-->

Kronik Toggle

Arsitek Tjong Tak Sempat Selesaikan Buku Chengho

Jakarta – Insinyur Wastu Pragantha Zhong atau kerap disapa Pak Tjong dikenal sebagai arsitek yang tidak banyak bicara. Kesehariannya, dosen senior Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Universitas Tarumanegara itu kerap membaca pelbagai buku.

“Buku terakhir yang dibacanya tentang Laksamana Cheng Ho. Dia tidak sempat menyelesaikan buku itu,” kata anak sulung Pak Tjong, Jeanny Pragantha, di rumah duka RS Dharmais, Jakarta Barat, Senin 5 September 2011.

Pak Tjong dikenal sebagai arsitek pemugaran Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat, pada 1971-1974 dan Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Di usianya yang ke-76 tahun, Pak Tjong mengembuskan napas terakhir di RS Graha Kedoya, Jakarta Barat, pada Ahad, 4 September kemarin.

Sebelum meninggal dunia, Pak Tjong sempat menjalani operasi jantung di satu rumah sakit di Malaka, Malaysia, pada 10 Agustus lalu. Usai operasi, kata Jeanny, kondisi sang ayah langsung membaik. “Sehari setelah operasi Papi langsung masuk ruang perawatan dan ngotot turun dari kasur. Dia merasa sehat.”

Sayang, kondisi stabil itu hanya sebentar. Pada 13 Agustus, Pak Tjong kembali masuk ke ruang intensive care unit atau ICU. Sejak saat itu dia tidak pernah lagi masuk ke ruang perawatan. “Bahkan dua-tiga kali kondisinya di bawah normal,” ujar Jeanny.

Merasa tidak ada perkembangan dari kondisi Pak Tjong, dokter menganjurkan keluarga membawanya kembali ke Jakarta. Pada 31 Agustus, arsitek lawas itu pulang ke Indonesia dan langsung masuk ke ruang ICU RS Graha Kedoya. Awalnya, kata Jeanny, Pak Tjong masih mengenali teman-temannya yang berkunjung ke rumah sakit. “Dia bahkan sempat bertemu Pak Ciputra.”

Namun pada 3 September dia sudah tidak bisa lagi berkomunikasi. “Bahkan tanggal 4 September Papi sudah tidak sadar, napasnya berat,” tutur Jeanny.

Di mata anak-anaknya, lelaki dari kedua belas bersaudara itu cukup pendiam, tapi sangat demokrat dalam mendidik. Dia memberi kebebasan kepada empat anak dan kelima cucunya dalam beragama dan memilih jalur pendidikan. Meski Pak Tjong memenuhi rumahnya dengan buku-buku arsitek, dia tidak memaksa anak-cucunya mengikuti jejaknya.

“Kami dibebaskan memilih. Tapi saat cucunya yang paling besar memutuskan kuliah desain, terlihat Papi senang. Bahkan sempat memberi kursus singkat ke cucunya.”

Hal terakhir yang Jeanny ingat, pada malam tahun baru Tionghoa atau Sin Cia, Pak Tjong sempat memanggil satu-satu kelima cucunya. Selain memberi angpao, kakek itu memberi nasihat ke keturunannya tersebut. “Tidak pernah Papi begitu. Biasanya dia memberi angpao ramai-ramai, tanpa ada nasihat apa-apa,” ujar Jeanny seraya menahan air matanya.

Menurut rencana, Pak Tjong akan dimakamkan di TPU Petamburan, Kamis 8 September, pukul 12.30 WIB.

CORNILA DESYANA

*)Tempointeraktif, 5 September 2011 dengan judul asli “
Arsitek Tjong Sempat Dioperasi Jantung”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan