-->

Kronik Toggle

Toko Buku di Daerah Banyak yang Bangkrut

JAKARTA – Toko buku di tingkat kota dan kabupaten banyak yang gulung tikar. Hal ini disebabkan penjualan buku-buku pelajaran kini tidak lagi mengandalkan toko buku, tetapi dari penerbit langsung ke sekolah-sekolah.

Firdaus Oemar, Ketua Umum Gabungan Toko Buku Indonesia (Gatbi), mengatakan, berdasarkan aturan pemerintah, distribusi buku semestinya melalui toko buku.

Jika aturan ini berjalan baik, toko buku di daerah akan tumbuh subur karena anggaran pembelian buku lewat biaya operasional sekolah (BOS), dana alokasi khusus, dan pembelian buku oleh perpustakaan cukup besar. ”Kenyataannya, aturan ini tidak berjalan dan pemerintah tidak tegas,” kata Firdaus di Jakarta, Jumat (2/9).

Akibatnya, jumlah toko buku di daerah terus menyusut. Jika sebelum reformasi 1998 ada sekitar 5.000 toko buku, kini tidak sampai separuhnya.

Menurut Firdaus, ada kelompok-kelompok tertentu yang tergabung dalam konsorsium-konsorsium yang menguasai proyek pembelian buku dari anggaran pemerintah pusat dan daerah. Toko buku sebenarnya juga diberi kesempatan untuk mengikuti tender. Akan tetapi, salah satu aturannya, toko buku yang mengikuti proyek pengadaan buku harus mendapat surat rekomendasi dan dukungan dari penerbit.

”Bagaimana mungkin penerbit mau memberikan surat dukungan. Sekarang ini, justru penerbit-penerbit yang tergabung dalam konsorsium, sekaligus menjadi distributor buku,” tuturnya.

Persoalan lainnya, sekolah-sekolah yang terkadang memakai nama koperasi sekolah, juga lebih suka berhubungan langsung dengan penerbit untuk menyediakan buku pelajaran. Ini disebabkan penerbit memberikan potongan harga lebih besar jika dibandingkan dengan toko buku. Penerbit mau memberikan potongan harga cukup besar asalkan sekolah terus menggunakan buku-buku terbitannya.

Mekanisme keliru

Jimmy Juneanto, Presiden Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI), mengatakan bahwa matinya toko buku-toko buku di daerah merupakan bukti ada yang salah dalam mekanisme distribusi buku dari produsen ke konsumen.

”Jika mekanismenya benar, perekonomian di sektor perbukuan bisa tumbuh dan merata ke daerah-daerah,” kata Jimmy.

Menurut Jimmy, toko buku merupakan rantai distribusi buku yang tahu betul kebutuhan pasar. ”Jika informasi kebutuhan pasar soal buku ini bisa berjalan baik, percetakan juga diuntungkan. Kapasitas percetakan di Indonesia sebenarnya cukup besar untuk mendukung penerbitan buku,” kata Jimmy.

Jimmy mengatakan kuncinya di pemerintah untuk menjamin mekanisme distribusi buku berjalan sesuai dengan aturan. ”Hal lain yang penting juga, berhentilah sekolah minta diskon besar, seperti yang biasa diberikan sejumlah penerbit. Para guru, kan, sudah dapat kesejahteraan yang semakin bagus dari pemerintah. Tidak perlu lagi berbisnis buku. Biarkanlah itu jadi fungsi toko buku,” kata Jimmy.

Sumber: Kompas, 3 September 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan