-->

Lainnya Toggle

Polusi dan Para Penumpang Gelap Sastra Indonesia

Tia SetiadiOleh: Kian Santang

Samudra Mata Air Kisah telah terpolusi!

Ini kabar buruk yang mengguncangkan seluruh penghuni dan pengunjung Samudra Mata Air Kisah. Khattam Shud, si raja kegelapan, telah menyumbat pusaran sumber mata air kisah dan menebarkan racun mematikan. Racun yang ditebar Khattam Shud sangat banyak dan beraneka, sebab setiap arus kisah harus dihancurkan dengan cara berbeda-beda.Untuk menghancurkan arus kisah misteri ia mesti membuatnya gampang ditebak, untuk menghancurkan arus kisah cinta ia mengubahnya jadi melodrama, untuk menghancurkan arus kisah tragedi ia mesti membuatnya jadi sesuatu yang menggelikan. Akibatnya, para pendongeng dari seluruh penjuru dunia tiba-tiba mendapati lidahnya kelu, kisah-kisahnya kehilangan pesona, dan para pendengarnya pada hengkang.

Bagaimana menjernihkan kembali Samudra Mata Air Kisah? Novel Haroun and the Sea of the Stories karya Salman Rushdie membabarkan petualangan yang asyik dan menegangkan dari para penghuni dan pecinta Samudra Mata Air Dongeng dalam mengusir Khattam Shud, dan membebaskan pancaran mata air kisah dari cengkramannya. Secara genial dan jenaka, tanpa jatuh pada slogan kosong, Rushdie lewat novel ini menghadirkan sebuah alegori perlawanan pada setiap kekuasaan yang menekan, membatasi dan mengeruhkan kebeningan cakrawal fiksional. Khattam Shud bisa ditasrif sebagai tamsil bagi si tangan besi yang dengan dalih agama, tradisi, atau moral hendak menghalau kemeriahan karnaval imaji serta meracuni arus-arus kisah para pendongeng.

Membaca novel Haroun and the Sea of the Stories ingatan saya melayang pada masa-masa Orde Baru di mana kerapkali terjadi pelarangan buku (seperti terjadi pada buku-buku Pramoedya), pencekalan pentas teater (seperti terjadi pada pentas lautan Jilbab Emha), pelarangan baca sajak (seperti terjadi berkali-kali pada Rendra). Berakhirnya Orde Baru, memberikan ionosfer kebebasan yang lapang bagi para pendongeng: kini hampir tak pernah terjadi lagi pelarangan buku atau pelarangan pentas. Namun, itu tak berarti Samudra Mata Air Kisah sudah bening dan bebas polusi. Pertanyaannya: darimana kini racun-racun itu berasal? Siapa pengganti Khattam Shud?.

Pada hemat saya, fenomena-fenomena berikut adalah racun-racun dan polusi yang mengeruhkan kejernihan samudra mata air sastra indonesia. Fenomena Pertama, membludaknya novel-novel populer yang sangat laku di pasaran, dan berlagak atau menyaru sebagai novel-novel serius. Sebetulnya, booming novel semacam ini bukanlah pertama kalinya terjadi di jagat sastra indonesia. Nun di sekitar penghujung tahun 30an membanjir apa yang disebut Parada Harahap sebagai “Roman Pitjisan”, dengan para penulisnya seperti Matu Mona, Jusuf Souyb, A Damhari, Merayu Sukma, Martha, Motinggo Busye, Hamka. Karya-karya mereka sangat laku keras. Sebagai ilustrasi: tatkala novel-novel serius seperti Salah Asuhan (Abdul Muis) dan Layar Terkembang (Sutan Takdir Alisjahbana) sulit mencapai tiras penjualan 1.000 eks, maka novel Ustaz A.Masjuk (Martha) telah mengalami cetakan ketiga dengan oplah kira-kira 10.000 eks.

Akan tetapi, ada perbedaan mencolok antara para penulis roman pitjisan tahun 30an dengan para pengarang novel populer tahun 2000an: yakni apabila para penulis roman pitjisan tahun 30an sangat sadar posisinya dalam piramida penulis sastra indonesia, sadar bahwa novel-novel bestseller yang ditulisnya sekedar karya kelas dua (bahkan kelas tiga) yang bertujuan menggamit sebanyak mungkin pembaca, maka para pengarang novel populer tahun 2000an banyak yang tak sadar posisi dan merasa dirinya berada di atas (bahkan teratas) dalam piramida penulis sastra indonesia, tak sadar bahwa novel-novel bestseller yang ditulisnya tak berbanding lurus dengan mutunya.Tanpa malu-malau misalnya, di setiap novel Habiburrahman selalu terdapat pernyataan ini: novelis no.1 Asia Tenggara. Tampaknya, Habiburrahman merasa bahwa dia representasi dari novelis indonesia yang maha sukses, dengan ukuran buku-bukunya yang mega bestseller.

Kini, sudah datang masanya bagi para penulis seperti Habiburrahman El Shirazi, Damien Demetra, dll, untuk belajar banyak dari para pengarang roman pitjisan atau dari para penulis novel populer Amerika macam Stephen King, Amy Tan, dan John Grisham. Meskipun Stephen King sangat produktif (ia telah menulis lebih dari 50 novel tebal) dan buku-bukunya hampir semua bestseller, ia tak berlagak seakan-akan dirinya John Updike atau John Steinbeck. Dalam memoarnya yang bertajuk On Writing dengan tulus dia mengakui bahwa dirnya penulis kelas dua, yang jauh berada di bawah Updike, Hemingway, atau Faulkner. Stephen King tak hendak mengecoh dan mengelabui para pembacanya, dia tak menyaru menjadi penumpang gelap di gerbong kereta eksekutif sastra Amerika. Dia berada di gerbong yang berbeda dengan para sastrawan serius.

Fenomena kedua, dalam satu dasawarsa terakhir ini banyak sekali para penumpang gelap dalam kereta sastra Indonesia, yang karena kuatnya modal sosial (dekat dengan para pengarang mapan) serta modal ekonomi bisa dengan mudah menikmati fasilitas para penumpang resmi yang sudah mumpuni seperti mudahnya akses ke media masa nasional, mudahnya mengikuti pelbagai festival sastra dan budaya di dalam dan bahkan di luar negri, dan sebagainya. Sungguh polutif dan tidak sehat, bila seorang penulis yang karya-karyanya belum teruji dengan baik, sudah dilambung-lambungkan setinggi mungkin secara tak proporsional.

Pujian yang berlebihan dari para penulis mapan justru bisa menjadi racun yang mematikan. Dalam hal ini, para penulis mapan pun sebetulnya harus dimintai pertanggungjawabannya. Sebagai sedikit gambaran dari fenomen ini, saya ambil contoh komentar Arswendo Atmowiloto terhadap buku kuncer Dewi Lestari Filosofi Kopi: “Kalau kemarin panitia Nobel Sastra masih maju mundur dengan nama Pramoedya, sekarang bisa memaknai kembali, melalui karya-karya ini”. Sungguh fantastik! Tetapi betapa menyesatkan dan seenaknya komentar ini. Memang Filosofi Kopi bukanlah kuncer yang buruk, bahkan cerita-ceritanya banyak yang asyik, tetapi mengatakan karya ini melebihi karya-karya Pram sungguh sukar diterima. Jikalau Dee terlena dengan pujian itu, maka Arswendo sudah membunuhnya!. Hemat saya, pujian-pujian model begini harus segera dihentikan dan digiring pada tradisi kritik sastra yang lebih bermartabat.

Fenomena ketiga, industri perbukuan yang tak sehat. Pasca reformasi 1998, penerbit-penerbit tumbuh seperti cendawan musim hujan. Namun, banyak sekali di antara penerbit-penerbit itu tak semata market oriented melainkan juga sudah polutif. Banyak novel yang dipesan penerbit dan harus jadi selama 6 atau 9 hari, dengan tema aktual yang juga dipesan penerbit, lantas dipublikasikan dengan nama pengarang palsu. Sungguh pembodohan yang nyata!.Setahu saya, fenomena ini betul-betul baru dalam sejarah novel di indonesia, dan saya bertanya-tanya apakah fenomena ini terjadi juga di negara lain?.

Saya harap tidak. Dan saya harap seluruh penghuni dan pecinta samudra mata air sastra indonesia berjuang bahu membahu menjernihkan kembali arus-arusnya, menangkal racun-racunnya, dan mengusir siapa pun yang berpretensi jadi Khattam Shud.

Sumber: Disalin dari catatan facebook Kian Santang, 17 Juli 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan