-->

Kronik Toggle

Saut Situmorang: "Jangan Pura-Pura Jenius"

Absennya “tradisi kritik sastra” dalam sejarah Sastra Indonesia menjadi penyebab dominannya Mitos dlm wacana kritisnya. Selain itu, perlu dihidupkan kembali api polemik yang harus jadi ciri utama Sastra Indonesia agar ekspresi pendapat kritis tidak lagi merupakan sebuah tabu. Tabu yang dibuat-buat untuk menutupi impotensi berpikir.

Demikian pendapat esais dan penyair Saut Situmorang menanggapi dugaan Seno Gumira Ajidarma melakukan plagiat pada salah satu cerpennya yang diganjar hadiah sebagai Cerpen Pilihan Kompas Terbaik 2011. Cerpen yang dimaksud adalah Dodolit Dodolit Dodolibret. Berbagai silang pendapat pun terjadi, baik di facebook maupun di twitter.

Di dinding facebook Abdul Malik (1/7), penulis buku Politik Sastra ini menantang kejujuran etis Seno Gumira Ajidarma. “Kalok memang benar Seno “kaget” (kayak kata desas-desus Densus) atas kebutaan Juri Kompas ttg asal-usul cerpennya, Seno harusnya menolak hadiahnya! Itulah Etika Seni!Bagaimana seandainya para Juri Keren itu memang sudah tahu silsilah kelahiran cerpennya, apa mungkin dia dimenangkan?” ujarnya.

Bagi Saut, plagiarisme itu menyontek tanpa memberi tahu. Apropriasi intertekstual itu mengadopsi sambil memberi tahu apa yang sedang dipermainkan. Pinjam-meminjam ide itu biasa dalam dunia seni dan telah menghasilkan berbagai ide dan genre baru, seperti Parodi dan Pastiche. Tapi ya diberi tahu! Jangan pura-pura jenius. Itulah yang disebut orisinalitas dan kejeniusan seniman. Namun Seno tidak melakukan itu.

“Disclaimer yg dibuat Seno di akhir cerpennya tersebut tidak relevan karena tidak Menyatakan apa2! Itu cuma teknik cuci tangan dari tanggung jawab yg terlalu kentara ketidakseriusannya sebagai referensi intertekstual” lanjut Saut. (GM/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan