-->

Kronik Toggle

Sejumlah penulis mulai kampanyekan Gerakan Indonesia Membaca Sastra (GIMS)

Sejak duduk di bangku sekolah, generasi muda Indonesia umumnya sudah dikenalkan pada karya sastra. Namun menurut Olga Lidya, tak banyak diantara mereka yang betul-betul membaca karya sastra klasik Indonesia. Begitu juga yang dialami olehnya. Dia mengaku sempat kesulitan memahami dan membaca karya milik Kwee Tek Hoay yang berjudul Drama di Boven Digoel.

“Bahasanya kan ejaan lama ya, kata-katanya juga tidak umum, awalnya susah membacanya, jadi memang saya harus memahami tokoh-tokoh yang ada disitu,” kata Olga usai membaca di Kopitiam Oey kawasan Sabang, Jakarta Pusat, Sabtu 6 Agustus 2011.

Tak hanya Olga yang didaulat untuk membacakan karya milik sastrawan Melayu Tionghoa tersebut, Indah Ariani, Rosiana Silalahi dan si empunya Kopitiam Bondan Winarno pun tampak asyik berkutat dengan naskah sastra di tangan mereka.

Kegiatan membaca sastra oleh sejumlah artis dan penulis ini sekaligus sebagai menjadi penanda dimulainya Gerakan Indonesia Membaca Sastra (GIMS).

GIMS sendiri bermula saat beberapa penulis perempuan seperti Ayu Utami melihat beberapa potensi dan kendala kelas menengah Jakarta. Kendala pertama yang ditemukan pada masyarakat kelas menengah adalah mereka umumnya menyukai seni tapi tak sepenuhnya punya waktu membaca.

Kendala kedua, kelas menengah memiliki surplus dan ingin menyumbang atau terlibat langsung. Ketiga, mal atau kafe cenderung menjadi ruang publik yang dipilih bagi kelas menengah Jakarta.

Karena itulah terbit gagasan untuk mengadakan pembacaan secara beramai-ramai dan sukarela atas sebuah buku di kafe dan direkam untuk diproses sebagai buku audio.

“Buku audio itu bisa langsung digunakan oleh para tuna netra di yayasan, yang pada dasarnya memiliki kendala untuk membaca sastra, dan kami berharap bisa dijual juga yang hasilnya juga disumbangkan untuk Yayasan Mitra Netra,” kata novelis Ayu Utami yang ikut menggagas GIMS.

Pada tahun pertamanya, GIMS menargetkan 12 buku-audio karya sastra modern-klasik Indonesia, terutama yang berbicara tentang ke-Indonesiaan. Setiap kafe yang diajak bekerjasama, nantinya akan diberi komitmen untuk satu judul buku. Proses pembacaan buku tersebut juga akan dilakukan secara terjadwal. Yang menarik, pembacaan karya sastra ini dapat dilakukan oleh siapapun yang mengunjungi kafe tersebut.

“Kalau jadi audio-book kan, sastra itu bisa didengar kapan saja, mudah-mudahan 12 karya itu bisa terealisasi jadi serial,” kata Ayu.

Meskipun tak ada proses seleksi khusus untuk pembaca, namun tentunya pembuatan buku audio ini akan melalui proses editing. Kegiatan GIMS ini masih akan terus berlangsung dengan terjadwal. “Pada dasarnya ada dua target, mengajak orang untuk rame-rame baca dan yang kedua membuat audio-book,” imbuhnya.

• VIVAnews 7 Agustus 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan