-->

Resensi Toggle

Obrolan Senja #6: Layang-Layang Abu-Abu (Puisi) | Ira Puspitaningsih

Obrolan Senja: Layang-Layang Abu Abu karya Ira Puspitaningsih

Sabtu, 13 Agustus 2011, 16.00-18.00 (buka puasa bersama)

Angkringan Buku (IBOEKOE), Patehan Wetan 3, Keraton, Alun-Alun Kidul, Yogyakarta

Jika ditanya soal seberapa penting aktivitas menulis, saya pastilah menjawab bila menulis itu penting. Tapi penting di sini bukanlah berarti kemudian saya menjadikan kegiatan menulis sebagai hal yang mutlak dilakukan setiap hari. Apalagi menulis puisi. Puisi adalah aktualisasi diri. Dan puisi kemudian menjadi pengungkapan impresi dan bersifat impulsif. Puisi terlalu spesial jika harus dijadikan hanya sebagai ladang uang.

Dan karena mengikuti suasana hati itulah saya tidak menghasilkan cukup banyak puisi. Dalam 11 tahun saya hanya menghasilkan 70an judul puisi saja. Jumlah yang membuat saya sebenarnya merasa miris.

Dari keseluruhan puisi yang saya tulis dalam rentang waktu tersebut, mayoritas berbicara hal-hal yang sangat privat. Meskipun ada beberapa judul yang ditulis sebagai respon atas suatu peristiwa.

Namun secara umum puisi-puisi saya adalah bagian lain dari diri saya yang tertutup. Puisi-puisi saya juga dengan semena-mena saya kelompokkan menjadi dua bagian. Fase pertama, tahun 2000-2004. Fase kedua, tahun 2005-2011.

Saya membaginya demikian karena ada perbedaan mendasar antara kedua fase tersebut. Fase pertama adalah puisi-puisi yang dibuat ketika masih tinggal di Denpasar. Masa-masa ketika saya masih memiliki banyak sekali waktu pribadi untuk diri sendiri.

Sebagian besar puisi saya tersebut bersifat introvert. Hanya bicara tentang diri sendiri. Sedangkan fase yang kedua adalah puisi-puisi setelah saya pindah ke Jogja. Lingkungan pergaulan yang sebagian besar juga penulis kemudian berpengaruh besar. Kegiatan menulis dan berkesenian kemudian menjadi kegiatan kolektif.

Urusan menulis puisi yang sebelumnya hanya saya lakukan sendiri kemudian dilakukan beramai-ramai bahkan didiskusikan dan dibedah habis-habisan. Kebersamaan ini kemudian banyak melahirkan puisi persembahan untuk yang saya tujukan untuk orang lain yang menginspirasi lahirnya puisi saya.

Sebagai manusia biasa, saya merasa cukup beruntung berkenalan dengan puisi di usia yang belum genap 14 tahun. Sebelumnya, saya remaja yang senang mencoba segala sesuatu. Rasanya tidak ada yang tidak saya coba saat itu.

Saya melatih Pramuka dan PMR di almamater SD, ketua Paskibra dan OSIS di sekolah, Fill Comander di kelompok Drum Band, selalu jadi MC di setiap acara sekolah, menari, menyanyi, atlet senam, komandan kelompok gerak jalan, dan selalu ranking 5 besar di kelas unggulan. Saya mencari jati diri saya dengan banyak hal. Hingga akhirnya bertemu dengan orang yang mengenalkan saya pada puisi.

Merasa menemukan hal baru yang menantang saya belajar menulis puisi secara otodidak. Akibatnya seluruh kegiatan saya terhenti, bersamaan dengan akhir jabatan semua organisasi yang saya ikuti. Kegiatan akademis pun praktis tidak saya suntuki lagi.

Ranking jeblok, teman berkurang, popularitas menurun bersamaan dengan munculnya puisi-puisi saya di koran yang saya publikasikan dengan menyembunyikan nama asli. Saya berjumpa dunia lain. Sebuah labirin tanpa akhir yang setiap jalannya pasti menarik ditelusuri. (Pengakuan Ira Puspitaningsih)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan