-->

Lainnya Toggle

Berkah dan Ironi Buku

Oleh Musyafak

Buku adalah sebuah berkah. Ia menghadiahi kita pengetahuan yang melimpah, janji akan pemahaman tentang hidup dan alam yang tidak bisa dimiliki oleh makhluk lain. Ia menjadi satu alat kebudayaan terbaik bagi jiwa, akal, dan tubuh manusia agar berkembang secara optimal. Pendek kata, buku turut membentuk adab dan manusia yang berbudaya. Ia adalah modus pembebasan manusia dari fatalitas dan pasivitas kodrat naturalnya.

Proklamator RI, Soekarno, memiliki hubungan intim dengan buku dan merasa dibesarkan olehnya. Buku mengenalkannya kepada orang-orang besar dan ide-ide besar. Di sebuah pameran buku di Jakarta pada 1950, seperti dikutip Djoko Pitono (2011), Soekarno membocorkan rahasianya lewat tulisan di buku tamu: ”Buku-buku adalah temanku. Di sana aku bertemu orang-orang besar. Pikiran-pikiran mereka menjadi pikiranku. Cita-cita mereka menjadi pendirian dasarku.”

Bahkan Jorge Luis Borges (1899-1986), sastrawan ternama Argentina, pernah membayangkan surga sebagai sejenis perpustakaan. Kegilaan Borges membaca buku membuat matanya hampir buta. Nafsu buku juga dirasakan oleh pengarang kesohor Ajip Rosidi. Ajip (2004) mengakui buku telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kesehariannya. Tampaknya, buku terus memompa semangatnya menulis puluhan buku sastra dan budaya.

Selubung dan Ironi

Di sisi lain, buku ternyata juga menyimpan ironi ketika pembaca atau penikmat sebuah buku justru terpenjara, terdikte oleh buku. Beberapa buku yang bernada diktatik bisa menjadi diktator bagi pembacanya, menenggelamkan pembaca dalam kefanatikan, juga kegelapan diskursif dari pengetahuan. Dalam perhitungan lain, data yang tersaji dalam buku juga dapat menciptakan labirin yang justru menyesatkan pikiran.

Ironi buku semacam itu dapat terbaca dalam kisah Don Quixote, tokoh dalam novel Don Quixote de La Mancha karya Miguel de Cervantes (1547- 1616). Buku ini mengisahkan bagaimana tokoh Quixada memutuskan diri menjadi seorang ksatria, mengubah namanya menjadi Don Quixote, karena terilhami oleh tokoh dari sebuah buku bernama Amadis. Secara fanatik dan membabi buta ia menganggap Amadis sebagai super hero yang patut ditiru. Don Quixote pun menjadi pribadi yang terdikte, terperangkap dalam dunia artifisial yang obsesif buku.

Di bagian lain, posisi kultural dan sosial buku juga dapat menggiring seseorang untuk sekadar menunjukkan gaya hidup yang modis dan eksibisionis. Buku diburu dan dikumpulkan hanya untuk etalase yang menunjukkan kelas dan gengsi. Akan tetapi, di rak-rak tersebut, buku membeku atau hanya menjadi sarang debu. Produk kebudayaan tersebut justru menjadi selubung politis untuk menutupi kedangkalan dan perilaku kurang beradab pemiliknya.

Begitu pun dalam lingkungan akademis. Banyak ilmuwan atau akademisi yang menggunakan buku sekadar untuk memainkan matematika kata. Bahkan belakangan kita mendengar beberapa kasus dari akademisi yang memakai buku hanya sebagai sumber plagiasi, kedustaan, dan kemunafikan intelektual.

Menjiwai buku

Tan Malaka (1897-1949) memiliki hubungan intim dengan buku meskipun bukan hubungan menyenangkan. Seperti dikisahkan dalam Madilog. Ketika pembuangan pertamanya di Belanda pada 22 Maret 1922, Tan Malaka masih membawa cukup buku agama, politik, ekonomi, juga buku-buku komunisme yang menjadi perhatian utamanya. Sayang, pustaka itu harus ditinggalkan ketika ia pergi ke Moskwa, Rusia, karena ia harus lewat Polandia yang memusuhi komunisme. Di Tiongkok, Tan Malaka kembali memburu buku. Ia mengaku, nafsu membeli buku, hingga membikin kantongnya kedodoran.

Perang Jepang pada tahun 1931 memaksa Tan Malaka meninggalkan koleksi bukunya di kediamannya, di belakang Jalan Nort Su Chuan Road, Sanghai. Ketika ditengok kembali sebulan setelahnya, buku-bukunya sudah raib disikat laliong (tukang copet). Bolak-balik mendirikan pustaka pribadi, toh nasibnya selalu bercerai dengan bukunya.

Buku dan pejuang yang pertama menggagas kemerdekaan Indonesia ini memang terbalut dalam cerita yang getir. Buku utamanya, Madilog, disusun tanpa buku-buku referensi utamanya. Semua diacunya berdasarkan ingatan. Sebuah kerja yang membuktikan buku adalah sebuah kerja yang ditransmisi ke dalam dirinya, selebihnya tertinggal kertas belaka.

Buku adalah makna yang harus menjelma dalam hidup yang sebenarnya. Selaras pandangan Al-Ghazali yang mengatakan al-‘ilmu fi al-shuduri la fi al-suthuri, yakni letak ilmu itu di dada (jiwa), bukan di tulisan.

Eli (Denzel Washington) dalam film The Book of Eli besutan Albert Hughes dan Allen Hughes (2010) pun melakukan kritik-diri terhadap laku memuja buku. ”Bertahun-tahun aku telah membawanya dan membacanya setiap hari. Aku terlampau menginginkan agar buku itu selamat, sampai aku lupa bagaimana harus hidup dengan apa yang kupelajari dari buku itu,” kata Eli.

Begitulah buku membuat manusia terbentuk, atau justru membuatnya terkutuk. Ia adalah sebuah dunia, yang kadang begitu luar biasa. Akan tetapi, ia menjadi sia-sia ketika ia tak mampu menjelmakan makna-makna luhurnya di kehidupan nyata.

MUSYAFAK Pengkaji Budaya di Open Mind Community; Pengelola Majalah Sastra Soeket Teki, Semarang

Sumber: Kompas, 4 Oktober 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan