-->

Kronik Toggle

Fenomena Poconggg Juga Pocong, Sold Out Dalam 1 Jam (1)

Ratusan anak sekolah menenteng payung serentak mendatangi sebuah gerai makanan cepat saji di Cilandak Town Square (Citos), Jakarta Selatan, menciptakan kehebohan di bulan April lalu. Sambil mengacung-acungkan selembar kertas bertuliskan nama akun Twitter masing-masing, gerombolan yang didominasi oleh remaja putri ini mengaku mencari Pocong!

Siapakah gerangan si Pocong yang diributkan itu? Dialah pemilik akun Twitter bernama @Poconggg yang awal Juli lalu mengeluarkan sebuah buku berjudul Pocong Juga Poconggg (PJP). Buku yang berisi kumpulan “kicauan” Poconggg di dunia maya ini laku keras, bahkan kabarnya sudah 5 kali cetak ulang dalam jangka waktu kurang dari sebulan. Para remaja pengikut (follower , Red .) akun Poconggg di ranah Twitter “menyerbu” Citos dengan iming-iming nama mereka akan dimasukkan ke dalam PJP.

Sejak setahun lalu, Poconggg masuk ke dunia Twitter. Tampil dengan avatar lucu, pocong yang dalam dunia nyata berkaitan dengan hal-hal seram dan menakutkan, justru selalu menghadirkan kisah-kisah kocak kepada para pengikutnya. Sejak itu, Poconggg menjelma menjadi selebtwit (selebriti Twitter). Pengikutnya pun sudah mencapai lebih dari 500 ribu orang, kebanyakan berusia remaja.

Ketika dihubungi melalui telepon, Poconggg yang enggan menyebutkan identitas aslinya itu mengaku kaget melihat tanggapan yang diterimanya. “Saya bikin akun ini iseng-iseng saja, enggak ada maksud apa-apa. Pemilihan nama @Poconggg pun alasannya untuk lucu-lucuan saja, pocong yang tangannya terikat, kok, bisa punya akun Twitter,” selorohnya.

Tragedi Citos

Dibuat sekitar tahun 2009, “Baru setahun berikutnya saya aktif di Twitter. Semakin lama semakin banyak yang follow . Untuk mencapai jumlah 10 ribu follower butuh waktu lumayan lama. Setelah itu terus bertambah, jadi 100 ribu, 200 ribu dan sampai sekarang sudah mencapai 500 ribu. Senang juga, sih, berarti banyak yang suka sama saya,” ucapnya.

Meski pengikutnya sudah banyak, tak ada waktu khusus yang diberikan Poconggg dalam mengelola akunnya. “Kalau sempat saja, sampai banyak yang tanya kenapa saya enggak bikin tweet baru,” tuturnya sambil tertawa. Sampai akhirnya Poconggg berteman dengan seorang blogger bernama Bena yang kemudian memperkenalkannya ke Raditya Dika, blogger dan penulis buku. “Memang sudah lama banyak yang tanya dan kasih ide, kenapa enggak dibikin buku saja apa yang saya tulis di Twitter. Ternyata jalannya seperti ini,” papar Poconggg yang kemudian berkenalan dengan penerbit Bukune.

Untuk menerbitkan buku pertamanya ini, diperlukan waktu sekitar 6 bulan hingga naik cetak. “Selama pembuatan buku itu, iseng-iseng saya menyebar info bagi siapa saja yang ingin namanya dimasukkan ke dalam buku silakan datang ke Citos. Sengaja saya bikin tambah aneh, yang datang saya suruh bawa payung dan datang di hari kerja.”

Yang terjadi selanjutnya adalah keriuhan. “Ketika itu. harapan saya enggak bakal banyak yang datang, paling hanya 10 atau 20 orang saja. Eh, ternyata dugaan saya salah! Ada ratusan orang datang pakai payung ke Citos. Sampai diusir-usir Satpam. Ha ha ha…” Karena identitasnya tak ingin terungkap, “Saya minta Bena yang datang ke sana, Bena saja sampai diusir dan diantar ke mobil oleh Satpam,” tambahnya sambil kembali tertawa.

Tak heran ketika Buku PJP akhirnya selesai dicetak dan beredar pada 1 Juli kemarin, PJP langsung ludes terjual habis. Selain aktif di Twitter, Poconggg juga rutin menulis di blog probadinya, www.poconggg.com. Dalam blog yang juga selalu ramai pengunjung itu, Poconggg juga mengunggah video peristiwa heboh di Citos dalam posting berjudul ‘Tragedi Citos’.

Edwin, Swita / bersambung

*) tabloidnova.com, 26 Juli 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan