-->

Kronik Toggle

Novelis NH Dini Raih Achmad Bakrie Award

Enam putra bangsa meraih Achmad Bakrie Award atas pemikiran dan kontribusi mereka bagi kemajuan bangsa, salah satunya adalah novelis sastra terkemuka, NH Dini. Penghargaan tersebut akan diserahkan menjelang peringatan proklamasi di Ballroom Djakarta Theatre pada 14 Agustus 2011.

Ketua Panitia Penghargaan Achmad Bakrie Award, Ardiansyah Bakrie, mengatakan bahwa pihaknya ingin memberikan apresiasi kepada anak-anak bangsa yang berkualitas, meski mereka mungkin belum banyak dikenal masyarakat. “Ini untuk memberikan apresiasi kepada pahlawan-pahlawan bangsa,” kata dia.

Penggagas Achmad Bakrie Award, Rizal Malaranggeng, meminta semua pihak untuk tidak melihat Bakrie Award dari nominal hadiah yang diberikan. “Sebuah bangsa bisa maju bukan karena emas dan minyak, tapi karena pemikiran yang seimbang. Jadi harus ada penciptaan tradisi ini, dan ilmuwan yang berdiri di garis terdepan,” jelasnya. Lantas siapa saja peraih Achmad Bakrie Award tahun ini?

Adrian B. Lapian

Adrian meraih penghargaan di bidang pemikiran sosial. Ia merupakan sejarawan bidang maritim yang membuka lembaran baru penulisan sejarah kawasan Indonesia dan Asia Tenggara. “Tanpa henti dia mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara laut yang utama di dunia,” kata Wakil Ketua Dewan Juri Bakrie Award, Ulil Abshar Abdala, di Freedom Institute, Jakarta, Kamis 28 Juli 2011.

Ulil menjelaskan, Adrian memberikan sudut pandang baru terhadap peran bajak laut dalam sejarah Indonesia. “Dia juga memperbaiki citra pelayaran pribumi yang sempat merosot pada abad ke-18 dan ke-19,” papar Ulil. Namun, imbuhnya, berita duka datang karena Adrian wafat pada 19 Juni 2011, tak lama setelah Dewan Juri menetapkannya sebagai peraih penghargaan.

NH Dini

Siapa tak kenal NH Dini? Ia meraih penghargaan di bidang sastra. Di sepanjang kariernya, Dini dinilai telah memperkuat realisme, merintis ideologi antipatriarki, dan mendalami novel otobiografis. “Dini memperlihatkan, perempuan bisa tampil wajar dengan dirinya sendiri,” kata Ulil.

Sebelumnya, jelas Ulil, sosok perempuan dalam dunia sastra biasa digambarkan oleh penulis laki-laki. Karya Dini juga dinilai sebagai induk dari novel populer. Dini merupakan pionir novelis perempuan di awal tahun 90-an.

Satyanegara

Satyanegara meraih penghargaan di bidang kedokteran. “Dia mempelopori penentuan standar rumah sakit di Indonesia,” ujar Ulil. Satyanegara merupakan satu-satunya penulis buku teks ilmu bedah saraf di Indonesia. Dia dinilai layak disebut sebagai peletak pondasi sekaligus wali bedah saraf Indonesia.

Jatna Supriatna

Jatna meraih penghargaan di bidang sains. Ia merupakan ilmuwan dan pejuang konservasi. Dia memperteguh pentingnya wallace area dengan menjadikan Sulawesi dan daerah di sekitarnya sebagai laboratorium alam untuk mendeduksi proses evolusi.

FG Winarno

Winarno meraih penghargaan di bidang teknologi. Ia mengembangkan ilmu pangan dan memberi karakter pada pertumbuhan teknologi pangan di Indonesia, yaitu keamanan pangan dan teknologi tepat guna. Ia dinilai paham dan konsisten soal ketahanan pangan. Dia mengkampanyekan pentingnya kecukupan gizi pada setiap orang. Tujuannya, agar individu mampu hidup sehat dan produktif.

Hokky Situngki

Hokky meraih hadiah khusus untuk ilmuwan muda berprestasi. Hokky banyak melakukan penelitian menarik yang sifatnya nontradisional. Dia memanfaatkan teknologi modern dalam penelitian-penelitiannya. Hasil penelitian Hokky dimuat dalam berbagai konferensi dan jurnal internasional. (ren)
*) Vivanews,28 Juli 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan