-->

Tokoh Toggle

Radhar Panca Dahana, Rumah Tempat Berpulang

Oleh: Aryo Wisanggeni

Filosofi poci mengawali obrolan tentang rumah dengan budayawan Radhar Panca Dahana. Obrolan berlangsung di ruang tamu sebuah rumah sejuk di Pamulang, Tangerang Selatan.

Dinding ruang tamu dengan beberapa lukisan, sofa panjang, dan sebuah meja menemani sejumlah poci tanah liat beraneka bentuk yang terpajang di meja kecil dan lemari kaca.

”Kalau ingin menikmati nikmatnya teh poci, carilah poci yang sudah berkerak teh. Syukur-syukur yang sudah dipakai 25 tahun sehingga jika diisi air panas saja sudah menjadi teh. Jangan mengaduk teh yang sudah dituang ke cangkir tanah liat. Pakailah gula batu di dalam gelas, biarkan saja. Karena tehnya tidak diaduk, akan terasa pahit dulu, manis kemudian. Hidup itu seperti itu,” kata Radhar tertawa.

Poci itu adalah pintu masa lalu Radhar ketika menjalani sebuah masa di mana, katanya, maqom-nya sebagai manusia adalah melakukan perjalanan ketika muda. Ketika masih kelas 2 SMP, pada 1978 Radhar meninggalkan rumah orangtuanya di Lebak Bulus, Jakarta, berpindah-pindah tempat tinggal antara kontrakan para seniman di Puri Mutiara, Cipete, dan Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta.

Dalam pergaulannya di Bulungan itulah ia mengenal kenikmatan teh poci dari sebuah warung milik suami-istri Jawa asal negara Kaledonia Baru. Dari warung tongkrongan seniman dan wartawan itu pula lahir Kelompok Poci Jakarta pada 1981, berikut filosofi pocinya. Pahit di awal, manis belakangan.

”Pulang”

Kalau mau dihubung-hubungkan, kata Radhar, itulah yang ia jalani bersama rumah yang ditempatinya saat ini. Ia membeli rumah tersebut pada 2001, sepulang sekolah dari Perancis. Ia mulai mencicil pada bulan November dan sebulan kemudian ia jatuh sakit, koma lima hari. Sejak 3 Januari 2002, ia harus mulai menjalani cuci darah rutin. ”Ketika itu, sahabat, kakak saya, juga orangtua menyuruh saya menjual rumah itu untuk biaya berobat,” tutur Radhar.

Namun, Radhar kukuh tak mau menjual rumahnya. Rumah itu disebut Radhar sebagai taruhan hidupnya, tempatnya pulang setelah sekian lama ”hinggap” dari satu persinggahan ke persinggahan lainnya, termasuk belajar sosiologi di Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Paris, Perancis. Maka, Radhar pun terus mencicil kredit rumah tipe 80 yang berdiri di atas tanah 190 meter persegi, yang lantas lunas dalam lima tahun.

”Ke rumah inilah saya pulang. Pulang itu penting dalam kehidupan orang Indonesia. Semua orang di perantauan, mau itu orang Jawa, orang Minang, orang Bugis, selalu punya obsesi untuk pulang ke kampung asalnya,” ujarnya.

Dikatakannya, orang Indonesia memiliki satu unsur primordial yang sepertinya sudah hilang karena tersembunyikan kehidupan modern. Orang harus pulang, kembali kepada alam primordialnya di mana ia diteguhkan eksistensi. ”Itu mengapa ziarah ke kubur selalu penting, juga mudik lebaran. Semua orang butuh rumah sebagai kediamannya,” ujar penerima medali Frix de le Francophonie 2007 dari negara-negara berbahasa Perancis.

Rumah yang direnovasi dua tahun lalu itu kini tertata menjadi rumah yang nyaris tanpa sekat antarruang, kecuali kamar pribadi para penghuninya. Dalam suasana rumah yang lapang itu, setiap tamu bisa melihat tembok belakang rumah Radhar yang menjadi area menonton televisi, ruang makan, sekaligus dapur. Sebuah tangga melingkar ada di sana, menjadi jalan menuju loteng yang menjadi perpustakaan.

Laku diam

Rumah bagi Radhar adalah tempat untuk menjalani laku diam, melepaskan diri dari semua hiruk-pikuk kehidupan, mengambil jarak dari segala persoalan. Rumah bagi Radhar adalah ke-diam-an, tempat ia membuka ruang pribadi untuk menangkap gerak dan ”gerak”, mencari roh peristiwa, jiwa berbagai gejala sosial, politik, dan budaya yang ia tuangkan dalam esainya.

Laku diam itu dijalaninya di sebuah meja di sudut ruang tidurnya, persis di samping rak buku kecil yang hanya cukup menampung ratusan buku yang sedang kerap dirujuknya. Meja itulah ke-diam-an di dalam kediaman Radhar.

”Sebenarnya, di mana pun orang bisa diam, di situlah kediamannya. Bisa di sanggar, di hotel, di rumah sendiri. Hanya dengan diam kita tidak luput melihat ’semua yang bergerak’. Dalam diam dari keramaian, kekinian, dan keriuhan, kita kembali ke alam batin spiritual, batin kita akan melihat.”

Ia melanjutkan, hanya dengan batin, orang bisa menemukan roh dari peristiwa yang terjadi. Maka, mereka akan melihat esensi dan makna dalam sebuah peristiwa. ”Esai terbaik saya tidak lahir dari proses analisis logosentrisme Eropa. Esai terbaik lahir dari ke-diam-an. Lahir dari tawa, kegembiraan, kesedihan, tangis, segala yang kita rasakan ketika melihat makna di balik peristiwa,” kata Radhar.

Dari laku diam itu Radhar, antara lain, menulis Menjadi Manusia Indonesia (2002), Jejak Posmodernisme (2004), Inikah Kita: Mozaik Manusia Indonesia (2006), Dalam Sebotol Coklat Cair (2007), Metamorfosa Kosong (kumpulan drama, 2007). Juga kumpulan sajak terbarunya Lalu Aku (2011) yang antara lain memuat sajak ”Kantorku.” Ini bait kedua dan ketiganya:

tak perlu cari apa di sini
melulu keringat katakata
beberapa data segudang fantasi.
sedikit slogan selebihnya dusta.

tak ada musik bila kaumau
desah malam plus jantung terengah
jadi melodi
hidup yang gerak, dalam diam
hidup mesin di otak, di hati bungkam.

Sumber: Kompas, 14 Agustus 2011, “Poci dan Ke-Diam-an Radhar”. Foto: waspadaonline

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan