-->

Kronik Toggle

Bedah Gagasan Novel 'Mimpi Rasul' di Balai Pemuda

Surabaya – Lelaki itu bernama Umar. Kelahiran Jakarta, tidak lagi memiliki ayah dan ibu, tinggal bersama ayah tirinya serta dua adik perempuannya, Ati dan Putri. Suatu malam, Rasulullah hadir dalam mimpinya, memberi sabda: “Hati-hatilah kepada dua hal: harta dan perempuan.”

Dan demikianlah, rentetan cobaan yang lembut, yang sering membuat Umar tidak menyadarinya, begitu deras mengalir pada sungai hari-harinya. Dua perempuan, Almaida yang berharta dan Sonia yang janda, datang mengujinya. Juga rezekinya yang begitu dimudahkan oleh-Nya. Semuanya nyaris menenggelamkannya ke dalam lumpur kenistaan.

Ilustrasi tersebut merupakan salah satu bagian kecil dari novel ‘Mimpi Rasul’ (Kisah Bibir yang Ingin Dicium Rasulullah Saw) karangan Yusuf An, novelis kelahiran Wonosobo, 1984. Sebuah novel yang banyak memberi ilustrasi tentang kecintaan dan kerinduan terhadap junjungan umat Islam, yakni Rasulullah.

Gagasan-gagasan dalam novel terbitan Diva Press (2011) bakal dibedah dalam acara Halte Sastra, Dewan Kesenian Surabaya (DKS) di Balai Pemuda, Jumat (30/9), pukul 19.30 WIB. Pembedah adalah Yusuf An (pengarangnya sendiri) bersama dengan Mashuri (paranormal yang sekaligus Ketua Komite Sastra DK Jatim).

Kemunculan novel ‘Mimpi Rasul’ mendapat sambutan hangat publik sastra. Penyair yang juga ustad asal Sumenep, KH D Zawawi Imron pernah menyatakan, novel Yusuf An membuat hatinya sampai gemetar. “Novel ini mengangkat tema yang sangat dalam, jarang disentuh orang, tetapi dirindukan semua umat,” katanya.

Pujian juga datang dari Wakil Rektor Universitas Sains al-Qur’an Jateng, yakni KH Muchotob Hamzah MM. Menurutnya, novel ini mengangkat persoalan mimpi. Tersajikan seperti mutiara yang menyebar di setiap halaman. Mengokohkan iman dan pastinya menambah kecintaan kepada Rasulullah Saw.

Tidak hanya perihal kedalaman tema, novel karya penulis yang juga penyair ini tajam dalam menggarap estetika. Kritikus sastra asal Yogyakarta, Abdul Wachid BS, menyatakan bahwa penggarapan alur novel membuat pembaca betah untuk membaca. “Ketegangan telah dibangun sejak bagian awal. Pertanyaan demi pertanyaan yang seolah sengaja dimunculkan tak ayal membuat pembaca tergoda untuk terus membaca,” katanya.

Meski berisi ajaran-ajaran Islam, novel tidak terjebak dalam doktrin. Sebaliknya, ajaran tersebut membaur dengan peristiwa dan ilustrasi sehingga membentuk cerita yang segar. “Jusuf An piawai meramu cerita dan peristiwa, menghadirkan dialog-dialog segar dan konflik yang bersusun-susun, sehingga novel ini hidup dan mengejutkan,” katanya.

Kesemua gagasan dan estetika novel tersebut bakal dibedah dalam acara Halte Sastra, kerja bareng DKS dengan DK Jatim. Ketua Umum DKS Sabrot D Malioboro menuturkan, pihaknya memang mengakomodasi hasil karya cipta para sastrawan.
“Melalui Halte Sastra, kita menjadikan DKS sebagai ajang unjuk karya. Fokus kita sastrawan muda di Surabaya dan sekitarnya. Meski begitu, kita tidak menutup diri kepada sastrawan mapan. Juga sastrawan di luar Jawa Timur. Harapannya, diskusi bulanan yang sudah berlangsung sejak dua tahun lalu mampu membuat iklim sastra di Surabaya semakin kondusif,” tuturnya. [but]

*)Beritajatim, 30 September 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan