-->

Kronik Toggle

95 Persen Perpustakaan di Jabar tak Terawat dan tak Layak

BOGOR– Tidak lebih dari lima persen perpustakaan yang ada di Jawa Barat maupun Indonesia yang kondisinya layak dan terawat. Sisanya sekitar 95 persen perpustakaan yang ada di Jabar dan Indonesia dalam kondisi tidak terawat dan tidak layak.

Hal ini diungkapkan pustakawan Institut Pertanian Bogor (IPB) Drs. Mustofa, M. Lib. yang juga penggagas deklarasi Komitmen Perpustakaan Berbagi Database, Jumat (8/7). Menurut dia, ada lebih dari 500 ribu perpustakaan yang ada di Indonesia, termasuk perpustakaan daerah dan sekolah. Sementara, di Jabar tercatat lebih dari 500 perpustakaan. “Rasanya tidak sampai lima persen yang terawat dengan baik dan layak,” lanjutnya.

Dikatakan Mustofa, sebagian besar kondisi ini disebabkan karena kurangnya tenaga ahli di bidang perpustakaan yang dipekerjakan di setiap perpustakaan. Akibatnya, para penjaga perpustakaan pun tidak bisa mengolah buku dengan baik. “Klasifikasi buku, menentukan subjek buku, serta menentukan kata kunci merupakan hal tersulit yang harus dilakukan oleh pustakawan. Sayangnya, tidak semua pustakawan bisa melakukannya dengan benar,” lanjut Mustofa.

Tampilan perpustakaan yang kurang menarik dan jadul juga menjadi salah satu kendala perpustakaan kurang bisa berkembang. Masyarakat akhirnya lebih suka melakukan pencarian melalui internet atau media lain sementara perpustakaan tidak bisa mengejar ketertinggalan itu. Padahal, potensi perpustakaan yang banyak dalam hal jumlah seharusnya bisa menjadi sumber informasi bagi masyarakat agar lebih pandai. “Sayang, tenaganya terbatas,” lanjutnya.

Untuk itu, Mustofa dan rekan-rekannya yang tergabung dalam Tim Pengembangan Aplikasi Otomasi Perpustakaan ‘MysipisisPro’ mendeklarasikan ‘Komitmen Perpustakaan Berbagi Database’. Dengan sistem ini maka pustakawan dapat menghemat waktu dalam mengolah data buku. Sebab, tinggal mengunduh dari web yang telah ada. “Kami menyediakan sistem yang akan melayani para pustakawan sehingga mereka bisa mengolah data buku dengan cepat dan tepat. Ini sesuai dengan apa yang diamanatkan dalam Undang-undang No. 43 tahun 2007 tentang perpustakaan”, ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga meluncurkan peralatan kiosk self checout/checkin RFID (Radio Frecquency Identification) produksi anak bangsa yang memudahkan masyarakat untuk melakukan proses pinjam buku secara mandiri. “Alat ini semacam ATM milik bank. Jadi, peminjam tinggal meletakkan buku yang akan dipinjamnya dan kartu anggota dalam alat ini, semjuanya sudah tercatat, tidak perlu scanning satu per satu,” katanya.

Ditambahkan Mustofa, harga kiosk produksi anak bangsa yang jauh lebih murah yakni hanya 20-25% dari harga produk impor yang bisa mencapai Rp 300 juta. Diharapkan fasilitas ini dapat meningkatkan mutu layanan perpustakaan sekaligus citra perpustakaan di mata masyarakat. “Jika ada kesan keren di perpustakaan, tentunya akan semakin banyak orang yang berkunjung ke sana,” tambahnya.

Sumber: Portal berita Pikiran Rakyat, 8 Juli 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan