-->

Kronik Toggle

Perpustakaan Braille Paling Bagus se-Indonesia

BANDUNG – Jumlah perpustakaan braille masih sangat sedikit di Indonesia. Padahal membaca tidak hanya diperlukan bagi orang normal, tetapi juga oleh para tuna netra. Namun, tampaknya keberadaan perpustakaan braille belum dianggap prioritas oleh pembuat kebijakan.

Beruntung, di Bandung, Jawa Barat, ada perpustakaan Balai Penerbitan Braille Indonesia (BPBI) Abiyoso. Perpustakaan yang berada dalam komplek Panti Sosial Binanetra Wyataguna, Jalan Padjadjaran, Bandung, yang dinilai sebagai perpustakaan braille terbaik di antara perpustakaan braille lainnya yang dimiliki panti-panti di Indonesia.

Staf perpustakaan braille, Erna Kaniawati menyebutkan, penilaian terbaik itu diungkapkan Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Departemen Sosial RI. “Dirjen mengakui, dilihat dari kondisinya, perpustakaan braille ini terbaik di antara perpustakaan yang ada,” kata Erna, kemarin.

Penilaian itu, tutur Erna, berdasarkan jumlah buku, tata letak buku, hingga jumlah pengunjung tuna netra ke perpustakaan tiap harinya. “Kunjungan ke sini minimal 15 orang sehari. Bahkan pada hari tertentu bisa mencapai 100 tuna netra,” sebutnya.

Saat ini, perpustakaan mengoleksi 300 judul buku dari berbagai jenis buku bacaan yang meliputi buku pelajaran, umum, fiksi atau novel, agama, hingga kitab suci. Dari jumlah tersebut, tentu tidak seberapa jika dibandingkan dengan perpustakaan umum yang rata-rata mengoleksi ribuan buku.

“Tapi perlu diketahui, dari 300 judul itu karena di-braille-kan, jumlahnya menjadi sangat banyak. Satu halaman buku biasa, jika di-braille-kan akan menjadi tiga halaman. Sehingga satu judul buku bisa mencapai 5-10 buku braille, tergantung ketebalan buku yang di-braille-kan,” paparnya.

Maka, total buku yang ada di perpustakaan sebenarnya sebanyak 4.000 buku dari 300 judul buku. “Untuk buku Ayat-ayat Cinta saja, menjadi 13 jilid di sini,” tambah perempuan yang sudah menjadi staf perpustakaan braile sejak 1988.

Padahal, perpustakaan hanya dikelola oleh empat staf dan tidak menggunakan jasa pustakawan. Sehingga tata letak buku hanya mengacu kepada akal sehat dan diatur secara khusus agar tepat bagi tuna netra. Pasalnya, jika menggunakan sistem tata letak kepustakaan, malah akan menyulitkan para tuna netra.

“Susah menerapkan standar pustakawan. Untuk mengklasifikasikan buku, kita menggunakan warna berbeda untuk tiap jenis buku. Misalnya, buku agama ada label berwarna hijau, ungu untuk buku umum, cokelat untuk buku anak, dan buku dewasa berwarna biru,” bebernya. (rhs)

Sumber: Portal berita Okezone.com, 2 Agustus 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan