-->

Kronik Toggle

17 Buku Diluncurkan di Ubud

JAKARTA – Sebanyak 17 buku diluncurkan pada Ubud Writers and Readers Festival 2011 di Ubud, Bali. Selain peluncuran buku, UWRF 2011 juga menerbitkan antologi (kumpulan cerpen) bilingual karya 17 penulis Indonesia dari sejumlah daerah.

”Ke-17 penulis itu sudah melalui sistem seleksi dari panitia dan layak dipublikasikan secara internasional,” kata Wayan Juniartha, Koordinator Program Ubud Writers and Readers Festival (UWRF), Kamis (6/10).

Beberapa penulis yang karyanya diterbitkan, antara lain, Arafat Nur (Aceh), Ragdi F Daye (Sumatera Barat), Budy Utamy (Riau), Fitri Yani (Lampung), Alan Malingi (NTB), Wahyu Arya (Banten), dan Jaladara (Jawa Barat).

Adapun 17 buku yang diluncurkan dalam kegiatan tersebut, lima di antaranya karya penulis Indonesia, termasuk Iwan Setyawan (Dari Kota Apel ke The Big Apple); Ida Ayu Ngurah Puniari (Kain Bebali Sacred Cloth); dan Noviana Kusumawardhani (Lelaki yang Membelah Bulan).

Sejak 2008, UWRF mulai menerbitkan karya-karya penulis muda Indonesia. Beberapa kemudian dibuat versi bilingualnya. Karya bilingual ini nantinya akan disebarkan ke pusat-pusat jaringan penulis dunia dan juga ke beberapa perguruan tinggi di dunia.

Penulis dunia

Saat ini, 137 penulis dari 25 negara berkumpul di Ubud, Bali, untuk mengikuti UWRF. Lebih dari 100 program kegiatan terkait sastra digelar selama lima hari, 5-9 Oktober 2011.

Dalam acara itu hadir penulis-penulis muda dari Indonesia, seperti Andrea Hirata, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Avianti Armand, dan sastrawan senior Putu Wijaya. Hadir pula beberapa penulis dunia, seperti Tariq Ali, penulis Inggris kelahiran Pakistan; Junot Diaz (Australia), dan Aneesha Capur (India).

Beberapa program yang disiapkan, antara lain, debat soal sastra, workshop penulisan, diskusi, dan peluncuran buku. Supaya peserta tidak bosan, seluruh acara festival diselenggarakkan di lokasi-lokasi unik sekitar Ubud.

Noviana, penulis yang bukunya diluncurkan dalam acara tersebut, mengatakan, UWRF bisa dimanfaatkan para penulis Indonesia untuk membuka jejaring pergaulan internasional. Ia berharap karya-karyanya bisa diterjemahkan ke dalam bahasa asing.

Sesudah festival, sejumlah penulis asing diajak berkunjung dan berdiskusi di beberapa kota di luar Bali. Tahun ini, mereka akan berkunjung ke Bima, Nusa Tenggara Barat, Banjarmasin, Riau Kendari, dan Solo.

Sumber: Kompas, 7 Oktober 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan