-->

Kronik Toggle

Era Digital Perpustakaan Harus Kreatif

Surabaya– Mendengar kata perpustakaan, apa yang ada di benak Anda? Pustakawan galak dengan kacamata botol? Mungkin juga deretan buku-buku tebal yang membuat orang malas membaca bila tidak disuruh. Bagi banyak orang, perpustakaan memang bukan tempat favorit seperti mall atau café.  Namun di tempat inilah peradaban manusia justru dimulai.

“Perpustakaan bukan hanya tentang buku dan tempat membaca. Perpustakaan sendiri bertindak sebagai pusat peradaban,” tutur Lan Fang, seorang novelis dalam bedah buku “The Key Word: Perpustakaan di Mata Masyarakat” di Universitas Kristen Petra, Senin (22/08).

Dalam bedah buku ini hadir para pustakawan dari berbagai sekolah dan universitas di Surabaya, juga pustakawan dari luar daerah seperti Makassar dan NTT. Para pustakawan tersebut mencoba menerawang asal muasal dan masa depan perpustakaan di tengah peradaban.

Labibah Zain, MLIS, selaku editor buku tersebut juga menyetujui ungkapan perpustakaan sebagai pusat peradaban. Menurutnya perpustakaan bukan sekedar menyimpan koleksi buku saja. “Di perpustakaanlah, orang menemukan solusi atas masalah di sekitar mereka,” tutur Labibah Zain yang akrab dipanggil dengan sebutan ‘Maknyak’.

Namun para penggiat perpustakaan pun tak bisa memungkiri bahwa paradigma yang buruk tentang perpustakaan kerap menjadi penghalang antara perpustakaan dan masyarakat. Jangankan membaca buku, berpikir untuk datang ke perpustakaan saja sulit, bagaimana mungkin perpustakaan menjadi pusat peradaban? Menurut Lan Fang, salah satu solusinya adalah perpustakaan harus kreatif!

“Perpustakaan bukan benda mati tanpa manusia. Aktivitas membaca buku bisa menjadi menyenangkan kalau manusia bisa membuatnya menjadi kreatif,” ujar Lan Fang. Ia menegaskan bahwa perpustakaan harus aktif dan inovatif dalam menciptakan cara untuk menarik minat masyarakat dalam membaca buku. Perpustakaan juga bisa mengadakan acara-acara komunitas atau diskusi buku yang substantif.

“Perpustakaan harus bisa mendekatkan diri ke masyarakat,” tutur novelis tersebut, “caranya dengan memetakan kebutuhan masyarakat dan memberikan buku yang sesuai dengan kebutuhan mereka.”

Lan Fang mencontohkan adanya perbedaan kebutuhan perpustakaan antara satu daerah dengan daerah yang lain. Di Rungkut Industri misalnya, perpustakaan harus mampu memenuhi kebutuhan para pensiunan. Buku-buku kerajinan, memasak, serta aktivitas lainnya mungkin bsia menjadi bacaan utama. Sementara itu, buku – buku seperti ini tentu tak cocok bila dimasukkan ke daerah kumuh dan miskin. Lain juga dengan kebutuhan anak-anak di daerah Dolly. Bila perpustakaan mensupply buku-buku tentang seks education malah bisa membawa generasi muda tersebut ke arah yang salah.

Masalah kelengkapan koleksi inilah yang terkadang menjadi fokus dan pengembangan perpustakaan. Namun menurut Labibah Zain, kelengkapan buku bukanlah daya tarik utama. Perpustakaan seharusnya menjalin komunikasi dan jaringan dengan sesama perpustakaan terutama dari segi akses buku. Dengan ini, pengunjung akan mendapatkan kemudahan untuk melihat koleksi buku dari beragam perpustakaan.

“Tidak ada perpustakaan yang benar-benar lengkap karena setiap harinya selalu ada buku-buku baru yang keluar,” ujar dosen wanita tersebut, “kuncinya adalah pada akses buku.”

Perkembangan teknologi juga menjadi tantangan tersendiri bagi perpustakaan, baik dari segi buku digital (ebook) ataupun dari gaya hidup yang ditawarkan oleh digital natives. Generasi muda yang berada pada era digital, telah membawa banyak perubahan dari generasi di atasnya. Perpustakaan harus menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.

“Menyesuaikan diri dengan perubahan bukan perkara digital book saja tetapi juga digital services. Kita harus beralih ke tren perpustakaan saat ini yaitu information commons atau learning commons,” ujar Aditya Nugraha, kepala perpustakaan Universitas Kristen Petra, “tren ini membuat perpustakaan menjadi area pembelajaran yang nyaman tak sekedar lokasi untuk menyimpan buku belaka.”

Intinya, perpustakaan harus bisa lebih lentur kepada masyarakat serta tetap harus mengembangkan diri dengan perubahan yang sedang terjadi. Bagaimanapun juga, perpustakaan sebagai pusat peradaban harus tetap hidup untuk ‘menghidupi’ masyarakat di sekitarnya. [vas/ted]

*)Beritajatim.com, 23 Agustus 2011

1 Comment

Rama Algi - 18. Nov, 2012 -

Perpustakaan memang menurun peminatnya, padahal fungsinya semakin meningkatseiring dengan meningkatnya kualitas pendidikan dan sarana, perlu konsep baru dalam mengelola perpustakaan…

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan