering mengikuti Sarwo Edhie menyepi di kamar gelap, saat ia mencetak foto-foto hasil jepretannya.

Sarwo bukannya tak tahu ketertarikan putrinya terhadap fotografi. “Juli 1976, ketika saya menikah dengan Pak SBY, bersama-sama dengan saudara-saudari saya, ayah menambahkan tustel sebagai kado pernikahan kami. Dengan tustel itu, saya lakukan apa yang beliau lakukan,” ujarnya saat menyampaikan kata sambutan dalam peluncuran bukunya yang berjudul The Colors of Harmony, A Photography Journey di Galeri Nasional, Jakarta, Jumat, 28 Oktober 2011.

Dengan tustel hadiah itulah, kata dia, ia mulai memotret beberapa momen keluarganya. Obyek yang paling menarik Ani adalah kedua putra mereka, yaitu Agus Yudhoyono dan Edhie Yudhoyono. “Benar kata ayah tercinta, dengan potret itu, saya bisa ikuti perkembangan dan pertumbuhan anakanak kami, terutama, ya fisiknya. Itulah yang nyata dari tahun ke tahun,” ujarnya.

Tak terasa, kesibukan Ani menjadi ibu dan istri seorang prajurit membuatnya lupa akan hobi memotret. Hingga akhirnya tiga tahun lalu, ia kembali tergerak untuk kembali “bermain-main” dengan kamera, mengingat banyak kegiatan kenegaraan yang ingin ia rekam dengan foto hasil jepretannya sendiri.

“Saya sangat senang, tustel zaman sekarang tustel digital. Jauh lebih canggih dari zaman dulu. Enggak perlu negatif, motret jadi ringan dan menyenangkan. Kalau enggak pas, tinggal dihapus dalam sekejap,” ujarnya tersenyum.

Ani melanjutkan, dalam tiga tahun, tak terasa ratusan obyek foto telah ia hasilkan. Dengan kamera canggih, hasilnya pun amat jauh dari mengecewakan. “Kagum sendiri, kok bagus ya. Artinya menyesal sendiri kok enggak dari dulu,” ujarnya.

Rasa penyesalan yang dimaksudkan Ani adalah keterlambatannya memanfaatkan posisinya sebagai istri orang nomor satu di Indonesia itu. Padahal, menurutnya, sebagai istri presiden, tentu selalu mendapat posisi dan sudut pandang terbaik dalam mengambil setiap momen kejadian.

“Contohnya saat menghadiri (perayaan) Hari Republik India di New Delhi, menyaksikan defile pasukan angkatan bersenjata India sangat meriah dan akbar karena disaksikan ribuan rakyat India. Sebagai tamu kehormatan, kami duduk di tribun bersama Presiden dan PM India. Saat itu, saya bawa tustel pocket yang saya taruh di balik selendang saya, karena waktu itu ada tulisan dilarang bawa tustel, handphone, saya akal-akali, saya simpan di balik selendang saya,” ujarnya tersenyum.

Saat pertunjukan defile, Ani tak kuasa untuk tak mengabadikan momen tersebut. Ia pun minta izin untuk memotret peristiwa langka itu. “Ibu Manmohan Singh bertanya ke panglima. Setelah dapat izin, saya baru abadikan peristiwa di depan tribun kehormatan. Waktu itu yang sangat menarik saya, seragam tentara dengan topi kipas warnawarni yang sangat cantik.”

“Melintasnya tentara kuda yang bawa bendera kecil merahputih sebagai penhormatan kepada Presiden Indonesia dan juga pasukan unta. Tentu saja hal ini baru pertama kali ini saya lihat, ada pasukan naik unta,” kata dia mengenang.

MUNAWWAROH
*)Tempointeraktif, 29 Oktober 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan