-->

Lainnya Toggle

Warnet, Diskriminasi Perpustakaan

Oleh: Andrias C

Secara sederhana, arti perpustakaan kampus bisa diterjemahkan sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah institusi, dan dimanfaatkan oleh mahasiswa yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biaya sendiri.

Di samping itu, bila dilihat dari tujuan menurut Pasal 4 Bab I Undang-Undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007, tujuan utama perpustakaan, yakni dapat memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, dan memperluas wawasan serta pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di sisi lain, perpustakaan memainkan peranan penting sebagai jembatan menuju penguasaan ilmu pengetahuan, memberikan kontribusi penting bagi terbukanya informasi tentang ilmu pengetahuan, tersedianya informasi dan data yang akurat bagi proses pengambilan keputusan serta perencanaan, dan pemustaka dapat menyegarkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang ditekuni dan diasuhnya.

Bila dilihat dari arti dan tujuannya, maka perpustakaan dimungkinkan akan banyak pemustaka karena memberikan manfaat yang positif. Namun, apa yang terjadi saat ini? Perpustakaan sepi dari pemustaka.

Ironis memang bila melihat keadaan seperti itu. Lalu apa sebabnya? Mudahnya, penyebab dari permasalahan tersebut adalah kemajuan teknologi yang ditandai dengan makin banyaknya warnet yang didirikan.

Fakta yang terjadi saat ini, banyak mahasiswa lebih memilih pergi ke warnet daripada perpustakaan. Tentu ada faktor pendorong yang melatarbelakanginya, seperti:

1. Mudahnya proses mengakses informasi di warnet. Ini berbanding terbalik dengan rumitnya proses yang diterapkan di perpustakaan, yaitu harus ada pendaftaran menjadi anggota perpustakaan terlebih dahulu dengan berbagai syarat.

2. Keterbatasan buku yang dimiliki menjadi kendala bagi perpustakaan. Namun, tidak terbatasnya informasi yang ditawarkan oleh warnet menjadi daya tarik tersendiri.

3. Banyaknya fasilitas yang dimiliki oleh warnet yang menggiurkan secara tidak langsung semakin menenggelamkan citra perpustakaan di mata mahasiswa saat ini.

Sudah menjadi bukti bahwa diskriminasi warnet terhadap perpustakaan. Bayangkan apa yang terjadi ke depannya bila ini terjadi dan tiada pemecahan masalah tersebut? Bukan tidak mungkin jika perpustakaan hanya akan menjadi sejarah yang dikenang di masa yang akan datang.

Maka dari itu, pengelola perpustakaan harus lebih cermat dalam pengembangan perpustakaan untuk mengembalikan citra dan menumbuhkan kembali minat mahasiswa untuk pergi ke perpustakaan.

Andrias C
Mahasiwa Fakultas Psikologi
Universitas Muria Kudus

Sumber: Portal berita Okezone.com, 11 Juli 2011

SECARA sederhana, arti perpustakaan kampus bisa diterjemahkan sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah institusi, dan dimanfaatkan oleh mahasiswa yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biaya sendiri.

Di samping itu, bila dilihat dari tujuan menurut Pasal 4 Bab I Undang-Undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007, tujuan utama perpustakaan, yakni dapat memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, dan memperluas wawasan serta pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di sisi lain, perpustakaan memainkan peranan penting sebagai jembatan menuju penguasaan ilmu pengetahuan, memberikan kontribusi penting bagi terbukanya informasi tentang ilmu pengetahuan, tersedianya informasi dan data yang akurat bagi proses pengambilan keputusan serta perencanaan, dan pemustaka dapat menyegarkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang ditekuni dan diasuhnya.

Bila dilihat dari arti dan tujuannya, maka perpustakaan dimungkinkan akan banyak pemustaka karena memberikan manfaat yang positif. Namun, apa yang terjadi saat ini? Perpustakaan sepi dari pemustaka.

Ironis memang bila melihat keadaan seperti itu. Lalu apa sebabnya? Mudahnya, penyebab dari permasalahan tersebut adalah kemajuan teknologi yang ditandai dengan makin banyaknya warnet yang didirikan.

Fakta yang terjadi saat ini, banyak mahasiswa lebih memilih pergi ke warnet daripada perpustakaan. Tentu ada faktor pendorong yang melatarbelakanginya, seperti:

1. Mudahnya proses mengakses informasi di warnet. Ini berbanding terbalik dengan rumitnya proses yang diterapkan di perpustakaan, yaitu harus ada pendaftaran menjadi anggota perpustakaan terlebih dahulu dengan berbagai syarat.

2. Keterbatasan buku yang dimiliki menjadi kendala bagi perpustakaan. Namun, tidak terbatasnya informasi yang ditawarkan oleh warnet menjadi daya tarik tersendiri.

3. Banyaknya fasilitas yang dimiliki oleh warnet yang menggiurkan secara tidak langsung semakin menenggelamkan citra perpustakaan di mata mahasiswa saat ini.

Sudah menjadi bukti bahwa diskriminasi warnet terhadap perpustakaan. Bayangkan apa yang terjadi ke depannya bila ini terjadi dan tiada pemecahan masalah tersebut? Bukan tidak mungkin jika perpustakaan
hanya akan menjadi sejarah yang dikenang di masa yang akan datang.

Maka dari itu, pengelola perpustakaan harus lebih cermat dalam pengembangan perpustakaan untuk mengembalikan citra dan menumbuhkan kembali minat mahasiswa untuk pergi ke perpustakaan.

Andrias C
Mahasiwa fakultas Psikologi
Universitas Muria Kudus

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan