-->

Kronik Toggle

Biografi Sudi Silalahi: Jenderal Batak dari Tanah Jawa

JAKARTA–Minggu, 3 Juli 2011, 10 hari sebelum ulang tahunnya yang ke-62, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi melaporkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang rencananya mencetak buku biografi dirinya berjudul Jenderal Batak dari Tanah Jawa. Namun, Sudi tidak bermaksud untuk minta Presiden SBY membuat pengantar atau sambutan untuk buku itu.

”Saya tidak ingin menyita waktu Presiden dan saya tidak ingin kata pengantar dari Presiden untuk buku ini dipolitisasi atau menimbulkan buruk sangka dalam diri orang lain,” ujar Sudi di Jakarta, Jumat (30/9). Namun, SBY mengatakan perlu untuk memberi pengantar. ”Secara moral wajib bagi saya memberi pengantar dalam buku ini. Tidak perlu terlalu terganggu terhadap komentar dan ejekan dari pihak-pihak tertentu yang mudah berburuk sangka,” ujar SBY.

Kata pengantar SBY berjudul Pekerja Keras, Relijius dan Setia yang ditulis dalam waktu singkat dan langsung dicetak itu ternyata cukup menarik dan orisinal. SBY kenal Sudi tahun 1971. ”Waktu itu saya seorang Sersan Taruna, sedangkan Mas Sudi sudah berpangkat Sersan Mayor Dua Taruna, satu tingkat lebih tinggi dari pangkat saya. Terus terang, dalam kehidupan taruna Akademi Militer yang keras dan penuh disiplin, di mata taruna yunior, seorang senior lebih ditakuti karena bisa menghukum yuniornya,” kata SBY.

Bagi SBY, 40 tahun lalu, Sudi sedikit beda dari lainnya. Dia tidak menghukumnya, tetapi memberi nasihat. Sudi waktu itu, kata SBY, sering mendapat sebutan ”Pokdojid”, singkatan dari ”kelompok komando masjid”.

Catatan SBY tentang Sudi ada lima hal. ”Pertama, kami berdua merasa memiliki idealisme dan nice dream tentang negara ini,” ujarnya. Kedua, SBY melihat Sudi sebagai pribadi setia tidak punya agenda tersembunyi. ”Ada yang mengatakan, Sudi Silalahi bemper-nya SBY. Ada juga yang salah melihat beliau yang katanya hanya asal SBY senang atau ABS. Itu keliru dan menyakitkan,” ujarnya.

Dalam catatan ketiga SBY, antara lain, mengatakan, ”Jam berapa pun saya hubungi, entah subuh atau tengah malam, kami selalu bisa berkomunikasi.” Dikatakan pula, SBY dan Sudi seperti perumpamaan dalam bahasa Jawa, ”tumbu oleh tutup”, artinya cocok atau klop. Keempat, SBY merasa cocok dengan Sudi soal pengelolaan administrasi. Kelima, SBY merasa sama dengan Sudi dalam sikap moderat, termasuk dalam menjalankan agama. ”Kami berdua sering dihantam atau dihujat dari berbagai pihak, termasuk mereka yang dulu bersahabat baik,” ujar SBY.

Ketika didesak sejumlah orang agar biografinya dibukukan, Sudi semula menolak. ”Saya mau setelah diyakinkan biografi itu penting untuk anak cucu saya,” ujar Sudi. Ketika berbicara tentang buku itu, Sudi lebih banyak bercerita masa kecilnya di kampungnya di Simalungun, Sumatera Utara. ”Saya ini cah ndesa (anak desa), tukang ngarit (menyabit rumput) dan tukang angon kambing,” ujarnya dalam bahasa Jawa.

Sumber: Kompas, 3 Oktober 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan