-->

Resensi Toggle

128 Esai, 1 Buku

6P1wAq8yGaJudul: Tuhan Masih Pidato (kumpulan esai) | Karya: Asdar Muis RMS | Penyunting: Abdul Rahman Abu | Cetakan: Pertama (Agustus 2011) | Penerbit: Citra Pustaka, Yogyakarta | Isi: xxviii+416 halaman | Dimensi: 15×21 cm | ISBN: 978-979-19185-9-6

MAKANYA, sangat sulit mendapatkan ada orang yang suka meninggalkan jabatan, kekayaan, ketenaran yang telah diraihnya. Dapatlah dipastikan, orang-orang seperti itu akan memburu dan berupaya dengan segala cara untuk tetap berada pada posisi yang memberinya rasa nikmat.

Dua kalimat itu menutup karangan berjudul “Lelaki Sifilis di Depan Mesjid”. Esai itu tampil di antara halaman 37-39 dalam buku terbaru karya Asdar Muis RMS: Tuhan Masih Pidato (Citra Pustaka, Agustus 2011). Di bagian akhir karangannya, tertera titimangsa: ditulis di Makasar, 17 November 2006.

Saat menulis esai itu dulu, Asdar menjadi Direktur Pemberitaan Harian Pedoman Rakyat. Di dalam kolom pada Harian Pedoman Rakyat itu pula, setiap pekan, buah pikiran karya Asdar diterbitkan.

Sejauh apa peristiwa yang mengusik benak seorang Direktur Pemberitaan yang bekerja untuk Harian Pedoman Rakyat menemukan penyelesaiannya dalam sebuah karangan? Bukan tidak mungkinkah satu artikel di media cetak secara otomatis menuruti perubahan zaman? Sedangkan dalam esai (yang dua punch-line-nya dikutip di awal resensi ini), pembaca tidak diberitahu banyak tentang bagaimana si tukang parkir sekaligus tukang becak pengidap sifilis itu menderita setelah lima tahun berlalu. Padahal penyakitnya sudah dikisahkan dalam sebuah koran.

Berapa banyak esai – siapapun penulisnya – yang ditulis di masa lalu yang berhasil secara abadi akhirnya melampaui ketermasyhuran nama penulisnya sendiri? Terutama, ketika kejadian yang ditulis itu kemudian lenyap kehilangan nilai keaktualannya. Mungkin tidak banyak dalam sejarah.

Esai di Indonesia, terutama, dipopulerkan Goenawan Mohamad lewat Catatan Pinggir, sebentuk karangan khas dalam majalah berita mingguan Tempo, dulu sampai sekarang. Katanya, semacam marginalia (komentar-komentar pendek di tepi halaman buku yang sedang dibaca). Arief Budiman membahasakan esai sebagai komentar menarik tentang sebuah topik bukan hanya membahas buku bacaan semata.

Asdar Muis RMS, sembari menempatkan posisi yang selalu bernuansa keberpihakan untuk mengritik berbagai persoalan dalam kehidupan yang mengusik kesadarannya, seperti menyalurkan kontemplasi dari buah wawasan yang luwes. Tema karangan yang diusiknya pun nyaris tidak ada batasnya, kecuali ditandai penempatan tanda baca “titik” (.) di akhir esai-esainya yang terkumpul ini.

Tuhan Masih Pidato ialah sebuah karya tentang 1 penulis, 1 penyunting, 8 komentator tentang 128 esai. 128 di antara esainya yang terbit di Harian Pedoman Rakyat dalam kurun waktu 2003-2007 kini dibukukan dengan editor Abdul Rahman Abu. Asdar Muis RMS secara resmi meluncurkan bukunya ini ke publik pembacanya di Makassar, Jumat (19/8/2011).

*)Suar Okezone, 22 Agustus 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan