-->

Kronik Toggle

Difilmkan, Novel "Di Bawah Lindungan Ka’bah" (Hamka)

Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka diadaptasi ke dalam sebuah film berjudul sama. Hasilnya, sebuah kisah cinta tak sampai dengan aspek komersial yang kental.

Kisah film dimulai dengan keberadaan Hamid—seorang pemuda saleh, cerdas, berbudi pekerti tinggi, tapi miskin—di tengah keluarga Haji Jafar yang saleh, dermawan, dan tidak pernah memandang orang lain berdasarkan kedudukan dan kekayaan. Mereka tinggal di sebuah kampung di Sumatera Barat yang masyarakatnya teguh memegang adat dan taat menjalankan ajaran agama.

Hamid sangat menghormati keluarga itu dan menganggap Haji Jafar sebagai ayahnya sendiri. Sebaliknya, Haji Jafar menganggap Hamid yang yatim seperti anaknya sendiri. Dia membiayai pendidikan Hamid di sebuah sekolah bergengsi. Sebagai balasannya, ibu Hamid, Mak Hamid, mengabdi pada keluarga Haji Jafar.

Hubungan Hamid dengan istri Haji Jafar, Mak Asiah, dan anak semata wayang mereka, Zainab, sama baiknya. Bahkan, Zainab menganggap Hamid sebagai kakaknya sendiri. Semua serba harmonis belaka. Hingga suatu ketika kedekatan Hamid dan Zainab menumbuhkan benih cinta. Hamid dan Zainab tak dapat menolak. Namun, cinta suci itu menjadi semacam cinta terlarang lantaran Hamid dan Zainab tidak sederajat.

Mak Hamid beberapa kali menegaskan, perasaan Hamid pada Zainab hanya mengotori kepercayaan Haji Jafar dan menentang adat yang tidak menghendaki perkawinan laki-laki dan perempuan tak sederajat. ”Emas tak akan setara dengan loyang, benang tak akan sebangsa dengan sutra,” katanya bertamsil.

Sementara itu, Hamid merasa tidak ada yang salah dengan perasaannya. Karena itu, dia tetap berusaha dekat dengan Zainab. Namun, Hamid harus membayar mahal langkahnya. Dia difitnah kerabat Haji Jafar yang ingin menjodohkan kemenakannya dengan Zainab.

Singkat cerita, Hamid diusir dari kampung. Sebelum pergi dia bertemu Zainab dan berkata, ”Untuk melewati badai, kita harus terus berjalan. Hanya ada dua hal yang harus terus kita bawa, keyakinan dan cinta.”

Selama di pembuangan, Hamid bekerja keras hingga diangkat sebagai juru catat sebuah perusahaan. Di luar itu, kisah hidupnya kian pahit. Haji Jafar dan Mak Hamid yang dicintainya meninggal dunia. Selanjutnya, dia malah dimintai tolong Mak Asiah untuk membujuk Zainab agar mau menikah dengan laki-laki yang telah dijodohkan dengannya.

Dengan berat hati, Hamid melakukannya. Setelah itu, dia pergi dengan hati yang patah. Dia berkelana hingga sampai di Tanah Suci Mekkah. Selama pengembaraannya, dia mencari pintu ikhlas. Dan, di bawah Kabah dia berdoa, kemudian pergi untuk selama-lamanya.

Sementara itu, Zainab pun patah hati ditinggal Hamid. Kesehatannya memburuk hingga akhirnya meninggal dunia dengan tetap memegang janji: hanya akan menikah dengan orang yang dicintai dan mencintai, yakni Hamid.

Aspek komersial

Kisah film memang tidak sama persis dengan kisah novel Di Bawah Lindungan Ka’bah. Cerita tentang pengusiran Hamid dari kampungnya, misalnya, hanya ada di film, tidak di novel. Karakter Arifin—laki-laki yang dijodohkan dengan Zainab—dalam film terkesan licik, sementara dalam novel dia digambarkan sebagai anak muda terdidik yang santun dan sangat taat pada orangtua. Perbedaan seperti itu biasa untuk sebuah film yang kisahnya mengadaptasi kisah novel.

Cerita pengusiran Hamid sepertinya sengaja ditambahkan untuk memperkuat konflik. Dari peristiwa inilah rentetan konflik lainnya mengalir. Dengan begitu, jalan cerita film ini menjadi tidak datar. Dialog pun dibuat dengan gaya bahasa yang lebih membumi untuk zaman sekarang dibandingkan dialog-dialog dalam novel yang banyak menggunakan kiasan dan pantun.

Meski begitu, pembuat film tetap berusaha membawa penonton ke dalam suasana Sumatera Barat era 1920-an. Untuk itu, mereka menghadirkan kereta uap, stasiun tua, pedati tua, pasar dan perkampungan Minang, hingga membangun sebuah surau lengkap dengan kincir airnya. Untuk menggambarkan suasana ibadah haji, pembuat film membangun perkemahan jemaah haji, menghadirkan iring-iringan jemaah berikram, hingga membangun Kabah tiruan.

Namun, suasana tahun 1920-an yang dihadirkan dengan susah payah itu jadi berkurang maknanya akibat munculnya iklan tertanam berulang-ulang kali. Ada adegan orang menyuguhkan kacang garing dari kantong berlogo Kacang Garuda, ada adegan Rustam—paman Zainab—memakan wafer bermerek Gery Chocolatos, dan ada adegan obat nyamuk bakar merek Baygon dibakar di kamar tidur.

Adegan ”titipan” pemasang iklan itu jelas tidak ada di dalam novel karya Hamka yang berlanskap Sumatera Barat tahun 1920-an dan diterbitkan pertama kali tahun 1938. Betapa tidak, pembunuh serangga bermerek Baygon, misalnya, baru diproduksi pertama kali oleh Bayer tahun 1975. Di novel juga digambarkan Rustam gemar mengisap cerutu bukan ngemil Gery Chocolatos yang mammamia lezatos itu. (Budi Suwarna)

Sumber: Kompas, 21 Agustus 2011, “Lain Hamka, Lain Titipan”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan