-->

Lainnya Toggle

Nuzulul Qur’an dan Semangat Kemerdekaan

ShofaOleh:Shofa As-syadzili

Tanpa disadari dua tahun sudah, bulan Ramadlan dan agustus berjalan beriringan layaknya pasangan pengantin. Keduanya, Ramadlan dan agustus, pada tahun ini berjalan di atas “red carpet“ perjamuan agung Tuhan. Namun, berpikirkah kita semua bahwa Ramadlan kali ini bagi bangsa Indonesia mempunyai nilai keistimewaan yang berbeda di banding tahun-tahun yang lalu? Lalu dimanakah letak kestimewaan itu?

Telah diketahui bersama bahwa dalam kedua “rahim“ bulan tersebut, ramadlan dan agustus, terdapat beberapa peristiwa bersejarah bagi umat Islam dan rakyat Indonesia. Pertama, di bulan agustus ini, tepatnya pada tanggal 17 agustus 1945, bangsa Indonesia melalui lisan suci Bung Karno memproklamirkan kemerdekaannya. Merdeka dari injakan kaki imperialis kolonialis yang kukunya mencengkeram leher kebebasan bangsa. Kemerdekaan ini didapat setelah mengorbankan seluruh jiwa dan raga para pejuang-pejuang bangsa.

Kedua, pada rahim bulan Ramadlan terdapat “janin“ Nuzulul Qur’an yang kelahirannya dirayakan tiap tanggal 17 ramadlan. Malam di turunkannya Al-Qur’an ke muka bumi ini, pada tahun ini, jatuh bertepatan dan bersanding mesra dengan hari ulang tahun kemerdekaan republik Indonesia. Di malam Nuzulul Qur’an inilah wahyu pertama di terima oleh Muhammad yang sedang bertahannuts atau menyepi di Gua Hira’.

Datangnya Jibril dengan memeluk erat Muhammad dan membisikkan kata Iqra“ mengandung makna yang sangat dalam. Iqra’ bermakna membaca. Membaca disini bukanlah dalam arti yang sempit tapi menelusuri makna membaca dengan sangat mendalam, radikal. Membaca tidak hanya melalui buku, tapi juga konteks realitas sekitar dan sejarah yang melingkupinya.

Banyak sekali cermin yang bisa dijadikan kaca pembaca untuk melihat wajah imperium-imperium yang pernah menjadi mercusuar peradaban manusia pada akhirnya runtuh dan tenggelam karena tidak mau melakukan proses pembacaan, proses pembelajaran. Sejarah digulungnya negeri Sodom karena pola prilaku yang menyimpang, runtuhnya dinasti-dinasti dalam dunia Islam karena glamouritas dan hidup hedon para khalifahnya. Itulah sebagian cermin, betapa rawan dan bahayanya jika elit-elit negeri sudah lalai dan lupa akan amanat yang dipanggul dipundaknya.

Perkawinan hari kemerdekaan dengan Nuzulul Qur’an di tahun ini, selayaknya mengembalikan kesadaran segenap elemen bangsa akan pentingnya pesan-pesan yang dibawa oleh keduanya. Kemerdekaan membawa pesan tentang kebebasan, keadilan, dan kesejahteraan. Nuzulul Qur’an membawa pesan akan ruh spirit keilahian dalam mengelola dan mengatur jalannya mahligai rumah tangga bernama Indonesia ini, dengan berlandaskan Al-Qur’an.

Dicampakkannya pesan dan amanat kemerdekaan terlihat begitu nyata di depan mata saat ini. Rakyat disuguhi beragam akrobat politik yang tak ada ujungnya. Belum tuntas sebuah kasus di usut, sudah muncul kasus lainnya yang tak kalah hebohnya menutupi kasus sebelumnya. Pertunjukan akrobat politik seperti ini menunjukkan keogahan elit-elit negeri dalam membawa kemudi bangsa ini. Terlihat tak ada koordinasi yang positif antara eksekutif, legislatif dan yudikatif. Bahkan, anehnya, ketiganya saling mengintip, siap menyerang jika salah satunya berbuat kesalahan.

Ditengah keasyikannya dalam melakukan akrobat politik, di ujung sana, petani-petani desa resah karena mendapat ancaman kekeringan dan kegagalan panen. Di ujung sana, sesama anak negeri saling membunuh hanya gara-gara persoalan perbedaan pandangan politik. Di ujung sana, masih banyak rakyat memegang perutnya karena kelaparan yang selalu menjadi selimut kehidupannya. Hingga kering rasanya bibir para tokoh nasional negeri ini berteriak-teriak di dekat telinga penguasa agar kembali ingat amanat dan pesan kemerdekaan. Lalu, adakah yang salah dalam pengelolaan bangsa ini?

Ya. Bangsa ini dikelola dengan menggunakan resep yang salah. Selain melupakan amanat kemerdekaan, petinggi-petinggi negerinya pun meninggalkan ruh keilahian yang dipancarkan melalui kitab sucinya, Al-Qur’an. Al-Qur’an hanya dijadikan tontonan bukan lagi tuntunan. Dijadikan pajangan bukan lagi pijakan. Hal inilah kemudian yang menjadikan bangsa ini kehilangan spirit dalam memberantas menjalarnya tindak pidana korupsi.

Al-Qur’an yang diturunkan pada malam nuzulul qur’an akan terasa tiada bermakna bila hanya dijadikan sebuah perhiasan di pojok-pojok rumah. Mengutip pendapat salah seorang khulafaurrasyidin, Sayyidina Ali RA, Al-Qur’an adalah teks yang mati. Dalam arti Al-qur’an tidak akan hidup bila tidak diaplikasikan dalam bentuk konkret, dalam bentuk tingkah laku yang dikerjakan manusia sehari-hari.

Manusia-manusia yang menyelimuti dirinya dengan ruh dan nafas Al-Qur’an ini, meminjam istilahnya Abdul Munir Mulkhan, yang di sebut manusia Al-Qur’an. Manusia yang selalu menggelorakan dalam dadanya semangat anti penindasan terhadap kaum lemah. Yang akan bersuara lantang bila melihat ketidakadilan yang membuat rakyat melarat. Yang akan melakukan gerak perlawanan dan memotong simpul-simpul korupsi yang menjalari tubuh bangsa ini. Manusia-manusia seperti inilah yang diharapkan kehadirannya di tengah- tengah bangsa yang sudah mengalami krisis identitas ini. Agar nantinya, bangsa ini tidak lagi mengalami hal yang sama dengan beberapa bangsa yang dulu pernah ada namun kini tenggelam di telan zaman.

Berbekal pesan suci Al-Qur’an dan amanat kemerdekaan itulah, aparat negara, baik yang di eksekutif, legislatif serta yudikatif seharusnya menopangkan segala tindak tanduknya dalam mengelola bangsa ini. Jangan lagi pasca berlalunya ramadlan dan kemerdekaan, ketidakadilan sosial dan ekonomi malah menjadi makanan rakyat sehari-hari. Semoga.

*Koordinator Komunitas Pemikir Islam (KOPI CANGKIR) Surabaya, bergiat di Bengkel Menulis Bibliopolis.

**) Radar Surabaya, 16 Agustus 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan