-->

Kronik Toggle

Utusan Istana Menjenguk Penghafal Naskah 'I La Galigo'

Jakarta – Puang Matoa Saidi, satu-satunya penghafal naskah I La Galigo yang masih hidup. Kini, ia terbaring lemah di rumahnya di Pangkep, Sulawesi Selatan, akibat sakit tifus akut. Prihatin dengan penyakit Puang yang tak kunjung sembuh sejak tiga bulan lalu, Istana Kepresidenan turun tangan dan mengirim utusan menjenguk lelaki berumur 51 tahun itu.

Staf Khusus Presiden RI Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Muhammad Nurkhoiron, yang mewakili istana berangkat ke Pangkep dan mengatakan bahwa Puang mengeluhkan sakit pada sekujur tubuhnya. Badannya lemas, buang air terasa sangat sakit, dan jika malam diserang demam. “Bicaranya lirih sekali, sulit untuk didengarkan,” kata Nurkhoiron. “Kami sedang mengupayakan second opinion atas penyakitnya untuk pengobatan yang lebih baik.”

Menurut Nurkhoiron, Puang sejak tiga bulan lalu sejatinya sudah berobat dan menjalani rawat inap di Rumah Sakit Labuang Baji, Makassar. Namun, penyakitnya tak juga pergi. Selama didera sakit, Puang selalu mencemaskan belum adanya pengganti yang bisa mewarisi kemampuannya menghafal naskah I La Galigo.

Naskah I La Galigo adalah manuskrip kuno milik Suku Bugis yang ditemukan pada abad ke-12. Dengan tebal lima ribu halaman, I La Galigo diakui dunia sebagai karya sastra terpanjang yang pernah ada. Selama berabad-abad, naskah itu dihafal dan dilestarikan oleh Bissu, komunitas spiritual pemegang teguh adat Bugis kuno. Namun kini, keberadaan mereka hampir punah.

I La Galigo sendiri saat ini menjadi salah satu bahan kajian yang paling menarik dalam studi sastra, budaya, dan agama di universitas-universitas Barat. Beberapa tahun lalu, epik yang lebih panjang dari Ramayana maupun Mahabarata ini dipentaskan keliling dunia oleh sebuah grup teater asing.

Beberapa bagian naskah I La Galigo bercerita mengenai bencana alam. Naskah itu juga bercerita tentang proses penciptaan dunia dan sejarah konflik umat manusia. Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Istana sendiri tertarik untuk mendapatkan tafsiran atas kisah-kisah bencana alam dalam naskah tersebut.

Menurut Nurkhoiron, kesembuhan Puang penting artinya bagi Indonesia dan dunia. “Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan kabupaten untuk memfasilitasi penanganan yang lebih baik,” kata Nurkhoiron.

ISMA SAVITRI

*)Tempointeraktif, 18 Juni 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan