-->

Tokoh Toggle

Yonathan Rahardjo, Dokter Hewan yang Sastrawan

Yonathan rahardjoMeski berprofesi sebagai dokter hewan, Yonathan Rahardjo lebih dikenal sebagai sastrawan. Namanya dikenal publik sebagai penulis novel dan puisi.

NAMANYA Lanang. Lelaki itu dikenal sebagai seorang dokter hewan (drh) berdedikasi tinggi. Saban hari drh Lanang mengabdikan diri untuk masyarakat. Tanpa pamrih. Mulai mengobati hewan warga yang sakit hingga menjadi konsultan tentang aneka penyakit hewan. Hingga suatu saat, Lanang terperanjat.

Warga gempar karena sapi perah mereka mendadak mati mis terius. Mendapati fenomena itu, drh Lanang ikut panik. Beragam cara dilakukan untuk mencari tahu penyebabnya. Lanang menduga, sapi perah tersebut mati karena serangan virus. Pembawanya hewan transgenik bernama Burung Babi Hutan. Dia berkesimpulan, virus itu sengaja didatangkan pihak asing sebagai bagian dari rekayasa genetika ke negaranya tercinta.

Penggalan cerita di atas adalah ringkasan sebuah novel berjudul Lanang. Karangan semiilmiah itu ditulis oleh alumnus Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair). Meski fiksi belaka, novel setebal 440 halaman tersebut mengangkat tema tentang dunia kedokteran.
Khususnya, menyangkut kesehatan hewan. ”Novel itu adalah refleksi pikiran dan perasaan saya pribadi. Menurut saya, virus itu (flu burung) buatan manusia,” kata sang penulis drh Yonathan Rahardjo.

Saat itu, pria 42 tahun tersebut hendak meluncurkan novel terbaru berjudul Taman Api. Menurut Yonathan, Burung Babi Hutan dalam novel Lanang diumpamakan sebagai virus flu burung yang mewabah di tanah air. Virus yang menjangkiti hewan ternak pada 2003 tersebut memang menghantui peternak di negeri ini. ”Ironisnya, kita hanya diam dan tidak bisa apa-apa dengan virus itu,” ucapnya.

Yonathan bercerita, untuk mencegah datangnya virus itu, dokter Lanang sebagai tokoh utama dalam novel tersebut menginginkan masyarakat harus cerdas. Itulah satu-satunya cara untuk menyingkirkan virus misterius tersebut. ”Agar tidak dibodohi pihak asing, ya masyarakat harus dicerdaskan,” imbuhnya. Novel Lanang memang telah melambungkan Yonathan Rahardjo di jagat sastra Tanah Air.

Bagi Yonathan, Lanang adalah karya masterpiece. Novel itu bahkan diakuinya sudah terjual 5.000 lebih eksemplar. Novel itu berhasil nangkring di tangga teratas sayembara Dewan Kesenian Jakarta pada 2006. Lewat novel itu pula, namanya disandingkan dengan nama-nama besar di dunia sastra Indonesia. Apalagi, mereka memiliki latar belakang sebagai dokter hewan.

Mereka adalah drh Taufiq Ismail (penyair angkatan 1966), drh Asrul Sani (seniman pelopor angkatan 1945), dan drh Marah Rusli (pengarang novel Siti Nurbaya). Wartawan senior tiga zaman almarhum Rosihan Anwar saat itu memberikan apresiasi atas terbitnya buku tersebut. ”Yonathan seperti Taufiq Ismail yang juga dokter hewan, sama dengan Asrul Sani. Ditarik lebih jauh ke masa lampau, Marah Rusli, pengarang roman Siti Nurbaya, pun dokter hewan.

Saya pikir, tentu ada sesuatu yang ’spesial’ dengan dokter hewan. Bisa bersajak, bisa mengarang,” tulis Rosihan Anwar. Apresiasi yang tinggi juga datang dari Duta Besar Hungaria untuk Indonesia Mihaly Illes. ”Membaca novel ini, saya segera merasakan kemiripannya dengan kesusastraan Eropa abad ke-20,” tulisnya. Misalnya, novel Perancis Plague (Penyakit Pes) karya Albert Camus atau karya-karya Géza Csáth dalam kesusastraan Hungaria: kita harus menghadapi kehadiran simbolis, mistis, rasional, dan irasional secara bersamaan. ”Sebagai ’pemula’ dalam kesusastraan Indonesia, saya membandingkannya dengan Harimau-Harimau, karya Mochtar Lubis. Musikalitas dan plastisitas deskripsi dalam novel ini luar biasa, seperti skenario film!” papar sang duta besar.

Selain novel, dia doyan menulis opini, cerpen, serta puisi. Ragam tulisannya tersebar luas di berbagai media cetak. Dua buku antologi puisinya juga sudah beredar. Yaitu, Jawaban Kekacauan (2004) dan Kedaulatan Pangan (2009). Atas kepiawaiannya berolah kata, dia termasuk satu di antara 15 penulis Indonesia yang mengikuti Ubud Writers & Readers Festival pada 2009. ”Ya, semua itu adalah kebetulan. Sama sekali tidak saya pikirkan,” ujarnya merendah.

Yonathan Rahardjo memang tipikal dokter hewan yang langka. Alih-alih rutin memberikan pengobatan dan praktik, dia malah meninggalkan kamar praktik. Dia berpandangan, menjadi seorang dokter hewan tidak harus berpraktik. ”Dengan menulis, saya anggap diri saya sudah berpraktik. Justru masyarakat bisa baca kapan saja,” kelakarnya.

Pernyataannya itu beralasan. Hingga kini, pria berpenampilan nyentrik tersebut emang masih tetap aktif menulis. Khususnya, tentang kesehatan hewan. Tulisan dan jawaban atas konsultasi pasien terbit bulanan di Majalah Infovet. Majalah itu dikelola secara profesional di bawah Yayasan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI). Di organisasi profesional tersebut, dia pernah menjadi pengurus selama tiga periode.

Meski mengatakan tidak duduk di kamar praktik, pada awal 2000, Yonathan melakukan praktik dokter hewan keliling di Surabaya. Dia bersama beberapa rekan sesama dokter hewan memberikan pelayanan. Sebagai dokter, Yonathan tetap bertanggung jawab dengan statusnya. Pada 2004, dia menerbitkan buku ilmiah berjudul Avian Influenza; Pencegahan dan Pengendaliannya. Bukunya berjudul Setengah Abad Sejarah Ayam Ras Indonesia terbit pada 2000 serta Penyakit Unggas dan Pengendaliannya terbit pada 2002.

Berdasar pengalaman itu, dia tergerak menulis fakta-fakta miris dalam bentuk cerita imajiner. Itulah inspirasi hingga terbit novel Lanang pada 2008. Pada Mei 2011 terbit Taman Api. Dua novel itu lahir dari refleksi dan perenungan sehari-hari. ”Taman Api adalah novel saya yang terbaru,” kata dokter kelahiran 17 Januari 1969 itu. Di novel setebal 216 halaman itu, Jonathan berkisah tentang kehidupan waria dan homoseksual.

Sumber: Jawa Pos, 14 Juli 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan