-->

Resensi Toggle

Naskah Drama Demayu | Kedung Darma Romansha | 2011

Dermayu: Tafsir ulang atas babad Darma Ayu Nagari

Karya Kedung Darma Romansha

Oleh Fairuzul Mumtaz a.k.a Virus

Teks drama ini pertama kali didiskusikan dalam forum Obrolan Senja pada hari Ahad, 18 September 2011, jam 16.00 – 18.00. di Angkringan Buku, Yayasan Indonesia Buku, Jl. Patehan Wetan No 3, Alun-alun Kidul Keraton Yogyakarta.

Kita biasa mengenal cerita rakyat asal-usul suatu daerah dari babad atau buku-buku cerita rakyat yang beredar bebas. Namun, kali ini cerita ditampilkan dengan gaya tutur yang berbeda dan memiliki tangga dramatik yang luar biasa.

Dermayu, sebuah teks cerita rakyat yang dikemas secara berbeda, yaitu dalam bentuk teks drama yang memiliki unsur dramatik.

Teks drama Dermayu ini merupakan cerita rakyat asal-usul kabupaten Indramayu. Selain gaya tutur yang berbeda, teks drama ini juga memberikan tawaran penggalan cerita yang tak ditemukan diberbagai babad atau buku-buku cerita rakyat Indramayu pada umunya.

Ini merupakan hal menarik karena mencoba mengungkap penggalan cerita yang tersembunyi atau sengaja dihilangkan untuk menjaga kejayaan kerajaan pada masa itu. Artinya, ada upaya untuk kembali mencermati dan meluruskan sejarah. Akan tetapi, sejauh mana kecermatan kita dan penilitian macam apa yang sudah kita lakukan untuk meluruskan sejarah tersebut? Mari kita diskusikan.

Kisah dalam teks drama Dermayu bermula dari pengembaraan Wiralodra untuk mencari sungai Cimanuk. Dalam perjalanannya, ia banyak menemui berbagai rintangan. Dari mulai bertemu dengan kakek tua yang kejam hingga gadis ayu bernama Dewi Rarawana yang menginginkan dijadikan istri oleh  Wiralodra.

Mulanya, Wiralodra yang ditemani Ki Tinggil juah tersesat. Beruntung ia bertemu dengan kakek tua bernama Kyai Malih Warna. Namun, pikiran mereka tak sejalan. Kyai Malih Warna menuduh Wiralodra sebagai perampok.

Pertarungan pun tak dapat dihindarkan dan pertarungan tersebut dimenangkan oleh Wiralodra dan Kyai Malih Warna memberikan petunjuk menuju arah Sungai Cimanuk.

Perjalanan dimulai kembali. di tengah hutan belantara, Wiralodra bertemu dengan Dewi Rarawana. Sang Dewi memaksa Wiralodra untuk menikahi. Bahkan ia menjanjikan tahta, harta dan menuruti semua keinginan Wiralodra. Namun Wiralodra menolaknya. Pertengkaran pun kembali terjadi. Wiralodra yang sakti memenangkannya. Sang Dewi lalu melarikan diri. Seketika Wiralodra ingat, sang Dewi itulah petunjuk yang diberikan oleh Kyai Malih Warna.

Wiralodra dan Ki Tinggil mengejar gadis ayu itu dan sampailah mereka di Cimanuk. Babad alas pun dilakukan. Jadilah negeri itu bermana Cimanuk.

Suatu ketika, Ki Tinggil yang dipercaya oleh Wiralodra untuk menjaga Negeri Cimanuk mempersilahkan seorang perempuan untuk ikut bercocok tanam di negeri tersebut. Karena memang begitulah pesan Wiralodra padanya. Siapa pun diperbolehkan singgah dan bercocok tanam di Negeri Cimanuk.

Perempuan itu bernama Endang Darma Ayu. Ia merupakan perempuan cantik dan pandai melakukan apa saja. Dari mulai bercocok tanam hingga ilmu bela diri (silat). Namun semua itu tak berjalan mulus. Ia dianggap membangkang. Ada aturan dan kode etik bahwa ilmu silat hanya boleh dipelajari dan diajarkan kepada kaum ningrat. Namun baginya, siapa pun berhak mempelajarinya.

Kondisi inilah yang memancing amarah Pangeran Guru, Pangeran Palembang. Ia bersama 24 muridnya menyebrang ke tanah Jawa menentang Endang Darma Ayu. Nasib berpihak padaEndang Darma Ayu. Pangeran  guru beserta 24 muridnya meninggal bersamaan.

Peristiwa ini diketahui oleh Wiralodra dan keluarganya. Amarah kembali bergelora. Raja Singalora (ayah Wiralodra)memerintahkan Wiralodra beserta dua adiknya untuk menangkap Endang Darma Ayu dan menghukumnya.

Kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Para lelaki putra Raja Singalodra itu jatuh cinta kepada Endang Darma Ayu. Perjanjian pun dibuat, kalau Endang Darma Ayu kalah terhadap kedua adik Wiralodra dalam pertarungan duel, maka ia harus mau diperistri yang mengalahkan dan kalau ia menang ia berhak memperbudak yang dikalahkan. Dan akhirnya Endang Darma Ayu berhak memperbudak.

Tak sampai di situ. Wiralodra sendiri yang telah jatuh cinta pada Endang Darma Ayu dalam pandangan pertama, ingin masuk dalam perjanjian itu. Namun Endang Darma Ayu menolak. Wiralodra memaksa dan ia kalah oleh jurus ampuh milik Endang Darma Ayu.

Setelah itu, Endang Darma Ayu pergi meninggalkan Negeri Cimanuk. Namun ia berpesan pada Wiralodra, “… hamba janganlah dilupakan…”

Wiralodra menepati janjinya dan mengabadikan nama Endang Darma Ayu. Negeri yang mulanya bernama Cimanuk diganti menjadi Darma Ayu.

Ketika Negeri ini dalam keadaan damai dan tentram, munculnya penjajah yang mereka sebut sebagai orang asing yang dibawa Waduaji dan Nitinegara dari Karawang. Namun Wiralodra tak hanya diam. Ia menyiapkan pasukannya dan mulai berperang melawan penjajah.

Tokoh-tokoh:

Endang Darma Ayu

Wiralodra

Ki Tinggil

Kyai Sidum

Petani (Kyai Malih Warna)

Dewi Rarawana

Pangeran Guru

Pangeran Wisanggeni

Pangeran Bramakendali

Pangeran Bramakusuma

Murid-murid Pangeran Guru

Sultan Cirebon (Sunan Gunung Jati)

Paman Patih

Singalodra (ayah Wiralodra)

Ibu Wiralodra

R. Tanu Jaya

R. Tanujiwa

Wangsanegara

Wangsayudha

Adipati Dipasara

Arya Kemuning

Waduaji

Nitinegara

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan