-->

Ruang Toggle

Secret Annex: Menyimak "Bisikan" Anne

Oleh: Brigitta Isworo Laksmi

”Suatu hari perang yang mengerikan ini akan berakhir. Akan tiba saatnya ketika kita kembali menjadi manusia dan bukan hanya menjadi Yahudi! Kita tidak akan bisa hanya menjadi orang Belanda, atau hanya menjadi orang Inggris, atau apa pun, tetapi kita akan juga menjadi orang Yahudi. Dan saat itu, kita ingin menjadi.”

Kutipan dari buku harian Anne Frank yang dituliskannya pada 9 April 1944 itu—sekitar empat bulan sebelum dia dan semua penghuni Secret Annex ditangkap tentara Nazi—tanpa basa- basi langsung memerangkap mata saat kita memasuki ruang pertama dari Anne Frank House—museum dari bekas tempat persembunyian keluarga Otto Frank.

Sabtu tengah hari itu, gerimis mengguyur Amsterdam, Belanda. Suasana kota terasa muram. Hari itu tepat sehari sebelum ulang tahun Anne Frank yang ke-82 apabila dia masih hidup. Antrean untuk masuk ke rumah di sudut jalan itu mengular sekitar 17 meter. Setelah lebih dari setengah jam mengantre, kami akhirnya masuk ke bangunan di Prinsengracht 263, Amsterdam, yang diresmikan tahun 1960 itu.

Menapaki ruang-ruang sempit di lantai dua, yang berujung pada lantai tiga bangunan tambahan (annex) di belakang bangunan, adalah menapaki sejarah kekejian umat manusia. Ada yang terasa mengerut di dada saat membayangkan bagaimana mereka yang bersembunyi di Secret Annex harus selalu “berbisik” dan berjalan berjingkat agar para pekerja kantor di lantai di bawahnya tak mengetahui keberadaan mereka di loteng itu.

”Kami harus berbisik dan melangkah pelan-pelan pada siang hari, kalau tidak orang-orang di gudang akan mendengar kami,” tulis Anne Frank pada 11 Juli 1942. Kutipan ini pun terpampang di dinding. Kalimat itu terasa mencengkam, menyiratkan rasa ketakutan yang pekat. Setiap hari setelah pukul 07.30, Otto Frank harus di ruang keluarga. Tak boleh ada air mengucur, tidak boleh berjalan-jalan, tidak boleh mengguyur toilet, atau suara apa pun. Senyap. Ini dituliskan Anne Frank, 6 Agustus 1943.

Otto Frank, ayah Anne, membawa keluarganya yang terdiri dari istrinya, Edith Frank-Holländer; dan anak-anaknya, Margot yang lahir tahun 1926 dan Anne hijrah ke Belanda tahun 1933 setelah pada Januari 1933 Hitler naik ke puncak pimpinan melalui kemenangan Partai Pekerja Sosialis Nasional Jerman (NSDAP) yang anti-Yahudi.

”Dunia di sekitarku runtuh … aku harus menanggung akibatnya dan meskipun ini teramat dalam melukaiku, aku menyadari Jerman bukan duniaku dan aku meninggalkannya untuk selamanya,” demikian Otto Frank seperti dikutip dalam a History for Today Anne Frank yang diterbitkan Anne Frank House.

Otto Frank kemudian memiliki dua perusahaan, yang pertama Opekta—yang menjual bahan pembuat selai, dan yang kedua Pectacon yang berubah menjadi Gies & Co yang memproduksi bumbu daging. Secret Annex yang kemudian menjadi tempat persembunyian Otto dan keluarga serta teman-temannya dibangun di atas kantor perusahaan tersebut.

Minggu yang menentukan

Hari itu hari Minggu, 5 Juli 1942. Pukul 3 siang. Seorang polisi mengetuk pintu rumah. Edith Frank membukakan pintu dan menerima selembar kartu. Isi kartu: Margot Frank harus melaporkan diri ke SS (SchutzStaffel) atau Nazi Jerman.

Otto tidak mengulur waktu. Senin 6 Juli 1942 keluarga Otto Frank mulai bersembunyi di loteng bangunan tambahan di belakang—bagian ini kemudian disebut sebagai Secret Annex. Bersama mereka juga bersembunyi Hermann van Pels dan Auguste van Pels bersama anak mereka, Peter dan Fritz Pfeffer.

Kehidupan mereka di Belanda sudah mulai sulit sejak 1940 ketika pasukan Jerman masuk ke Belanda. Kebebasan kaum Yahudi mulai dibatasi. Yahudi harus menyematkan bintang kuning (besar), Yahudi harus menyerahkan sepedanya ke pemerintah, Yahudi dilarang berada di jalan raya, Yahudi dilarang mengunjungi kaum Kristen, Yahudi bersekolah di sekolah Yahudi, dan banyak pembatasan lainnya. Maka orang Yahudi tidak melakukan ini dan dilarang berbuat itu. Anne Frank menuliskan itu pada buku hariannya, tertanggal 20 Juni 1940.

Kecemasan, kegembiraan kecil, dan permenungan Anne Frank tersaji nyata dalam lorong-lorong sempit ruangan-ruangan di Secret Annex yang warna dindingnya dominan kuning telur. Sayang bahwa tak ada lagi perabot dalam ruang-ruang itu karena bangunan tersebut sebenarnya sudah nyaris dihancurkan.

Anne Frank yang berwatak periang, tetapi sekaligus perasa itu berusaha mempertahankan kegembiraannya dengan memasang gambar-gambar bintang film dan juga tokoh kerajaan seperti keluarga Kerajaan Belanda, putri Elizabeth dan Margaret dari Kerajaan Inggris. Dia mengguntingnya dari majalah film yang didapatnya dari Victor Kugler. Kugler menjabat direktur pada perusahaan Otto karena ketika itu orang Yahudi dilarang memiliki usaha.

Mereka dibantu oleh karyawan kantor yang menyuplai makanan, surat kabar, dan majalah. Miep Gies bertutur dalam suatu wawancara, ”Otto menarik napas dan bertanya, ’Miep kamu mau bertanggung jawab menjaga kami saat kami bersembunyi?’ ’Tentu,’ jawab saya. Saya bukan pahlawan. Tidak ada yang istimewa tentang diri saya. Saya hanya melakukan apa yang diminta dari saya dan tampaknya hal itu perlu pada waktu itu.” Meski bersembunyi, Otto masih memberi konsultasi soal usahanya, Pada malam hari, Margot dan Anne kadang-kadang membantu beberapa pekerjaan kantor.

Rasa cemas, ketakutan, kegembiraan yang muncul dari kejadian-kejadian kecil, semua terekam di lorong-lorong sempit dan ruang-ruang muram Secret Annex. Dan rangkaian kengerian yang tertahan itu berakhir ketika mereka semua ditangkap Nazi pada 4 Agustus 1944, tiga hari setelah terakhir kali Anne Frank menulis di buku hariannya. Dan kisah Anne Frank berakhir ketika dia diketahui meninggal di Bergen-Belsen, Jerman, Maret 1945, akibat tifus, hanya beberapa hari setelah Margot meninggal dunia. Kisah Anne berakhir…, kaki menapaki lorong Secret Annex ke pintu keluar. Di luar, sore itu Amsterdam masih disaput mendung.

Kisah Secret Annex adalah ”kisah Anne Frank” yang dia tuturkan kepada Kitty—buku harian pertamanya ini. Pada 29 Maret 1942 Anne Frank mendengar pengumuman dari radio Inggris bahwa seusai perang semua buku harian akan dikumpulkan. Dan, dia pun mulai mengedit buku hariannya. Buku hariannya kemudian disimpan Miep Gies yang kemudian memberikannya kepada Otto Frank—satu-satunya yang selamat dari Nazi dari delapan orang yang bersembunyi di Secret Annex. Kisah perjuangan melawan ketakutan di Secret Annex ini telah menyentuh jutaan manusia. Buku Anne Frank edisi definitif adalah hasil penyusunan yang kelima kalinya dan sudah menyebar di 65 negara.

Sumber: Kompas, 25 Agustus 2011

Foto: http://jeffwerner.ca

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan