-->

Lainnya Toggle

Buku Bestseller

hetih2011_reasonably_smallOleh: Hetih Rusli

Pertanyaan besar bagi banyak penerbit dan pecinta buku adalah, bagaimana menentukan satu buku yang bisa jadi bestseller?

Entah saya yang kurang melek atau bagaimana, tapi menurut saya tak ada yang bisa memprediksi apakah suatu buku bisa jadi bestseller atau tidak sebelum dilempar ke pasar. Penerbit/penulis hanya bisa mengusahakan buku tersebut jadi bestseller melalui beragam kegiatan promosi tapi setelah itu keputusan berada di tangan pembaca/pembeli untuk menjadikannya laris/tidak.

Akan tetapi tidak sulit mengetahui latar belakang kenapa suatu buku bisa jadi bestseller. Yang sudah jelas seperti Twilight kenapa bisa jadi fenomenal tak akan saya bahas panjang lebar lagi di sini. Sejak zaman Jane Austen pun kita tahu bahwa lelaki macam Edward, Mr. Darcy, atau Fachri bisa jadi alasan perempuan membaca buku. Lelaki sempurna yang tak pernah ada di dunia ini membuat pembaca (perempuan) percaya bahwa mereka bisa memiliki lelaki macam itu dalam imajinasi mereka. Jika 80% pembaca novel adalah perempuan, hitung sendiri jumlahnya.

Saya percaya bahwa fiksi merupakan refleksi kegelisahan sosial masyarakat pada saat ketika buku itu ditulis. Sebuah catatan yang digoreskan sang pengarang berpadu dengan imajinasinya dan menghasilkan sebentuk karya yang memantulkan isi pikiran masyarakat era itu. Ambil contoh Harry Potter, misalnya.

Harry Potter terdiri atas 7 novel karya J.K. Rowling yang diterbitkan selama rentang waktu sepuluh tahun, 1997-2007. Selain kecerdasan dan kepiawaian J.K Rowling dalam merangkai fantasi dan imajinasi dalam Harry Potter, kita bisa merasakan kegelisahan sosial masyarakat Inggris. Dua isu sosial yang kental dalam Harry Potter adalah perbedaan kelas dan ras. Perbedaan ras tampak dalam pengelompokan mereka yang berdarah murni dan berdarah lumpur. Juga di Hogwarts kita mendapati perbedaan kelas sosial yang jelas.

Apa pun mimpi yang dijual oleh Pangeran William dan Kate Middleton. Kenyataanya hampir separuh masyarakat Inggris, sekitar 48% penduduk merupakan golongan kelas menengah. J.K Rowling yang kini menjadi perempuan terkaya di Inggris setelah Ratu Inggris berasal dari golongan kelas menengah pekerja.

Kecemburuan kelas ini merupakan api dalam sekam di Inggris yang kemudian meledak dalam kerusuhan di Inggris pada pertengahan tahun 2011 ini.  J.K Rowling yang harus berjuang dalam kemiskinan dan ibu tunggal paham benar perbedaan kelas ini. Kaum kaya dan bangsawan menikmati kedudukan. sementara kaum pekerja harus berjuang mati-matian agar bisa menyambung hidup. Dalam wawancaranya dalam O Magazine tahun 2001, J.K Rowling berkata, “I think back to myself at 11. Kids can be mean, very mean. So it was there in Ron not having the proper length robes, you know? And not being able to buy stuff on the trolley. He’s got to have sandwiches his mom made for him, even though he doesn’t like the sandwiches. Having enough money to fit in is an important facet of life.”

Itu di Inggris, di Amerika Serikat kita memiliki buku laris yang menjadi budaya pop dunia terbaru: The Hunger Games, yang pertama kali terbit tahun 2008 dan tahun 2012 film pertamanya akan dirilis ke layar lebar. The Hunger Games adalah karya Suzanne Collins yang memulai kariernya sebagai penulis acara televisi.

Televisi merupakan hiburan terbesar masyarakat Amerika kelas menengah. Bahkan menjadi industri yang diekspor ke seluruh dunia. Tayangan reality show dan pencarian bakat menjamur selama sepuluh tahun terakhir. Penonton menikmati kesempatan untuk menyaksikan acara-acara sungguhan yang “diperankan” oleh karakter-karakter di layar kaca. Peserta pencarian bakat berharap bisa terangkat hidupnya dari golongan kelas menengah pekerja hingga bisa jadi kaya dan terkenal.

Amerika Serikat termasuk negara yang sering berperang setelah PD II. Mulai di Korea, Vietnam, Irak, Kuwait, mereka harus ikut terjun ke medan perang. Tercatat 6230 tentara Amerika Serikat tewas selama perang di Irak dan Afghanistan sejak tahun 2001. Biasanya anak-anak remaja yang cuma lulus SMA dan tak punya uang/keinginan melanjutkan kuliah direkrut menjadi tentara, dengan harapan memiliki hidup lebih baik. Sejak perang terhadap terorisme, masyarakat Amerika juga dihadapkan pada satu kehidupan yang dekat dengan kekerasan perang dalam tayangan berita mereka. Hingga berita perang pun menjadi hiburan tersendiri di layar televisi.

Gabungkan keduanya, reality show dan perang, Anda mendapatkan The Hunger Games. Dalam trilogi  yang menjadi bestseller menggeser posisi Twilight kita mendapati kegelisahan Suzanne Collins terhadap kondisi Amerika Serikat. Dalam The Hunger Games, anak-anak belasan tahun dipilih dan diadu dalam acara reality show terakbar yang ditayangkan langsung di televisi. Dari 12 distrik, 24 anak lelaki dan perempuan dibuat bertarung sampai mati hingga terdapat 1 orang pemenang. Dan distrik yang menang akan mendapat limpahan makanan dan hidup yang lebih baik selama setahun ke depan.

Suzanne Collins memadukan kegandrungan Amerika Serikat terhadap perang dan tayangan televisi dalam fantasi The Hunger Games. Trilogi ini tampak terlalu sadis dan keji ketika kita melihat begitu banyak kematian dan pembunuhan yang dilakukan oleh remaja-remaja yang haus darah.

“The boy from District 1 dies before he can pull out the spear,” observes Katniss of her prey in one scene. “My arrow drives deeply into the center of his neck. He falls to his knees and halves the brief remainder of his life by yanking out the arrow and drowning in his own blood.” (Hunger Games)

Membaca trilogi Hunger Games—dengan tokoh remaja perempuan berusia 16 tahun bernama Katniss Everdeen—yang ditinggal mati ayahnya lalu harus berjuang menghidupi adik dan ibunya adalah alegori kehidupan remaja kelas menengah di Amerika Serikat dalam dunia dystopia yang penuh dengan kematian dan duka karena perang.

Bagaimana dengan Indonesia? Di negara dengan persoalan bangsa yang mengalami krisis identitas, korupsi, ketidakjelasan hukum, kita butuh dibuat percaya bahwa masih ada jalan keluar dari segala masalah ini. Bangsa ini sedang butuh harapan. Bahwa dalam dalam kemiskinan pun seseorang bisa berjuang dan menjadi seseorang. Maka dari itu tidak heran buku-buku macam “from zero to hero” pun laris manis.

Mimpi menjadi seseorang dari kampung yang sukses di kota besar. Dari bocah miskin di Malang hingga menjadi direktur di New York. Dari Belitung ke Edensor. Dari Padang mendapat beasiswa ke Amerika Serikat dan London. Dari mahasiswi miskin di Singapura hingga mendapat satu juta dolar pertamanya. Pergi ke luar negeri dan pulang lalu menjadi seseorang masih menjadi impian sukses orang Indonesia.

Jangan salahkan para penulis ini jika buku mereka disuka pembaca. Mereka hanya memotret kegelisahan sebuah era. Kegelisahan masyarakat yang terperangkap dalam dunia sosial/budaya yang kadang membuat sesak dan menakutkan. Terutama mereka yang menjadi kelas menengah pekerja di Indonesia, yang kerap berpikir apakah hidup akan lebih baik nantinya jika kita bekerja keras secara halal?

Harapan dan kebanggaan. Itulah yang diberikan buku-buku tersebut. Harapan bahwa hidup akan lebih baik. Kebanggaan bahwa orang Indonesia bisa sukses dan mendunia. Dan terutama keyakinan bahwa ada cahaya di ujung terowongan sana.

Referensi:

http://www.hp-lexicon.org/essays/essay-secrets-of-the-classlist.html

http://www.associatedcontent.com/article/20903/racism_and_ideological_differences.html?cat=38

http://jeffersonianblog.wordpress.com/2011/09/19/the-hunger-games-a-cautionary-tale/

http://www.nytimes.com/2011/04/10/magazine/mag-10collins-t.html?_r=1&pagewanted=all

http://apps.washingtonpost.com/national/fallen/

*) HetihRusli.com 13 Oktober  2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan