-->

Kronik Toggle

Mahasiswa Yogya Lebih Senang Konsultasi ke Biro Skripsi

Jakarta – Mahasiswa di Yogyakarta baik dari perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS) lebih senang konsultasi ke Biro Bimbingan Skripsi (BBS) daripada dosen pembimbing. Alasannya adalah rumitnya birokrasi akademik di kampus dan kurang optimalnya dosen pembimbing.

“Salah satu penyebab maraknya bisnis Biro Bimbingan Skripsi (BBS) di Yogya adalah rumitnya birokrasi akademis terutama skripsi di kampus yang kadangkala membuat mahasiswa tertekan,” kata Hujair AH Sanaky penulis buku “Academics Underground, Adaan, Layanan, dan Pengguna Jasa Bimbingan Skripsi di Yogya” dalam diskusi buku di Kampus Universitas Atma Jaya Yogyakarta, di Jl Babarsari, Kamis (21/7/2011).

Selain itu lanjut Hujair, kesibukan dosen sehingga seringkali sulit ditemui juga seringkali mengakibatkan kurang optimalnya dalam bimbingan skripsi. Sementara itu di sisi lain, mahasiswa juga dituntut untuk cepat selesai. Namun di sisi lain tidak semua mahasiswa mampu menulis dan susah mengurus berbagai hal berkaitan dengan skripsi seperti mengurus perizinan, penelitian serta kemampuan mengolah data dan informasi.

“Mereka ingin cepat selesai, tapi pola hubungan antara mahasiswa dengan lembaga pendidikan juga sudah berubah lebih bersifat transaksional,” kata Hujair.

Dia kemudian menceritakan awal mula penelitian yang dilakukan hingga menjadi sebuah buku. Menurutnya kasus penulisan skripsi mahasiswa Strata (S1) di Yogyakarta dan maraknya bisnis BBS itu sebenarnya merupakan masalah klise dan selalu terjadi berulang kali. Namun dia juga tidak akan membahas masalah plagiatisme.

“Yang kami soroti adalah maraknya bisnis tersebut dengan segala macam sisinya. Boleh dikata bisnis tersebut sudah mengepung di semua kampus,” katanya.

Menurut dia, dalam melakukan penelitian dimulai dari info atau iklan bimbingan/ konsultasi di pasang di 7 koran yang ada di Yogyakarta. Selain itu di beberapa tempat pengetikan skripsi juga ada yang menawarkan bisnis tersebut. Dalam pemasaran, mereka juga melakukan dari mulut ke mulut melalui beberapa mahasiswa yang telah menjadi klien pelayanannya.

“Saya melacak satu per satu, dari beberapa responden yang kami teliti kami sering mengalami kendala karena ada yang tidak bersedia dan ada juga yang bersedia,” katanya.

Selain itu lanjut dia, dalam melakukan penelitian juga dilakukan secara langsung dengan cara masuk/ ikut menjadi klien BBS. Dirinya meminta bantuan mahasiswa untuk ikut bimbingan di BBS agar bisa menggali lebih dalam data dan informasi. “Semua kita bayar sesuai kesepakatan,” katanya.

Menurut Hujair, soal tarif bermacam-macam sesuai kesepakatan dengan kisaran Rp 1-5 juta. Tergantung dari mana dimulainya apakah mulai dari pengajuan judul, penelitian, pengolahan data hingga penulisan. Klien mereka juga tidak hanya S1 tapi jenjang S2 juga ada. Kebanyakan yang memanfaatkan itu adalah mahasiswa kelas reguler, ekstensi dan kelas jarah jauh yang sebagian besar adalah mahasiswa yang telah bekerja dan menjabat di sebuah instansi.

“Mereka ada yang hanya melayani untuk mahasiswa Yogya saja tapi juga ada dari luar kota. Hampir semua perguruan tinggi di Yogya baik PTN dan PTS banyak yang memanfaatnya BBS. Untuk lebih detail informasinya bisa dilihat di buku saya,” kata Hujair.

Sementara Koordinator Kopertis V, DIY, Dr Ir Bambang Supriadi menanggapi hal tersebut mengatakan adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi semakin memudahkan orang/ mahasiswa melakukan hal-hal tersebut.

“Saya melihat mahasiswa ingin hal-hal yang bersifat instan. Ini juga bisa disebut runtuhnya nilai kejujuran ilmiah dalam dunia pendidikan. Namun Kopertis tidak bisa mengatur langsung mengenai skripsi tapi hanya bisa mengontrol saja,” pungkas Bambang.

(bgs/vit)

*)Detiknews, 21 Juli 2011

1 Comment

cyncpymn - 08. Feb, 2013 -

I am sure you will love qnBNrMlk [URL= – burberry boots[/URL – to your friends PrEOUMwN [URL= – [/URL –

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan