-->

Resensi Toggle

Panduan Resensi

Oleh: Asep Dudinov AR

Resensi buku adalah salah satu jenis penulisan populer yang sering ditemukan di hampir setiap media massa: surat kabar harian maupun majalah yang diterbitkan mingguan.

Di koran pada umumnya, resensi buku hadir pada hari Minggu, walaupun sebagian ada yang memilih hari lain dan digabung dalam suplemen khusus. Sedangkan di majalah tentu saja di awal pekan, di setiap edisi baru muncul. Resensi sepertinya menjadi menu wajib dan sekaligus favorit yang mesti terhidang secara berkala.

Menjadi wajib karena salah satu fungsi media massa adalah menyebarkan gagasan dan ilmu pengetahuan yang diantaranya terdapat dalam buku buku baru. Dan menjadi favorit karena pada rubrik inilah incaran para penulis muda dalam mengasah keterampilan menulis sebelum terjun dalam penulisan opini yang dikenal lebih ketat dan selektif, bersaing dengan penulis senior dan juga para profesor.

Penulis penulis sohor yang kita kenal sekarang macam Goenawan Mohamad, Budi Darma, Eep Saefullah Fatah, Abdul Munir Mulkhan, Fachry Ali, (alm) Gus Dur, dan lain lain juga memulai awal karir kepenulisannya lewat menulis resensi buku di koran dan majalah.

Salah satu yang pernah saya baca adalah resensi Gus Dur terhadap buku Catatan Harian Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam. Judul resensinya sungguh mengugah untuk dibaca, Bak Tukang Batu Menghantam Tembok, dimuat di salah satu majalah nasional, puluhan tahun yang silam. Dan kita tahu bahwa di kemudian hari Gus Dur menjadi penulis kolom yang jempolan. Piawai merangkai kata dan kokoh dalam argumentasi, dengan struktur kata yang runut dan logis.

Jelas, bahwa menulis resensi buku bukan perkara gampang. tak bisa dianggap enteng dan remeh. Tak bisa digampang-gampangkan dan tak mesti jua dibuat sulit selagi mau belajar.

Dan tentu saja latihan menulis yang konsisten dan terus menerus, tak pernah putus asa karena sekali dua di tolak dan dikembalikan. Mengikuti ucapan Stephen King bahwa “Kalau engkau ingin menjadi penulis ada dua hal yang harus kau lakukan; banyak membaca dan menulis. Setahuku, tidak ada jalan lain selain dua hal ini, dan tidak ada jalan pintas”.

Ya, tak ada jalan pintas agar mahir menulis selain membaca dan menulis itu sendiri, termasuk dalam meresensi buku. Menulis, menulis, dan menulis resensi buku adalah cara paling ampuh dalam mengambil gizi saripati buku yang terdapat di dalamnya.

Maka, buku yang berjudul mentereng ini, Berguru Pada Pesohor: Panduan Wajib Menulis Resensi Buku yang ditulis oleh duet penulis handal dari dbuku dan Indonesia Buku, Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan adalah semacam tips dan trik ketika hendak menulis resensi.

Boleh dikatakan sebagai buku how to meresensi. Mungkin seperti petunjuk A sampai Z-nya membuat resensi yang menarik dan menggugah untuk dibaca. Dimulai dari pemilihan judul yang eye catching dan membetot pembaca agar suntuk menelusuri paragraf pertama hingga mengunci kesimpulan pada kalimat terakhir.

Sejatinya, penulisan resensi tak hanya sarana promosi dan membaik baikkan sebuah buku belaka, melainkan juga menimbang buku secara kritis. Di tangan penulis resensi-lah nasib sebuah buku ditentukan, apakah melaju dengan tenang atau malah terbuka “borok borok” buku.

Ini penting bagi khalayak pembaca agar tak percuma ketika menukar rupiah dengan buku yang dibelinya. Dalam bahasa duo penulis buku ini, seorang resensor dituntut mempunyai mata berganda: mata seorang wisatawan yang memandang elok semua sudut dan sekaligus mata seorang penyidik yang awas ke setiap penjuru tempat.

Dengan lincah dan penulisan yang mengalir, kedua penulis buku ini memberikan alur yang mudah untuk diikuti dalam membuat sebuah resensi buku. Dimulai dari pemilihan buku yang akan diresensi, apakah lama atau baru, tergantung dari konteks tujuan penulisan. Koran dan majalah yang menuntut kebaruan tentunya memprioritaskan buku buku baru untuk halaman resensinya. Lain cerita jika kita membuat antologi resensi.

Membuat judul terlihat menarik memang penting, namun jika tak dibarengi dengan alinea pertama yang membikin penasaran orang untuk terus membaca akan menjadi sia sia. Di awal pembuka resensi inilah biasanya seorang resensor mesti memilah dan memilih paragraf yang menjadi “beranda” resensi. Apabila terlihat elok, tak segan akan menuntunnya hingga “halaman” belakang alias paragraf terakhir yang menjadi kunci dari resensi buku.

Apa yang menjadi kelebihan dari buku ini adalah Pertama, bahwa kedua penulis buku ini sudah malah melintang di dunia perbukuan. Menulis bermacam macam buku, dan tentu saja artikel resensi buku yang dimuat di pelbagai media massa, baik koran atau majalah. Jadi, integritas kedua penulis buku tentang panduan resensi buku tak perlu diragukan karena pada kenyataanya dunia resensi buku sudah mendarah daging dan pernah dilakoninya.

Kedua, bahwa buku ini dalam memberikan contoh penulisan resensi selalu mencomot resensi buku yang pernah dimuat di media massa, sehingga tulisannya menjadi gamblang dan penuh dengan contoh. Terkesan agak teknis, namun sesuai dengan judul bukunya, sebuah panduan menulis resensi buku. Kedua penulis ini amat piawai dalam menganalisa contoh contoh penulisan resensi di pagina koran dan halaman majalah.

Ketiga, di bab bab terakhir,  dua penulis ini memberikan bab “bonus” terkait dengan cara menerbitkan antologi resensi buku hingga cara mendapatkan ISBN seteknis teknisnya. Belum lagi penyertaan puluhan alamat media massa yang menyediakan ruangan resensi, lengkap dengan perkiraan honor yang akan didapat oleh seorang resensor jika tulisannya dimuat.

Tak dapat dipungkiri bahwa bahwa asupan ekonomis atas sebuah resensi tak bisa dielakkan karena menulis adalah sebuah kata kerja yang memang pantas untuk dihargai, setidak tidaknya diapresiasi.

Memang tak ada gading yang tak retak, termasuk buku ini. Buku yang secara substansial bagus ini mencatat kealpaan kealpaan teknis, entah salah ketik dari dua penulis sendiri atau salah cetak dari penerbit.

Di halaman 6 misalnya tertulis “amggota” mestinya “anggota”. “dlontarkan” harusnya “dilontarkan” (hal 26), “karya” tertulis “karja” (hal 38). Michael Pearson malah tertulis “Michael Person”, “berikut” tertulis “berokiu” di halaman 63. Mestinya Rommy Fibri ditulis “Tommy Fibri”, harusnya Toeti Kakiailatu malah tertulis “Toeiti Kakilatu” dan lain sebagainya.

Kesalahan juga terjadi pada inkonsistensi penulisan kata dan nama, “frase” di satu halaman, di halaman yang lain tertulis “frasa”,  “Merakesumba” dan “Merekesumba”, “Poeradisastra” dan “Puradisastra”, “Boejong Saleh” dan “Boejoeng Saleh”, “Abdurrachman Surjomihardjo” dan “Abdurrachman Soerjomihardjo”.

Dan yang cukup fatal adalah penyebutan nama judul buku karangan Gola Gong, yang mestinya Catatan Si Roy menjadi “Catatan Si Boy” (hal 76). Kalau tak salah, Catatan Si Boy adalah rekaan Zarra Zetira. Teknis memang, namun agak mengganggu terhadap kenyamanan membaca. Over all, buku ini layak baca dan direkomendasi menjadi pegangan calon resensor buku.

*) DIkutip dari blog https://posterous.com/, 25 Juli 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan