-->

Resensi Toggle

7 Keajaiban Rejeki | Ippho Santosa | 2010 (Resensi Juara Lomba)

7 Keajaiban Rejeki | Pengarang: Ippho ‘right’ Santosa | PT.Elex Media Komputindo | 2010 | 191 hlm | Rp 84.800 | 978-979-27-6923-4

Berikut ini ada tiga resensi buku “7 Keajaiban Rezeki” yang memenangkan Brain Right Award yang diumumkan pada 27 Agustus 2011.

Resensi Juara I:  Shinta Trilusiani (Bengkulu)

Kedahsyatan Dunia Kanan

Sedekah dengan brutal!
Tolak kemiskinan dengan gahar!
Kita telah dilahirkan untuk menjadi pemenang  bukan pecundang!

Ketika anda memutuskan untuk membaca buku ini, maka seketika itu juga, anda  akan berpetualang di dunia dimana semua hal menjadi mungkin. Ippho ‘right’ Santosa atau yang akrab dipanggil Mr.Right akan menjabarkan keajaiban mengenai hal-hal yang selama ini kita anggap IMPOSSIBLE.

Pendapatan naik 300%? MUNGKIN. Rezeki datang secara melimpah? MUNGKIN. Omset naik hingga 1000%? MUNGKIN. Memenangkan persaingan yang nyaris tidak mungkin dimenangkan? MUNGKIN.

Segera buka halaman per halaman dari buku ini, dan temukan keajaiban-keajaiban yang akan menjadi nyata saat anda memutuskan untuk membaca dan menerapkannya dalam kehidupan anda.

7 Keajaiban Rejeki akan menguraikan banyak anggapan yang mungkin belum kita ketahui selama ini dalam  192  halaman, dengan sampul tebal berwarna coklat tua bergambarkan seseorang yang sedang mengendarai unta. Enterpreuner kelahiran 1977 ini mencoba membandingkan 80% orang di dunia yang ber’kiblat’ ke otak kiri dan mereka, 20% orang di dunia ini yang ber’kiblat’ ke otak kanan. Buku ini mengangkat tema mengenai kedasyatan otak kanan yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan di dunia. Mungkin kita masih sangat ingat bagaimana The secret dan The power menggemparkan dunia, lalu mengubah hidup berjuta-juta orang setelah membacanya. Atau fenomena Cashflow Quadrant yang hadir sebagai fenomena yang serupa.

Namun, 7 Keajaiban Rezeki hadir dengan nuansa yang berbeda. Mungkin beberapa dari kita yang sering membaca buku motivasi tahu bedanya. Kebanyakan buku motivasi hadir dengan bahasa ‘dewa’ , bahasa tingkat tinggi yang tidak semua pihak dapat mencernanya. Berbeda dengan 7 Keajaiban Rezeki yang hadir dengan bahasa ‘masyarakat’, yang sederhana namun mengena. Inti pemikiran Ippho Santosa yang tertuang dalam buku 7 Keajaiban Rezeki memang bersumber pada Al-qur’an, hadist yang merupakan pegangan salah satu keyakinan, yakni islam yang sangat kental di buku ini, namun hal ini tidak menjadi penghambat bagi yang memiliki kepercayaan lain, karena di buku ini pula dijelaskan dengan sangat jelas bahwa  berbeda, memiliki, ataupun tidak memiliki kepercayaan sekali pun, kekuatan dari memberi (sedekah) tetap saja akan berbalas. Tidak sedikit pendeta atau mereka yang berbeda agama dengan pengarang buku ini sukses menerapkan 7 Keajaiban Rezeki dalam kehidupan mereka. Sekali lagi, 7 Kejaiban Rezeki tidak mengenal umur, agama, suku, ras, warna kulit atau apa pun juga. Pengarang juga mampu menjabarkan pemikirannya dengan bahasa yang lugas, jelas, dan tegas sehingga tidak terkesan bertele-tele.

7 Keajaiban Rezeki juga menyajikan cara untuk mendapatkan kekayaan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Dengan berani, 7 Keajaiban Rezeki memaparkan keberhasilan mereka yang sukses dengan memanfaatkan petuah yang tertuang disana,  terbukti dengan pengalaman-pengalaman narasumber atau testimoni-testimoni  yang membuat buku ini begitu nyata khasiatnya. Tidak hanya itu, keajaiban yang dirasakan oleh mereka yang berhasil melalui otak kanan, juga akan menyapa anda secara audio melalui CD motivasi yang menjadi bonus pada buku ini. Ditambah lagi dengan beberapa lagu-lagu membakar semangat yang juga tersaji di dalam CD motivasi.

Beberapa kali kita akan tergelitik dengan humor yang disajikan hampir di tiap bagiannya, sehingga jauh dari kesan membosankan, dan hanya di buku ini, penulis berbaik hati untuk tidak mengharuskan orang agar membeli bukunya tapi malah menganjurkan untuk meminjamkan kepada orang lain dan membagi manfaatnya.

Namun tak ada gading yang tak retak. Pun begitu 7 Keajaiban Rejeki. Mungkin pada awalnya, ketika kita tidak mengetahui betapa luar biasanya buku ini, atau sebelum ada rekor MURI yang tertambat disana, atau sebelum ada cap megabestseller yang terpampang  pada covernya, buku ini terkesan biasa-biasa saja. Dari judulnya pun tidak ada rasa ingin tahu yang berhasrat ketika melihatnya. 7 Keajaiban Rejeki? Oh paling buku-buku islami biasa. Tidak ada daya tarik dan greget untuk membacanya. Sebelum kita mengetahui kedahsyatan buku ini, kita pasti juga akan menggeleng melihat harganya yang tidak terhitung murah untuk buku islami biasa.

Mungkin pengarang ingin mengajarkan kita “don’t judge the book by its cover and its price”
Sungguh! Harga ini tidak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan seajaib-ajaibnya keajaiban yang hadir di hidup kita ketika kita tuntas dan menerapkannya dalam kehidupan kita. Bahkan kita juga bisa berkonsultasi GRATIS langsung dengan sang penulis, Ippho Santosa atau dengan beberapa narasumber lain.

Jika anda berniat membaca buku ini, jangan ditunda lagi. Tapi ingat satu hal, jika anda memiliki penyakit jantung maka persiapkan dokter spesialis disebelah anda, karena 7 Keajaiban Rezeki akan membuat anda terkejut mendadak, lalu  menampar kemiskinan anda habis-habisan, menghajar anda dengan kebenaran yang luar biasa, menyindir keburukan anda sejelas-jelasnya dan merubah hidup anda sedahsyat-dashyatnya!!!!

Resensi Juara II: Prasetyo Deka (Madiun, Jawa Timur)

The Lord of The Right

Anda pernah mendengar nama Ipho Santosa? pernah membaca buku 7 Keajaiban Rejeki? Kalau belum, jangan minder, kita ada di pihak yang sama. Saya baru mengenal Ipho dan buku 7 keajaiban rejeki ini beberapa waktu yang lalu dari seorang kawan baik. Saat pertama kali melihat tampilan luar, tak banyak yang membuat saya tertarik dari cover kecuali gambar tiga keping uang emas, potongan kata jargon “ rejeki bertambah, nasib berubah”, dan tawaran ‘bonus langsung Rp 1.350.000’. Saya mulai sedikit berminat untuk mencari tahu lebih dalam.

Lembar pertama dan beberapa lembar berikutnya saya hanya menemukan testimonial dari banyak orang tentang dampak buku ini. terus terang satu hal langsung terbersit di otak saya, “ah, ini pasti hanya salah satu dari sekian banyak bentuk tipuan bernama marketing”. Walaupun mulai skeptis, saya paksakan diri untuk membuka lembar demi lembar berikutnya. Apalagi ada jaminan uang kembali 100% kalau saya tak mampu mendapat manfaat apapun dari buku ini.

Sebenarnya saya sudah bersiap untuk menerima ajaran motivasi standart seperti yang biasa saya temui belakangan ini, bombastis tapi tidak realistis dan cepat kempis. Ternyata saya salah besar! Buku ini memberikan sesuatu yang berbeda. Saya lebih suka menyebutnya buku kritisi, bukan buku motivasi. Karena buku ini mengkritisi banyak sekali hal ‘besar’ yang tanpa sadar kita ‘kecilkan’.

Buku ini memaparkan 7 hal hebat, yang berporos pada anugerah yang sangat hebat (otak kanan), dan berdasar pada sumber paling hebat (Al-Quran). Ketujuh hal itu adalah Sidik jari kemenangan, sepasang bidadari, golongan kanan, simpul perdagangan, perisai langit, pembeda abadi, dan pelangi ihtiar.

Di masing-masing bagiannya Ipho bercerita dengan lugas tentang sebuah tema besar, yakni kekuatan cinta, doa, impian, dan sedekah pada keberhasilan seseorang. Tema besar ini kemudian mengerucut pada banyak tindakan positif yang dipengaruhi oleh kekuatan otak kanan, yakni bagian otak yang telah diyakini dan diuji sebagai sumber dari semua tindakan tidak logis dan pusat kreatifitas. Diantaranya adalah ajakan  untuk bersedekah dengan gila-gilaan, dengan satu keyakinan bahwa semakin ‘gila’’ sedekah yang kita keluarkan maka akan semakin ‘gila-gilaan’ pula DIA membalas . Sesuatu yang menurut banyak dari kita yang muslim pun terkadang masih mengerutkan jidat.

Ipho juga mengajak kita untuk menjadi seorang pemenang sejati dengan cara yang sangat islami. Menang dalam pertempuran melawan kemiskinan, kekikiran, kefakiran, dan ketakutan akan kegagalan meraih impian. Tapi sekali lagi saya tekankan, buku ini bukan tentang motivasi sesaat . Buku ini adalah buku tentang kritisi diri agar bergerak maju dalam tindakan yang nyata, dengan memaksimalkan kekuatan tersembunyi kita, yakni otak kanan.

Gaya bertutur yang cukup lugas membawa kita seakan sedang mengikuti seminar Ipho secara privat. Mendengarkan, bertanya, dan bercanda dengan penulis dalam satu kesempatan. Beberapa joke dan selipan pengalaman pribadi membuat buku ini lebih ‘lezat’ untuk dinikmati. Keseimbangan antara usaha dunia dan usaha akherat menjadi kesimpulan akhir yang bisa saya tangkap dari materi buku ini. Materi yang sebenarnya terbilang biasa, dan sering  kita dengarkan di setiap ceramah agama, tapi berhasil ‘diingatkan’ kembali oleh  Ipho Santosa dengan cara yang lebih nikmat dan hebat.

Overall, menurut saya Buku ini seperti air putih, sederhana dan segar, tapi sangat penting untuk siapapun. Lebih lagi, buku ini tetap segar dinikmati kapanpun. Tak perduli saat anda sedang bahagia berlimpah rejeki dan tertawa sepanjang hari, ataukah sedang terpuruk dalam tangis dan merasakan nuansa kegagalan beruntun mendekati permanen.

Saya percaya apapun yang saya tulis disini hanya akan menjadi seperti sebuah resep masakan yang terlihat enak, dan akan tetap ‘terlihat’ enak saja, tanpa bisa anda rasa selama belum anda coba. Jadi, silahkan mencoba membuka dan memahami selembar demi selembar buku ini. Semoga banyak pertanyaan yang terjawab, dan Semoga  menjadi The Lord Of The ‘Right’ selanjutnya. Insya Allah.
Catatan ini saya akhiri dengan kutipan favorit saya di buku ini, “Life is beautiful, love is wonderfull, giving is powerfull”.

Be the right!

Resensi Juara III: Diana AV Sasa (Surabaya, Jawa Timur)

Nganan Lebih Baik Ketimbang Ngiri

Kebetulan dalam bahasa Inggris, ‘kanan’  dan ’benar’ itu diterjemahkan jadi ‘right’. Mungkin ini isyarat, kanan itu memang benar. Kebetulan pula, ‘kiri’ dan ‘ketinggalan’ itu sama-sama diterjemahkan jadi ‘left’. Mungkin ini isyarat, kiri itu memang ketinggalan (56)

Kutipan diatas hanyalah satu dari beberapa kebetulan yang dengan cemerlang dapat ditemukan Ippho Santosa mengenai ‘pledoi’ mengapa kanan lebih baik ketimbang kiri. Pledoi itu tertuang dalam buku motivasi bertajuk 7 Keajaiban Rezeki: Rezeki Bertambah, Nasib Berubah, dalam 99 Hari  dengan Otak Kanan. Kebetulan lain yang ia temukan adalah rambu-rambu “Gunakan lajur kanan untuk mendahului”, dan “Gunakan lajur kiri untuk jalur lambat”. Mungkin ini pula isyarat bahwa untuk mendahului pesaing gunakan otak kanan, gunakan otak kiri kalau ingin ditinggalkan oleh pesaing.

Dengan pledoi itu, Ippho sedang ingin mengetengahkan kehadapan pembaca bukunya, mengenai sebuah konsep berpikir dan bertindak dengan mengutamakan fungsi otak kanan. Ippho mengakui bahwa ia adalah satu dari sedikit motivator di Indonesia yang memilih untuk berpihak ke kanan (mengutamakan otak kanan). Bahkan ia berani mengatakan bahwa untuk hijrah ke sisi kanan dalam Cashflow Quadrant-nya Robert Kiyosaki, maka otak kanan harus diasah. Ippho berkeyakinan bahwa kesuksesan memerlukan peranan EQ(otak kanan) sekitar 80% dan IQ(otak kiri) 20%. Maka yang dibutuhkan adalah dominan kanan, bukan seimbang kanan kiri.

Dalam konsep Ippho, keseimbangan dalam sebuah tim menuntut seorang pemimpin yang dominan kanan, karena ia akan lebih visioner, kreatif, intuitif, impulsif, berpikir holistik, empati ke semua pihak, dan memahami yang tersirat. Dibawahnya, manajer madya adalah mereka yang memiliki keseimbangan otak kanan-kiri, memahami detil, kalkulasi, fokus, dengan keseimbangan kreatifitas, intuisi, dan impati. Sedangkan yang perlu memahami dan menguasai detil dengan penuh adalah para bawahan. (54). Dengan konsep ini, Ippho ingin mengajukan hipotesa bahwa siapapun yang ingin menjadi pemimpin, ingin maju, sukses, dan meraih impiannya maka ia mesti mengoptimalkan kerja otak kanannya. Golongan Kanan melakukan sesuatu karena panggilan jiwa, bukan panggilan kerja. Sepenuh hati, bukan sepenuh gaji, begitu kata Ippho.

Untuk menguraikan cara-cara berpikir otak kanan itu, Ippho memberikan 3 kunci. Kunci pertama adalah penguatan diri, ia menyebutnya Sidik Jari Kemenangan (Lingkar Diri). Ini adalah sebuah langkah dimana seseorang merumuskan cita-cita, harapan, impiannya. Disini Ippho mencoba membangun keyakinan pembaca bahwa kesuksesan adalah milik siapa saja. Karena bagi Tuhan Yang Maha Kuasa, tak ada yang mustahil. Maka pegang kuat-kuat keyakinan akan impian itu. Mengucapkannya sering-sering, membayangkannya terus menerus, menancapkannya dalam pikiran, akan mendorong pada kesadaran batin dan pikiran untuk berusaha mewujudkannya. Setelah itu baru berupaya untuk membuat diri menjadi layak mendapat, meraih impian itu. Kerja keras, dedikasi, integritas, dan kesungguhan adalah kuncinya.

Kunci kedua adalah membangun hubungan baik dengan sekitar, Ini bertolah pada hukum Law of Attraction (LOA), apa yang kau beri itulah yang kau dapat. Ippho menyebut orang tua di urutan teratas untuk menjadi bagian yang layak mendapat perlakuan baik. Ia menyebutnya sebagai Sepasang Bidadari (Lingkar Keluarga). Disini, Ippho ingin menegaskan bahwa orang tua adalah bagian dari kehidupan yang mesti dijaga keseimbangan hubungannya.

Agama manapun pasti menyebutkan tentang urgensi orang tua sebagai sosok yang mesti dihormati, dihargai, dan dijagai karena dari merekalah bermula kehidupan seorang anak manusia. Tak perlu menunggu sukses, baru bisa menyenangkan orang tua, tak perlu menunggu kaya, baru memberi perhatian orang tua. Balikkan, kata Ippho. Berbuat baik dulu pada orang tua, kaya dan sukses mengikuti. Restu mereka adalah Doa. Ini berpikir cara kanan, kesuksesan dilihat dengan keajaiban. Sesuatu yang menjadi rahmat atas perbuatan dan sikap baik. Bukan semata sebuah perencanaan yang baik atas angka-angka.

Kunci ketiga adalah hubungan baik dengan Tuhan. Simak cara Ippho menguraikan kedekatan dengan Tuhan sebagai sebuah titik tolak spiritual a la face book: Pertama, Tuhan mesti Anda add sebagai friend. Terus, banyak-banyaklah ganti status dengan Dia. Terus, banyak-banyaklah komunikasi wall to wall dengan Dia. Nah, begitu Anda sudah akrab, mudah-mudahan Anda akan sering mendapat notification dari Dia, sehingga intuisi Anda lebih peka terhadap sesuatu atau sesorang.

Uraian diatas menarik dan mudah difahami. Karena memang demikian gaya bahasa yang digunakan Ippho; renyah, lugas, dan humoris. Lihat saja bagaimana ia menulis: Gimana sih caranya agar kita bisa akarab dengan Dia? Yah, cobalah bisnis modal dengkul dan bisnis modal jidat. Modal dengkul maksudnya sering-sering bersimpuh. Modal jidat maksudnya sering-sering bersujud. Pembaca akan sering dibuat tertawa karena gaya penulisan Ippho ini memang enak disimak, tidak seperti buku motivasi umumnya yang kaku dan menggurui. Gaya tutur ini membuat pembaca diajak berpikir, menganalisa, dan membuat keputusan sendiri. Ada keintiman interaksi antara penulis dengan sidang pembaca melalui cara penulisan komunikatis seperti ini.

Interaksi dengan pembaca itu juga dibangun dengan berbagai pembenaran disertai bukti-bukti logis untuk mengajak pembaca menganggukkan kepala tanda setuju. Ippho membeberkan tentang apa perlunya bersedekah sekarang atau nanti, banyak atau sedikit. Ippho juga menguraikan apa perlunya menjadi seseorang atau sesuatu yang khas, beda, unik.  Dan tentu saja, seruan ibadah itu tak terlewatkan. Manusia sukses adalah mereka yang dekat dengan Tuhannya melalui cara masing-masing. Ippho menawarkan beberapa cara sesuai yang diajarkan Islam.

Ippho memang layak menyandang sebutan motivator, ia handal dalam berdagang. Konsep menjadi pedagang ini pula yang ia tawarkan sebagai sebuah solusi dari kejumputan berpikir atas masalah pendapatan penghasilan. Ippho menghadirkan kisah-kisah dan logika-logika sehingga berdagang menjadi pilihan yang mestinya tak terbantahkan. Secara implisit, ia menunjukkan bagaimana caranya berdagang, menjual lebih banyak, lebih mahal dan lebih cepat itu. Perhatikan bagaimana ia memberikan sebuah bab khusus dalam buku ini yang ia sebut Bonus Langsung 1.350.000.

Bab dengan hanya 4 halaman itu sesungguhnya adalah semacam brosur pemasarannya. Di sana berisi tentang kandungan CD motivasi yang menyertai buku ini (200 ribu). Kalender,poster,sticker motivasi (100 ribu). Lagu motivasi (50 ribu), serta konsultasi pribadi senilai 1 juta. Bukan hanya itu, disini juga ada kode nada sambung pribadi yang bisa dipasang dalam ponsel. Selain itu, dalam setiap bab, saat memberikan tips, ia juga tak henti-henti menyeru agar pembaca yang merasa termotivasi dengan buku ini supaya meminjamkan atau membelikan buku ini kepada orang lain yang dianggap perlu. Sebuah strategi pemasaran yang sederhana tapi cukup nyata. Dalam tempo 3 bulan, buku ini cetak ulang 7 kali!

Tak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan Gading Marten (ini kata Ippho), buku ini menyimpan pula cacat retak disana sini. Endorsement alias testimoni yang sampai 12 halaman di awal dan 10 halaman di akhir membuat semua terasa berbusa-busa. Barangkali ini menjadi khas buku motivasi. Tapi 22 halaman rasanya berlebihan.

Kemudian gambar-gambar yang dihadirkan dalam buku ini terkesan dipaksakan. Terkadang korelasinya tidak jelas antara gambar dan topik bahasan. Ukurannya yang kecil dengan cetakan hitam putih membuat gambar semakin kehilangan makna. Buat apa ada gambar jika tak memberi manfaat bagi pembaca, setidaknya memanjakan mata atau memperjelas teks.

Selain itu, margin kanan dan kiri yang tidak berimbang luasnya menyempitkan kesempatan pembaca untuk membuat coretan ditepian buku. Sebagai sebuah buku motivasi, hendaknya pembaca diberi ruang gerak untuk menuangkan pengalamannya dalam coretan sebagai catatan kesan proses pembacaannya. Terakhir, daftar isi yang tidak memuat sub bab, menjadikan pembaca yang ingin membaca ulang mesti membolak-balik halaman mencari bab apa di bagian mana.

Selebihnya, buku ini cocok bagi siapa saja yang butuh motivasi dan petunjuk tentang bagaimana meraih impian, cita-cita, dan keluar dari masalah-masalah yang selama ini dirasa membuat kehidupan jalan di tempat. Rubah cara berpikir, perbaiki kualitas anda hingga layak mendapat impian itu. Perbaiki hubungan sesama, dan dekatkan diri pada Tuhan. Memberilah sebanyak-banyaknya karena kau akan mendapat yang setara dengannya. Rayakan hidup, dan bernyanyilah seperti arek Suroboyo, “Right…ayo Right…, mlaku mlaku nang Tunjungan…”.

*) Seorang pecinta buku yang memasang sidik jari kemenangan: Di usia 32 tahunku, aku ingin jadi penulis yang diakui kompetensinya, dan bisa hidup dari menulis. Karena penulis adalah profesi, right? Salam Kanan…!!

Sumber: rightbrainaward.com

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan