-->

Lainnya Toggle

Nasib Sastra Berbahasa Indonesia

ribut wijotoOleh: Ribut Wijoto

SASTRA berbahasa Indonesia, hingga tahun 2011 ini, usinya sudah lebih dari seratus tahun. Walau bahasa Indonesia ditahbiskan 28 Oktober 1928, masyarakat telah mempergunakannya jauh sebelum tahun itu. Begitu pula dengan sastra Indonesia, pengarang-pengarang Melayu telah mempergunakannya lebih dari seabad sebelumnya. Semisal oleh Hamzah Fansuri.

Penulis mencoba merunut ulang potensi dan kendala bahasa Indonesia ketika dipergunakan untuk menulis sastra. Selebihnya, penulis juga meneropong kemungkinan problem sastra berbahasa Indonesia di masa depan.

Jika boleh jujur, penggunaan bahasa Indonesia untuk menulis sastra bukannya tanpa persoalan. Sastrawan Indonesia kerapkali dihadapkan pada kendala kultural yang sangat rumit. Lihat saja pengakuan A.A. Navis perihal problem kebahasaan sastrawan Indonesia. Tahun 1972, di Taman Ismail Marzuki yang melegenda, Navis memberikan ceramah bertajuk “Proses Penciptaan”: “Mungkin karena saya tidak banyak bergaul dengan orang-orang yang memakai bahasa Indonesia. Sehingga ketika saya menulis, saya berpikir dalam struktur bahasa Minangkabau, lalu menuliskannya ke dalam bahasa Indonesia”.

Jika dirunut dari sejarahnya, bahasa Indonesia berasal dari lingua franca, bahasa Melayu Pasar. Sejak statusnya dinaikkan menjadi bahasa resmi, bahasa Indonesia memiliki ratusan juta pengguna. Kini, hampir seluruh penduduk kelas menengah Indonesia, termasuk sastrawan, menguasai bahasa Indonesia.

Persoalannya, keintiman berbahasa Indonesia bagi seluruh masyarakat sangat dipertanyakan. Bahasa Indonesia lebih sebagai bahasa resmi daripada bahasa keseharian. Pada perkembangannya, bahasa Indonesia bergerak jauh untuk semakin meninggalkan bahasa-bahasa daerah, bahkan bahasa Melayu.

Situasinya sangat bertolakbelakang dengan masa penjajahan Belanda dan Jepang. Ketika itu, bahasa Indonesia yang resmi masih mengacu kepada data empiris dari bahasa suatu masyarakat penutur; bahasa Melayu yang dipergunakan di Sumatra, terutama Sumatra Barat dan Riau. Sifat-sifat keseharian amat menonjol. Dapat dinyatakan, ketika itu, bahasa Indonesia merupakan “bahasa yang bersifat kultural”.

Tragis, A.A. Navis yang berasal dari Minangkabau (Sumatra Barat) pun, dia kini merasa tidak akrab dengan bahasa Indonesia. Keterputusan terjadi dalam perkembangan bahasa Indonesia. Wujud kemegahan bahasa Indonesia menjadi rapuh dari dalam. Perkembangan bahasa Indonesia selayak nasib  “gadis” dalam ilustrasi puisi Chairil Anwar “gadis manis iseng sendiri”. Bahasa Indonesia yang dimaksudkan sebagai bahasa Nasional, sebagai identitas bangsa, terjebak dalam dimensi kesepian.

Begitulah, bahasa Indonesia mengalami keterputusan dengan masa silamnya sendiri. Karakter dasar bahasa Melayu sedikit demi sedikit terkikis, melemah, dan nyaris pudar. Keterputusan yang dapat ilustrasikan dari pergeseran arti pepatah Melayu “bahasa menunjukkan bangsa”. Ariel Heryanto dalam tulisan “Berjangkitnya Bahasa-bahasa di Indonesia” (Prisma, I tahun XVIII) menyatakan, terjadi perbedaan arti “bangsa” dalam pepatah tersebut. Kata “Bangsa” berarti pemahaman keturunan, dan latar belakang sosialisasi “keluarga” yang memberikan keturunan seseorang. Sekarang, kata “bangsa” dalam pepatah tersebut diartikan sebagai bangsa dalam pengertian politik.  Misalnya bangsa Inggris, Sinegal, Argentina, atau Jerman.

Menurut Ariel, sebenarnya terdapat unggah ungguh atau tingkatan bahasa dalam bahasa Melayu, sama seperti dalam bahasa Jawa yang mengenal adanya kelas “krama inggil” (ragam tinggi), “krama madya” (ragam menengah), dan “ngoko” (ragam rendah). Rustam Effendi ketika menuliskan bait-bait puisi, bukan beta bijak perperi, pandai menggubah madahan syair, bukan beta budak negeri, mesti penuhi undangan mair, saat itu, dia sedang menggunakan ragam bahasa Melayu tinggi. Ragam bahasa yang hanya layak dimiliki oleh keluarga kerajaan dan masyarakat kelas menengah-atas. Di situ, bahasa menandai kelas sosial.

Kondisi berbeda terjadi pada bahasa Indonesia. Oleh semangatnya yang nasionalis dan kebersamaan, bahasa Indonesia diarahkan pada sifat universalitas. Bahasa tidak mencerminkan kelas sosial, kalaulah ada, itu hanya pada beberapa kata sapaan. Sebuah bahasa ideal. Bahasa yang dipersiapkan untuk “persamaan nasib sosial” bagi masyarakat penggunanya. Bahasa Indonesia memang bahasa ideal. Sebuah bahasa yang perkembangannya teratur dan terkontrol. Sebuah bahasa ciptaan; diciptakan oleh lembaga Pusat Bahasa. Pemerintah.

Masyarakat sekadar diposisikan sebagai pengguna. Hak-hak penentuan dan pergeserannya karakter dibatasi undang-undang. Pemerintah pun perlu repot-repot menandaskan “bahasa yang baik dan benar” atau “Ejaan yang disempurnakan” (EYD). Pernah juga, kebijakan pemerintah dikeluhkan oleh masyarakat. Dua tahun pertama pemberlakuan EYD (1972), media massa disesaki oleh kritik dan ketidaksenangan masyarakat. Alasan yang diajukan seputar ketidakbiasaan, penyayangan karena Bahasa Indonesia kehilangan karakter ejaan, dan yang paling pokok alasan dana. Penggantian ejaan berarti penggantian seluruh buku atau tulisan cetak yang tertulis dalam ejaan lama. Masyarakat keberatan dengan besarnya biaya yang mesti ditanggung.

Namun seperti dugaan semua orang, sosialisasi (namanya “sosialisasi” dan bukannya “pemaksaan”) pemberlakuan EYD berjalan dengan langkah tegap tak tertahan. Masyarakat tinggal memakai, pemerintahlah yang memproduksi, mengoperasikan, dan menafsirkan bahasa Indonesia. Tidak hanya EYD, pemerintah juga mengurusi tata cara serapan. Kata-kata bahasa asing atau bahasa daerah yang layak menghuni bahasa Indonesia.

Dan yang paling riskan, bahasa Indonesia diimunkan dari tema-tema khusus. Tema-tema yang dianggap mempersoalkan kesukuan, agama, ras, golongan. Aturan bahasa yang “kaku dalam operasional” namun “remang-remang dalam batasan”. H.B. Jassin pernah dikenai 1 tahun penjara karena membela cerpen yang dianggap meresahkan umat (kasus cerpen “Langit Makin Mendung” karangan Ki Panjikusmin).

Kondisi saat ini, gramatikal yang dilesakkan dalam Bahasa Indonesia, seluruhnya dilakukan oleh pemerintah, berpengaruh besar bagi kepemilikan dan keintiman bahasa. Masyarakat menjadi asing terhadap bahasa. Bagi masyarakat, bahasa Indonesia seperti berputar-putar dalam kepala sendiri. Bergerak semakin jauh dari kehidupan masyarakat, semakin jauh dari kondisi bahasa kultural. Bahasa Indonesia menjadi rapuh dari dalam. Bahasa Indonesia yang asyik iseng sendiri. Sastra Indonesia yang iseng sendiri(?).

Sulit memastikan keterkaitan langsung antara sastra dan bahasa. Satu yang tidak bisa dipungkiri, sastra memanfaatkan bahasa sebagai materi pokok. Patut pula ditengok pikiran F.W. Bateson dalam buku English Poetry and the English Language (Oxford, 1934, hal. vi): “Tesis saya menyatakan bahwa pengaruh zaman pada sebuah puisi tidak dilihat dari penyairnya, tapi dari bahasa yang dipakainya. Sejarah puisi yang sebenarnya, menurut saya, adalah sejarah perubahan jenis bahasa yang dipakai dalam beberapa puisi yang ditulis secara berurutan. Dan hanya perubahan-perubahan inilah yang merupakan akibat dari tekanan sosial dan kecenderungan intelektual”.

F.W. Bateson percaya, bahasa berpengaruh besar terhadap karya sastra. Misalnya pengaruh bahasa pada puisi; dasar irama tiap bahasa berbeda-beda. Irama dalam Bahasa Inggris sangat ditentukan oleh tekanan kata, kuantitas menyusul sebagai faktor penentu kedua, dan pembatasan jumlah kata juga memainkan peranan.

Perbedaan irama antara kalimat yang terdiri dari satu suku kata, dan kalimat yang terdiri dari lebih satu suku kata, sangat menonjol. Di Cekoslowakia, batas jumlah suku kata adalah dasar irama, yang diikuti oleh tekanan yang teratur. Kualitas hanya merupakan variasi yang kadang-kadang dipakai. Di Cina, tinggi rendah suara adalah dasar irama; sedangkan di Yunani, kualitas merupakan prinsip untuk menyusun puisi. Tinggi rendah suara dan pembatasan jumlah kata merupakan unsur variasi. Sastra bahasa Melayu pun senantiasa memperhitungkan pola rima dan jumlah suku kata. Pantun, talibun, bidal, syair, mantra, gurindam dua belas; semuanya memiliki bentuk rima yang berbeda-beda.

Lantas, bagaimanakah posisi bahasa dalam sastra Indonesia? Apakah terjadi keterputusan juga dengan sastra tradisional? Penyair Indra Tjahyadi pernah menuliskan puisi yang apik. Ziarah atas burung-burung, cahaya dari rasa sakit yang bertumpuk, yang baru digali dari setiap kubur, seperti ikalan-ikalan topan, atau impian seribu gadis, dan pelacur. Puisi “Katastrope” dari antologi Manifesto Surrealisme (FS3LP Surabaya, 2002).

Indra Tjahyadi telah melakukan produksi bahasa secara maksimal. Entah, dari belahan tradisi mana asal puitik Indra Tjahyadi. Puisi tradisional yang paling mungkin untuk mendekati adalah mantra. Itu pun dengan berbagai reduksi dan penambahan aspek. Atau, Indra Tjahyadi justru sama sekali tidak mengambil dari tradisi mantra. Bisa diartikan, puisi “Katastrope” tidak memiliki pijakan sastra tradisional.

Dirunut dari padanannya dengan dunia yang dibangun, puisi “Katastrope” juga sangat tidak sesuai dengan kenyataan empirik. Segalanya datang dan pergi tanpa bisa dikenali. Satu-satunya fakta yang tersisa dalam puisi Indra Tjahyadi ialah fakta bahasa. Ditinjau dari segi kategori bahasa Indonesia, puisi tersebut benar; larik-larik yang menggunakan kata benda, kata kerja, kata sifat, kata sandang.

Secara fungsi bahasa Indonesia, puisi Indra Tjahyadi tidak memenuhi persyaratan minimal sebuah kalimat, subyek + predikat; larik-lariknya hanya berposisi sebagai subyek, predikat tidak ada. Ditinjau dari segi peran, puisi “Katastrope” juga tidak sesuai dengan tindak bahasa yang benar, pelaku dan penyertanya tidak ada. Hanya saja, seluruh larik-lariknya menggunakan kata dari bahasa Indonesia. Segi kategori-nya pun benar. Meski tidak menemukan paduannya dalam realitas, dunia dalam puisi Indra Tjahyadi bisa dibayangkan oleh pembaca. Aspek tema menyusul di pembacaan selanjutnya.

Teknik itu menempatkan puisi “Katastrope” dalam wilayah fantasi, puisi fantasi. Puisi yang hanya bersandar pada fakta bahasa, tanpa acuan realitas, atau “puisi membentuk realitas” tersendiri. Realitas puisi yang tidak perlu berurusan dengan realitas empirik. Ini berseberangan dengan harapan Nirwan Dewanto tentang sastra ideal. Pada buku Senjakala Kebudayaan, seraya merujuk puisi Octavio Paz dan novel Gabriel Garcia Marquez, Nirwan menegaskan, sastra mesti “mengimajinasikan realitas” dan bukannya “menghancurkan realitas”.

Nirwan benar, puisi Paz dan novel Gabriel memang bersandar pada realitas Amerika Latin, dan oleh sandaran yang diolah secara cerdas, dua sastrawan tersebut layak memperoleh hadiah Nobel. Pernyataan Nirwanlah yang bermasalah, ialah sastra mesti seperti Paz dan Gabriel. Mengedepankan sastra imajinasi dengan serta merta merendahkan sastra fantasi.

Bagaimana dengan Labirin Impian karangan Jorge Luis Borges, karya sastra yang amat berciri fantasi, teks-teks yang amat menghancurkan realitas. Dan bersandar pada puisi Indra Tjahyadi yang lugas namun beringas, bisa jadi, bahasa Indonesia berpotensi besar menghasilkan sastra fantasi yang bermutu. Bisa jadi juga, bahasa Indonesia kurang berpotensi menghasilkan sastra imajinasi. Bahasa Melayu justru berposisi sebaliknya, sifat kultural-keseharian yang diemban oleh bahasa tersebut memungkinkan lahirnya sastra yang mengimajinasikan realitas.

Kembali ke jejak sejarah bahasa Indonesia. Para sastrawan Indonesia sebelum tahun 1950-an patut bersyukur. Bahan mentah sastra, saat itu, bahasa Melayu, belum terlalu direcoki oleh aturan-aturan. Pembakuan bahasa yang dilakukan Ch. A. van Openhusyen (1856-1917) dalam buku Spraakkunst van het Maleisch yang cemerlang, tidak lebih dan tidak kurang, berasal dari pendataan bahasa tulis dan terutama bahasa lisan yang dipergunakan oleh masyarakat Melayu. Openhusyen tidak melesakkan aturan-aturan aneh yang membuat bahasa Melayu berlainan dengan bahasa keseharian.

Untuk menuliskan karya sastra, pengarang Nusantara tinggal memilih salah satu ragam, bahasa Melayu tinggi atau bahasa Melayu rendah. Kedua telah mengandung unsur asosiatif yang tebal. Bahasa yang dibentuk oleh kata-kata bermuatan kultural-mitologis. Hampir setiap kata merangsang kesan kejiwaan, transendensi, kesenyapan, atau traumatik ingatan. Kata-kata memrepresentasikan tuah. Ini disebabkan; bahasa Melayu difungsikan, dipercaya, dan dihidupi masyarakat. Bahasa sebagai produk kebudayaan. Bahasa Melayu dipergunakan dalam bahasa tulis biasa pun hasilnya sudah cukup memberi kesan. Sastrawan tinggal menyisipkan gagasan atas bahasa.

Persoalannya, kondisi bahasa Melayu jauh berbeda dengan bahasa Indonesia. Usaha Pusat Bahasa yang mencanangkan “satu kata satu makna” menyudutkan bahasa sekadar media informasi. Tidak ada kesan, tanpa asosiasi, kering, dan kurang menyiratkan aspek kejiwaan. Bahasa yang jauh dari kenyataan empirik. Bahasa ditekankan sebagai alat komunikasi daripada sebagai produk kebudayaan. Karya sastra fantasi, yang secara sifat, jauh dari kenyataan menemukan “wilayah subur” bahasanya. Tentu bukan tanpa jebakan, mulut-mulut kegenitan sudah siap menganga dan siap melumat karya sastra menjelma karya sampah.

Padahal jika mau belajar kepada Borges, sastra fantasi memang dimaksudkan miskin rujukan jiwa dan realitas. Karya sastra menekankan fakta bahasa, dan bukannya fakta empirik. Namun, fakta bahasa juga berarti fakta tradisi sastra. Karya-karya Borges sarat dengan mitologi dan pola-pola tradisi sastra yang telah pernah ada. Mitologi dan tradisi dipertaut-silangkan sampai menemukan bentuk baru. Pada cerpen “Jalan Setapak Bercecabang”, Borges mengadopsi kerumitan tradisi sastra Cina dan dipersilangkan dengan kejutan-kejutan naratif yang berpangkal dari tradisi sastra Populer-Detektif. Apakah sastra fantasi Indonesia sudah cukup mengeksplorasi khasanah tradisi sastra? Pendekatan cermat masih perlu lakukan.

Keintiman anara bahasa Indonesia dengan masyarakat penggunanya, saat ini, tampaknya terus mendapat ujian. Ini bisa terjadi karena imbas globalisasi dan percepatan informasi.

Saat ini, pada keluarga kelas menengah ke atas, saat ini, orang tua lebih suka mendidik anaknya untuk berbicara bahasa Inggris. Dalam kehidupan kesehariannya, orang tua membiasakan anaknya berbincang-bincang bukan dengan bahasa Indonesia tetapi dengan bahasa Inggris. Dalam bidang pendidikan formal pun, orang tua memilih memasukkan anaknya ke sekolah yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. Lihat saja, dalam dua tahun terakhir, orang tua rela mengeluarkan biaya lebih besar demi memasukkan anaknya ke sekolah berstandar internasional.

Situasi ini memiliki pengaruh besar terhadap masa depan sastra berbahasa Indonesia. Mengapa? Jelas sekali, anak menjadi lebih pandai berbahasa Inggris daripada berbahasa Indonesia. Tidak hanya pandai, anak terkondisikan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama. Sebagai bahasa ibu. Tidak hanya saat mengungkapkan pendapat, dalam bermimpi pun, anak akan berbicara dan berpikir dalam bahasa Inggris. Jika sudah begini, ke depan, tidak bisa diharapkan mereka akan mampu dan mau menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia.

Sementara itu, kondisi berbeda terjadi dalam keluarga kelas menengah ke bawah. Keluarga etnis Jawa misalnya. Orang tua membiasakan anaknya berbicara dalam bahasa Indonesia. Bukan dalam bahasa Jawa. Alasannya sederhana, agar anak bisa lebih maju dibanding orang tuanya. Biasanya, orang tua berbicara sesama mereka masih dalam bahasa campuran, Jawa-Indonesia. Namun kepada anaknya, orang tua selalu menggunakan bahasa Indonesia.

Kondisi berbeda ini lambat laun akan berubah. Tidak hanya keluarga kelas menengah ke atas yang membiasakan anaknya berbicara bahasa Inggris dalam keseharian. Keluarga kelas menengah ke bawah pun akan tergerak untuk melakukan pilihan yang sama. Mengapa? Soalnya, keluarga kelas yang lebih bawah secara psikologis menganggap cara hidup kelas di atasnya sebagai lebih maju. Artinya, pilihan keluarga kelas menengah ke atas bakal menjadi tren. Menjadi sesuatu keharusan.

Secara alamiah, ke depan, ketika anak-anak ini telah remaja bahkan dewasa, kesusastraan Indonesia tidak lagi ditulis dalam bahasa Indonesia. Kesusastraan akan ditulis dalam bahasa Inggris. Sastrawan yang masih menulis dalam bahasa Indonesai dapat digolongkan “memelihara” atau “mempertahankan” budaya bangsa. Tentu saja jumlahnya minoritas dibanding sastrawan yang menulis dalam bahasa Inggris. Sama seperti kondisi sekarang, beberapa sastrawan masih menulis dalam bahasa daerah. Semisal Jawa, Bali, atau Sunda. Jumlah mereka tidak banyak di antara melubernya sastra berbahasa Indonesia. Ke depan, sastrawan berbahasa Indonesai –tidak kurang tidak lebih- nasibnya akan sama. Marjinal.

Kita tahu bahwa perpindahan bahasa dalam sastra tentu sebuah gejala yang sangat serius. Sebab bahasa adalah kendaraan sekaligus ruh dari sastra itu sendiri. Pengaruhnya bisa sangat gawat. Bisa mengarah ke positif bisa pula negatif. Oleh karenanya, pengaruh-pengaruh tersebut harus segera diantisipasi. Setidak-tidaknya pengaruhnya dikenali. Terutama pengaruh buruknya.

Imbas paling menakutkan, ke depan, karya sastra berbahasa Indonesia hanya akan mendiami rak-rak museum. Sama seperti karya sastra para pujangga Jawa. Kehilangan pembacanya, penulisnya, dan kehilangan aktualitasnya.

Satu fakta yang patut dicermati, sejarah sastra Indonesia memiliki keterputusan fundamen dari sastra lama. Sastra Indonesia sekarang dipahami sebagai sastra modern hasil adopsi dari sastra dunia (Barat). Maka muncul bentuk puisi, cerpen, novel, maupun naskah drama. Kesemuanya bukanlah pencanggihan atau hasil pengembangan dari sastra lama. Kesemuanya muncul secara alamiah sebagai respon dari perkembangan zaman.

Lantas, bagaimana mengantisipasi perubahan besar tersebut? Ada beberapa langkah yang harus ditempuh.

Pertama, perubahan ke arah sastra berbahasa Inggris tidak bisa dihindari. Penyebabnya, pelan tapi pasti, masyarakat Indonesia akan beralih dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris.

Kedua, sastrawan sekarang harus mulai belajar menulis dalam bahasa Inggris. Artinya, sekalian saja kondisi 25 tahun ke depan tersebut dihadirkan saat ini. Sastrawan tidak menulis untuk tahun sekarang. Tetapi, sastrawan menulis untuk zaman di masa depan. Toh, di Indonesia, media massa yang menerima karya sastra berbahasa Inggris sudah ada. Atau kalau memang percaya diri, karya berbahasa Inggris tersebut dikirimkan ke media massa di luar negeri.

Negara tetangga kita pun, Malaysia dan Singapura, keduanya telah memulai tradisi penulisan sastra berbahasa Inggris. Daripada semakin terlambat, tradisi sastra berbahasa Inggris harus dimulai dari sekarang.

Ketiga, harus ada usaha yang getol untuk menerjemahkan karya sastra berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Kegiatan ini tidak bisa ditunda karena senyampang para sastrawannya masih hidup. Senyampang masyarakatnya masih terbiasa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.

Jika sampai terlambat, jumlah orang yang ahli bahasa Indonesia keburu langka. Padahal jumlah karya sastra yang harus diterjemahkan begitu bejibun. Bayangkan saja, tiap minggu puluhan koran menayangkan puisi atau prosa baru. Tiap minggu, selalu terbit buku kumpulan puisi baru. Bila ditotal, dalam satu abad usia sastra Indonesia, karya yang diproduksi bisa sampai ratusan juta judul. [but]

*)Beritajatim.com, 1 September 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan