-->

Resensi Toggle

Kabar Resensi Pekan Keempat Juli 2011

KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia. Disusun oleh Aya Hidayah.

Tak Ada Santo dari Sirkus

Karya Seno Joko Suyono

Resensi ditulis Budi Kleden

Dimuat KOMPAS, 24 Juli 2011

Tak Ada Santo dari Sirkus adalah sebuah gugatan terhadap hilangnya humor dalam agama-agama. Aku, si tokoh utama di dalam novel Seno ini, mengisahkan pengalamannya yang berkaitan dengan sirkus dari dua masa dan di tempat berbeda. Kisah masa kecil yang diceritakan dalam alur mundur yang memepertemukan kita dalam dunia sirkus yang memadukan kejenakaan dan musik. Panduan ini dihadirkan kembali pada masa dewasa sang tokoh utama berkisah tentang petualangannya sebagai seorang tenaga sukarela untuk perdamaian di sebuah kota tanpa nama.

Indonesia/Proses

Karya Goenawan Mohamad

Resensi ditulis Veven SP. Wardhana

Dimuat KORAN TEMPO, 24 Juli 2011

GM tak sebatas bicara perihal kebudayaan melainkan lebih luas dan lebih dalam lagi, yakni “identitas” sebuah bangsa. Sementara itu, bangsa dan identitas yang dipaparkan tak sebatas Indonesia, kendati subjudul buku ini terkesan menyaran pada negeri ini. GM sendiri tak menyebutkan organisasi yang menggunakan atau mengatasnamakan agama ini dalam bukunya. Untuk menunjukkan betapa nation, bangsa itu sebagai sesuatu yang bukan benda mati, berhenti, kedap, utuh, abadi beku, GM memaparkan beberapa contoh di tiap geografi politik yang memiliki pemaknaan yang berlain-lainan.

Sebelas Patriot

Karya Andrea Hirata

Resensi ditulis RR Masyitah

Dimuat  KEDAULATAN RAKYAT, 24 Juli 2011

Pengorbanan seorang ayah, cinta seorang anak, kegigihan mencapai mimpi menjadi seorang pemain sepakbola nasional dan patriotisme, menjadikan novel ini penuh warna. Sekalipun terkesan banyak pesan namun novel ini tidak menjadi indoktrinatif. Berbeda dengan novel Andrea yang lainnya. Novel kali ini tidak bertele-tele ceritanya namun lugas dan sekalipun fiksi namun cukup realistis.

Kritik Budaya Komunikasi

Karya Idi Subandy Ibrahim

Resensi ditulis Sarworo Soeprapto

Dimuat  KEDAULATAN RAKYAT, 24 Juli 2011

Dalam buku ini ada 4 tema besar yang diulas penulis. Selain masalah krisis budaya di ruang publik, hal lain yang disorot adalah fenomena budaya kekerasan dalam masyarakat yang telah menjelma menjadi media kekerasan di ruang publik, budaya politisi yang merebaknya budaya hedonisme dan hadirnya perang budaya citra yang juga tengah berlangsung di ruang publik.

Character Buliding: Menuju Indonesia Lebih Baik

Karya Erie Sudewo

Resensi ditulis Anif Punto Utomo

Dimuat REPUBLIKA, 24 Juli 2011

Keprihatinan terhadap merosotnya karakter bangsa Indonesia merisaukan Erie Sudewo. Kegemasannya untuk memperbaiki karakter itu diwujudkan lewat buku Character Building: Menuju Indonesia Lebih Baik. Sebuah buku yang berbicara tentang bagaimana karakter harus dididik sejak dini sehingga akan melekat terus sampai kapan pun. Dalam buku ini juga dijabarkan karakter dasar dalam diri kita.  Namun ada poin yang sedikit berbeda meskipun pengaruhnya tetap sama. Tiga karakter dasar yang diulas adalah tidak egois, jujur, dan disiplin.

Empat Esai Etika Politik

Karya F. Budi Hardiman | Robertus Robert | A Setyo Wibowo | Thomas Hidya Tjaya

Resensi ditulis Musyfak

Dimuat SUARA MERDEKA, 24 Juli 2011

Kumpulan esai 4 penulis yang tergabung dalam buku Empat Esai Etika Politik ini dihadirkan dalam rangka mengatasi kebangkrutan etika politik. Menilik ulang arah politik secara filosofis guna merumuskan arah politik kebangsaan menuju keadaban yang semestinya. Ikhtiar yang mengintensifkan kesadaran politik dengan menjunjung tinggi nilai-nilai etis yang dibedakan oleh para filsuf besar Jurgen Habermas, Jacques Ranciere, Albert Camus, dan Emmanuel Levinas.

Madre

Karya Dewi Lestari

Resensi ditulis Redaksi

Dimuat TRIBUN JOGJA, 24 Juli 2011

Kisah dalam novel Madre diawali kedatangan Tansen  seorang pemuda dengan pekerjaan tidak tetap. Ia hidup di Bali lalu ke Jakarta. Kedatangannya di kota tersebut didorong rasa penasaran akibat ditunjuk menjadi ahli waris seorang bernama Tan. Kedatangan Tansen kemudian dijawab oleh Madre, toko roti tua yang nyaris reot, beserta sederet peralatan memasak usang di dalamnya. Ia juga bertemu dengan Pak Hadi dan hal-hal lain yang dianggapnya sebuah lelucon yang tak masuk akal. Tansen pun menolak menjadi ahli waris dan merelakan Pak Hadi, selaku pengasuh toko yang untuk menjual Madre. Kisah berliku dialami Tansen, hingga kemudian bertemu seorang gadis bernama Mei. (Aya Hidayah/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan