-->

Resensi Toggle

Kabar Resensi Pekan Kedua Juli 2011

KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia. Disusun oleh Aya Hidayah.

Model Demokrasi Lokal: Jawa Timur, Sumatra Barat, Sulawesi Selatan, dan Bali

Karya Siti Zuhro | Eko Prasojo | Tommi Legowo | Wenny Pahlemy

Resensi ditulis Made Leo Wiratma

Dimuat KOMPAS, 10 Juli 2011

Buku ini berusaha menjelaskan karakter demokrasi lokal melalui tiga faktor dari banyaknya faktor yang berpengaruh dalam perkembangan demokrasi. Tiga faktor itu adalah nilai politik lokal, peran aktor, dan fungsi kelembagaan. Melalui proses penelitian yang cukup panjang, sekitar tiga tahun buku ini menjadi penanda  empat model demokrasi lokal yang masing-masing mencerminkan karakter demokrasi atau demokrasi di keempat daerah tersebut.

masa-depan-tuhanMasa Depan Tuhan: Sanggahan Terhadap Fundamentalisme dan Ateisme

Karya Karen Armstrong

Resensi ditulis Wildani Hefni

Dimuat KORAN TEMPO, 10 Juli 2011

Pada bagian pertama buku ini Armstrong menjelaskan nilai subtantif ajaran agama yang sering kali dipahami oleh sekelompok orang yang mencoba memahami Tuhan dari pelbagai prespektif. Dalam bagian kedua, Armstorng tampak menelusuri kebangkitan Tuhan modern yang menggulingkan banyak persangkaan pada agama tradisional. Buku ini memberikan prespektif baru agar kita melihat masalah-masalah tentang Tuhan dan agama secara lebih bijak agar kita tak terjerumus dalam sikap kekerasan yang tidak toleran khususnya dalam dunia religiositas yang sedang marak saat ini.

Monggo Dipun Badhog

Karya Dukut Imam Widodo

Resensi ditulis Sol Amrida

Dimuat JAWA POS, 10 Juli 2011

Membaca Judul buku ini, sebagian orang mungkin akan mengira bahwa penulis tak mengindahkan etika atau norma di masyarakat Surabaya. Kata Badhog (dibaca: mbadog) yang digunakan untuk judul buku ini, bagi sebagian besar masyarakat Surabaya atau di tanah Jawa umumnya, adalah respresentasi kata yang kasar, tak sopan. Tapi, bagi penulis kata badhog sungguh sangat beralasan. Dengan membandingkan kata-kata yang ada, kata badhog sangat tepat untuk mempresentasikan berbagai jenis makanan yang merupakan kesukaan masyarakat Kota Pahlawan. Buku ini berisi penjelasan mengenai lebih dari 80 jenis makanan, minuman, serta jajanan lama. Berbagai jenis makanan dan minuman diperinci satu persatu disertai gambaran sejarah dan kondisi sosial serta ‘filosofi’ nama-nama badhongan.

Ujian Nasional: Kelulusan vs Kejujuran

Karya Syafbrani bin Zainoeddin

Resensi ditulis Hendra Sugiantoro

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 10 Juli 2011

Ujian Nasional (Unas) tak pernah sepi dari permasalahan. Unas telah menjadi masalah bersama. Bukan hanya persoalan pemerintah, guru maupun dinas pendidikan, tapi juga masyarakat. Unas sebagai bentuk evaluasi tak selalu berbuah keberhasilan. Benar apa yang diutarakan penulis pada buku ini, jika ingin pemetaan pendidikannya berjalan baik, maka berilah gambaran yang sesuai dengan reaitasnya.

Mengapa Saya Memilih Negara Islam

Karya Dewi Triana

Resensi ditulis Benni Setiawan

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 10 Juli 2011

Buku ini lahir berdasarkan fakta dan pengungkapan data berdasarkan wawancara mendalam (indept interview) yang dilakukan sekitar enam bulan. Buku ini memuat bagaimana seseorang dapat menjadi bagian NII, mulai dari bujukan saudara kandung, teman dekat sugesti teman kuliah, kenalan baru yang simpatik, sandiwara kakak kelas. Lebih lanjut Dewi juga mengungkapkan beberapa faktor yang turut mempengaruhi seseorang dapat terjerumus dalam NII KW 9.

Corporate Social Responsibility: Kunci Meraih Kemulian bisnis

Karaya Joko Prastowo dan Miftachul Huda

Resensi ditulis Tommy Setiawan

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 10 Juli 2011

Buku ini merupakan sebuah penyadaran perusahaan atau korupsi-korupsi yang lama ini kurang peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Jalal dalam kata pengantarnya menuliskan bahwa CSR menurutnya adalah suatu bisnis yang bermula tercela menuju bisnis yang terpuji. Mengapa demikian? Karena selama ini perusahaan atau korporasi yang hanya mengejar keuntungan dan mendapatkan ‘celaan’ dari masyarakat sekitarnya.

Cerita Azra: Biografi Cebdekiawan Muslim Azyumardi Azra

Karaya Andina Dwifatma

Resensi ditulis Susie Evidia Y

Dimuat REPUBLIKA, 10 Juli 2011

Buku ‘Cerita Azra’ tidak ada kaitannya dengan ide-ide dan pemikiran cemerlang Azyumardi Azra. Buku ini tampil beda, mengungkap sisi lain kehidupan Azyumardi Azra yang belum diketahui publik. Mulai masa kecilnya yang keras didaerah terpencil Lubuk Alung, Sumatra Barat, sampai hijrah kuliah di IAIN Jakarta. Ia menjadi mahasiswa aktivis yang rajin demonstrsi, pernah juga sampai babak belur. Juga tentang perjalanan dan kisah menarik selama di Amerika hasil meraih beasiswa ke beasiswa.

Jangan Tulis Kami Teroris

Karya Linda Christanty

Resensi ditulis Ahmad Khotim Muzakka

Dimuat SUARA MERDEKA, 10 Juli 2011

Dalam tulisan bertajuk “Jangan Tulis Kami Teroris”, yang dijadikan judul buku ini, Linda mengisahkan perjalanan menuju Darul Mujahiddin Bireuen. Oleh pemuda bernam Mustafa, Linda diberi tahu syarat untuk bisa memasuki dayah itu: “harus pakai jilbab. Tidak boleh pakai celana. Harus pakai Rok atau sarung.” Bermula dari peristiwa kecil ini, diskusi dibuka. Ia mengajukan pelbagai pertanyaan, argumentasi dan sanggahan. Buku ini tak hanya menyajikan hal-hal yang dogmatis. Tidak juga membenamkan ideologi secara anarkis . Linda mengajak kita menghidupkan nalar dan kritis.

Naga Kuning (The Yellow Dragon)

Karya Yusiana Basuki

Resensi ditulis Ulani Yunus

Dimuat TRIBUN JOGJA, 10 Juli 2011

Cerita dimulai dengan kehidupan gadis cantik nan cerdas, Lily Kho. Pada saat tragedi kerusuhan Mei 1998 di Jakarta, Lily Kho, putri tunggal pewaris seluruh kekayaan orangtuanya, pemilik grup perusahaan Naga Kuning, diperkosa oleh sejumlah oknum tak dikenal. Tarauma yang begitu mendalam, membuat Lily kehilangan ingatan. Beban paling berat yang harus melekat pada diri Lily adalah kehamilannya dari benih salah seorang pemerkosanya. Benih itu dibiarkan berkembang dalam rahim Lily dan lahir sebagai anak perempuan yang cantik dan berambut ikal. Lika-liku perjalanan Lily dalam proses penyembuhan dari traumanya menjadimenarik karena penulis menguraikannya melalui tempat-tempat yang paling diinginkan untuk dikunjungi semua orang di dunia ini. Novel ini semula ditulis dalam bahasa Inggris. Kemudian diterjemahkan kebahasa Indonesia oleh Valentina Sirait. (Aya Hidayah/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan