-->

Lainnya Toggle

Wertheim Collection

lababum ni'amjpgoleh Lubabun Ni’am

Jika kita harus menyebut seorang ilmuwan yang sangat memengaruhi perkembangan sosiologi dan sejarah Indonesia, tapi kini semakin jarang dilirik, tentulah sosok Wim F. Wertheim (1907-1998) salah satunya. Menurut Ahmad Nashih Luthfi (2009), Wertheim berhasil menurunkan karakter kecendekiaannya yang menonjol, yakni kuatnya imajinasi sosiologi yang historis dan imajinasi sejarah yang sosiologis, kepada sejumlah mahasiswa Indonesia yang kini jamak dikenal sebagai sosok ilmuwan. Mulai dari Sajogyo, Soediono M.P. Tjondronegoro, Sartono Kartodirdjo, Bachtiar Rifai, sampai Harsya W. Bachtiar.

Wertheim tak hanya seorang ilmuwan Belanda pengkaji Indonesia, tetapi juga—pinjam istilah Ibrahim Isa—sahabat rakyat Indonesia. Wertheim sudah sangat dikenal lewat karya-karyanya yang emansipatif-ideologis. Makin bertambah usia, karya yang ditulisnya ternyata semakin emansipatif-ideologis. Tetapi, karya yang paling kesohor di Indonesia adalah buku Masyarakat Indonesia dalam Transisi: Studi Perubahan Sosial. Nah, saking dekatnya diri Wertheim pada Indonesia, sampai-sampai buku koleksi pribadinya mesti didekatkan pada masyarakat (akademik) Indonesia, setelah Wertheim tutup usia pada 3 November 1998.

Pada 2002, lebih dari 3.500 buku koleksi Indonesianis Wim F. Wertheim dikirim dari Amsterdam menuju Jakarta. Ini kejadian tak lazim: gelondongan “berhala pengetahuan” justru meninggalkan Belanda, apalagi menuju Indonesia. Tetapi, atas permintaan personal Sartono Kartodirdjo—seorang mahasiswa Wertheim ketika menempuh studi doktoral ilmu sejarah di Universitas Amsterdam—sebagian koleksi yang menuntun kepakaran Wertheim tentang Indonesia itu “disemayamkan” di Indonesia. Perjalanan pengiriman melalui jalur laut tersebut memakan waktu sekitar tiga bulan. Menembus samudera dan dua benua.

Koleksi yang belakangan berada dalam perpustakaan sebuah pusat studi di Universitas Gadjah Mada tersebut kini betul-betul “bersemayam” di ruangan pojok bernama Wertheim Collection. Keberadaan Wertheim Collection di sana tentu melengkapi koleksi perpustakaan pusat studi, yang sudah terlebih dulu ada; serta kemudian koleksi buku almarhum Loekman Soetrisno dan Soegijanto Padmo. Empat perpustakaan tersebut berada dalam ruangan yang terpisah. Hanya saja, kelengkapan pendingin ruangan (AC, air conditioner) cuma terdapat di ruangan Wertheim Collection. Sebuah hidangan awal yang lumayan bikin dada sesak.

Pusat studi tersebut pernah memiliki kiprah signifikan dalam membangun ilmu sosial di Indonesia. Nama para begawan ilmu sosial Indonesia seperti Mubyarto, Loekman Soetrisno, termasuk Sartono Kartodirdjo tercatat pernah memimpin pusat studi itu. Warisan keilmuan mereka masih, dan bakal terus, dirujuk para pembelajar di belantara ilmu sosial-humaniora. Dan, tak hanya di lingkungan kampus yang bersangkutan, tetapi juga dalam jagat keilmuan Indonesia. Terutama sekali dalam bidang kajian pedesaan, yang kini mulai ditinggalkan.

Khusus untuk Wertheim Collection, selain jarang dikunjungi mahasiswa—suatu fenomena umum di semua perpustakaan di negeri ini, AC yang sudah terpasang tak dihidupkan saban waktu. Betapapun, di ketiga perpustakaan, hanya ruangan Wertheim Collection yang sudah terpasang AC. Di perpustakaan utama pusat studi itu memang terdapat AC zaman baheula, tetapi sudah tidak berfungsi. Jadi, begitu terik surya memuncak, keringat pun bercucuran.

Proses klasifikasi dan penataan buku Wertheim Collection pun tak berjalan. Lebih dari separuh buku-buku Wertheim Collection itu berbahasa Belanda. Berdasarkan data yang dimiliki pihak pusat studi, koleksi Wertheim Collection itu 1.980 berbahasa Belanda, 1.094 berbahasa Inggris, 277 berbahasa Indonesia. Pustakawan di pusat studi tersebut mengaku bahwa pihak pusat studi sekarang tak memiliki dana buat pengelolaannya. Katanya, hal itu mencakup ketidakmampuan menempatkan seorang yang fasih berbahasa Belanda untuk membantu kelancaran klasifikasi dan penataan. Buku-buku pun asal ditaruh di atas rak.

Mulanya, buku-buku koleksi Wertheim itu sempat diajukan agar dikelola perpustakaan pusat kampus yang bersangkutan. Tetapi, hal itu pun ditampik. Perpustakaan kampus itu sekarang mengelola ribuan buku yang dulu sempat menjadi pemenuh Perpustakaan Hatta, dengan cara yang tidak kalah memilukan. Buku-buku dibiarkan berdebu dan ditempatkan dalam ruangan yang tidak ber-AC. Kampus tertua di Indonesia tersebut tampaknya mulai tidak dipercaya untuk mengelola buku. Tak pelak, ketika Sartono Kartodirdjo meninggal, ribuan koleksinya pun dipercayakan oleh pihak keluarga almarhum ke kampus lainnya.

Beberapa tahun lalu, pihak pusat studi pernah mengajukan proposal dana pengelolaan Wertheim Collection, tetapi disetujui dengan dana yang tak banyak. Proposal tersebut pun justru tidak diajukan kepada para pembesar universitas. Upaya ini tentulah membikin miris. Untuk sekadar membiayai operasionalisasi satu ruang perpustakaan, sebuah pusat studi dari kampus tertua di Indonesia ini tidak mampu mengusahakan secara mandiri. Di tengah biaya melimpah yang diterima oleh kampus dari ribuan mahasiswa setiap tahun, ternyata hanya pembangunan gedung perkuliahan yang terus digenjot. Fasilitas gedung semakin mewah, tetapi sumber pustaka bagi mahasiswa dibiarkan lapuk digerogoti kutu buku dan debu.

Keberadaan koleksi buku yang merupakan “wakaf” dari seorang ilmuwan sebenarnya mesti mendapatkan perhatian lebih. Sebab, tidak hanya sebagai prestise akademik sebuah institusi perguruan tinggi, tetapi juga merupakan “cagar alam” untuk menelusuri bagaimana seorang ilmuwan tersebut bergelut dengan dirinya dalam keheningan di depan ribuan referensi. Saya bisa “menyaksikan” seorang Wertheim yang mencoret-coret berbagai bukunya dengan pensil demi menuangkan buah pemikiran dalam sebuah buku. Salah satunya, itulah imajinasi saya seketika menyimak sejenak buku Wertheim Collection. Tiada surga seindah itu di dunia ini.

Yogyakarta, 22 Juni 2011

Setelah mampir lagi ke Wertheim Collection pada Selasa, 21 Juni 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan