-->

Lainnya Toggle

Bakti Buku TKI Mudik

sasaOleh Diana AV Sasa*)

Ritus lebaran di Indonesia yang khas dengan tradisi mudik, tidak hanya disambut gempita oleh para perantau di kota yang mudik ke kampung, tapi juga oleh mereka para pemasok devisa terbesar negri ini, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) memperkirakan 50 ribu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari luar negeri akan masuk melalui Gedung Pendataan Kepulangan (GPK) TKI di Selapajang, Tangerang, Banten pada mudik lebaran tahun ini. Angka ini bisa membengkak jadi ratusan ribu jika ditambah TKI yang melalui jalur lain seperti di Surabaya, Solo, Bandung, Mataram, Nunukan, Padang atau Parepare (Antara,13/8).

Bagi TKI yang berhalangan mudik, mereka tetap memudikkan fulusnya. Kantor Pos Tasikmalaya misalnya, mencatat pengiriman uang dari dalam dan luar negeri menjelang Idul Fitri 2011 mencapai Rp 19,8 miliar. Sebanyak 40 persen diantaranya adalah pengiriman uang antar Negara, mayoritas berasal dari Negara Arab Saudi dan Malaysia (Kompas,19/8).

Dana itu mengalir ke pelosok kampung TKI berasal. Dengan kekayaan itu mereka ingin unjuk eksistensi keberhasilan merantau. Mereka berbagi rezeki dengan sanak saudara. Dengan derma ini, mereka ingin berbagi kasih kepada saudara yang telah lama ditinggal agar ikut merasakan nikmat keberhasilannya. Mereka juga membangun rumah tempat tinggal menjadi layak huni. Bahkan tak sedikit yang menyerupai rumah gedong di komplek elit perkotaan. Tak ketinggalan mereka menyumbang untuk perbaikan sarana kampung sebagai tanda bakti warga kepada kampung halamannya.

Mudik memang selayaknya diikuti dengan sebuah kesadaran sosial terhadap lingkungan tempat mudik. Kebiasaan membangga-banggakan kekayaan pribadi sudah saatnya mulai dikikis. Tentu ironis melihat sebuah rumah bak istana megah dengan perabot mewah dan kendaraan berderet, sementara di sekitarnya masih sangat terbelakang. Jurang sosial ini memicu masalah sosial lain di kemudian hari.  Selalu ada percikan konflik dari perbedaan starta sosial yang mencolok. Maka semangat dan keinginan kuat para TKI yang mudik untuk membangun kampung layak digalakkan untuk mengurangi kecemburuan sosial.

Gerakan TKI mudik membangun kampung akan menjadi sebuah unjuk bakti pada kampung halaman yang bukan hanya akan membanggakan tapi juga dikenang dan membawa manfaat  luas.  Selain jalan kampung, rumah ibadah, atau sarana umum lainnya yang dapat diwujudkan melalui urunan para TKI, ada hal lain yang bisa menjadi tawaran menarik, yaitu perpustakaan.

Para TKI bisa urunan atau mandiri perseorangan untuk membangun sebuah perpustakaan kampung di kampungnya. Jika ingin kebanggan dan sedikit kehormatan, tinggal taruh saja di area tempat tinggalnya. Bila terlampau berat untuk membangun dari nol, bisa juga dengan membantu menyediakan sarana dan prasarana tambahan bagi perpustakaan yang saat ini sudah ada banyak muncul di kampung-kampung melalui program pemerintah.

Perpustakaan di kampung yang lebih dikenal dengan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sudah digalakkan pemerintahan beberapa tahun terakhir. Menurut Ketua Forum TBM Indonesia, Heri Hendrayana Harris alias Gol A Gong  saat ini ada sekira 6.004 TBM di desa. Padahal jumlah desa 72 ribu, idealnya di satu desa satu TBM nonperpustakaan, jadi masih kurang 66 ribu. Jika TKI mau menyisihkan sebagain pengahasilannya-atau anggap saja sebagai zakat penghasilan-untuk membeli beberapa eksemplar buku untuk disumbangkan pada TBM, ini akan luar biasa dasyat.

Dasyat karena ketika dilakukan masal, itu akan seperti banjir buku. Bayangkan bagaimana riuh dan antusiasnya anak-anak desa menyambut kedatangan setiap TKI mudik yang membawa berkarung-karung atau berdus-dus buku bacaan bagus,misalnya. Jika satu TKI membawa 1 kardus buku saja, tinggal mengalikan berapa jumlah TKI di kampung itu, maka dalam satu tahun ke depan, perpustakaan akan cukup memiliki stock bahan bacaan. Dan tentu saja, bertambah saban tahun.

Dasyat karena melalui buku yang nilainya secara materi mungkin tak seberapa bagi para TKI itu, sesungguhnya mereka sedang membangun peradaban masa depan kampungnya. Melalui buku-buku itu mereka menanamkan pengetahuan pada anak-anak. Pengetahuan yang meluaskan daya jangkau pikirannya. Agar kelak dewasa bisa menjadi manusia yang tak harus menjadi buruh di negeri orang seperti mereka. Berdiri di atas kaki sendiri atas bangsanya.

Apakah gerakan ini mungkin dilakukan oleh TKI yang kebanyakan di luar negeri bekerja di sektor informal?

Bakti buku oleh TKI sangat mungkin dilakukan. Potensi untuk itu ada. Secara finansial mereka cukup mampu, Secara wawasan mereka juga lebih terbuka karena terbawa iklim Negara tempat mereka bekerja. Tak semua TKI berkisah kelam. TKI yang sadar teknologi, pengetahuan, dan jaringan juga tak sedikit.

Satu misal adalah mereka yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP). Mereka bergiat pada gerakan membaca dan menulis. Mereka membuat seminar, pelatihan, penerbitan buku, perpustakaan, bahkan festival sastra. Karya-karya mereka pun mulai diperhitungkan dan banyak mengisi wajah-wajah media nasional dalam negeri. Sebut saja nama seperti Pipit Senja, Ivonie Zahra, Niswana Ilma, Ida Raihan, atau Ani Widayati. Locus gerakan mereka memang masih di luar negeri. Artinya, memberdayakan TKI yang di rantauan. Nah, yang perlu dilakukan kemudian adalah bagaimana membawa nafas gerakan buku itu ke kampung halaman.

Buku-buku itu akan menjadi saksi kesuksesan TKI di rantau. Tak mudah memang, mengusung buku bacaan sebagai simbol kemakmuran di tengah masyarakat yang masih melihat tanah, hewan, perhiasan, kendaraan dan rumah sebagai ukuran kesuksesan. Tapi jika satu memulai, yang lain akan mengikuti. Begitu tabiat budaya masyarakat kita, latah. Tapi latah memborong buku ke kampung, sungguh bukan hal yang layak ditertawakan. Ini bakti mulia warga pada kampungnya.

Dengan buku, mereka akan abadi, karena selama ada pembacanya, perpustakaan itu akan terus hidup. Dan salah satu hela nafasnya adalah dari keringat para TKI itu. Jadi, mari mudik membawa buku untuk hadiah orang-orang kampung.

*)Radar Surabaya, 29 Agustus 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan