-->

Kronik Toggle

Ratusan Buku Terkumpul: Gerakan Wakaf Buku di Sumbar

recycle poster outline

Padang, Padek—Komunitas Padang Membaca (KPM) semakin memantapkan gerakannya mengedukasi masyarakat dalam membaca melalui gerakan wakaf buku. Dalam acara lesehan ”Kawan Sapabukuan” di Galeri Taman Budaya Sumbar, Minggu (12/6), telah terkumpul sekitar 700 buku. Semua buku-buku tersebut berasal dari sumbangan masyarakat dan toko buku seperti, Toko Buku Sari Anggrek dan Toko Buku Gramedia.

Hal ini juga sejalan dengan animo masyarakat untuk ikut menjadi bagian dalam gerakan membaca di Sumbar. Acara pertama yang digelar KPM sejak dideklarasikan 23 April lalu itu dihadiri lebih dari 150 orang. Berasal dari berbagai kalangan, terutama anak-anak muda.

”Gerakan membaca ini merupakan gerakan radikal untuk memberantas kebodohan dan pembodohan. KPM memiliki semangat pergerakan, dalam artian, mengedukasi masyarakat dalam penguatan budaya baca. Untuk penguatan ini, harus melibatkan banyak orang atau pihak, sehingga program-program literasi akan menjadi mudah,” kata ketua Komunitas Padang Membaca, Yusrizal KW.

Melalui gerakan membaca, terutama di kalangan anak-anak dan remaja, kata redaktur khusus Padang Ekspres ini, nasib bangsa ini akan lebih baik. Sebab, di masa depan, anak-anak dan remaja ini akan tumbuh menjadi masyarakat yang gemar membaca dan memiliki pengetahuan.

Dengan demikian, mereka memiliki kriteria ideal dalam memilih seorang pemimpin untuk Indonesia lebih baik di masa datang. Sekaligus menjadi pemimpin yang tentunya lebih baik dibanding mereka yang tidak gemar membaca. ”Membaca akan memberi pengaruh positif tentang pentingnya menambah ilmu pengetahuan dan memahami nilai-nilai kemanusiaan melalui buku,” ujarnya.

Terkait wakaf buku, Koordinator Wakaf Buku KPM, Roni Saputra mengungkapkan, kegiatan ini salah satu upaya KPM dengan cara mengumpulkan buku-buku dari perorangan, lembaga, komunitas, dan penerbit, dengan sistim hibah. Di mana, pewakaf menyumbangkan buku-bukunya, baik buku baru atau bekas, sesuai keinginannya.

Buku-buku yang terkumpul kemudian akan disumbangkan KPM kepada perpustakaan komunitas, surau/masjid, serta nagari/kelurahan. Perpustakaan atau Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang akan disumbangkan buku-buku tersebut dibangun KPM bersama masyarakat.

”Dalam hal ini KPM tidak memiliki perpustakaan. Kami hanya membantu mengumpulkan buku melalui wakaf buku ini. Di samping itu, bagi masyarakat yang ingin menyumbangkan buku-buku selain bisa diantar langsung ke sekretariat KPM. Bahkan, kami juga bersedia menjemput ke alamat pewakaf atau penyumbang tersebut,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, orang-orang yang pernah melakukan gerakan membaca di tengah masyarakat menuturkan pengalamannya. Seperti, Hj Syaufni Chalid, membangun perpustakaan sendiri untuk mengembangkan minat baca masyarakat di Ulu Gadut, Padang, dengan cara memulung buku.

Inspirasinya muncul ketika melihat anak-anak yang tamat sekolah, cenderung menumpuk buku-bukunya, sehingga menjadi barang tidak berguna. Akan lebih baik kalau buku-buku tersebut dikumpulkan lalu disumbangkan ke perpustakaan atau TBM, sehingga bisa dimanfaatkan oleh anak-anak yang lain. Dia pun memulung buku-buku itu, hingga sekarang telah berhasil mengumpulkan 20 ribu buku.

”Mengenai tempat untuk perpustakaan, sebagian masyarakat kita, terutama perantau, suka membangun rumah lalu ditinggalkan. Nah, dari pada rumah tersebut dibiarkan kosong atau tidak dihuni, saya pikir lebih baik dijadikan perpustakaan atau taman bacaan masyarakat,” katanya.

Pengalaman lainnya, juga diceritakan Rusmana, dosen Universitas Andalas yang pernah melakukan gerakan membaca bersama mahasiswa Unand pada masyarakat Batu Busuk, Kecamatan Pauh, Padang. Menurutnya gerakan membaca ini sangat membutuhkan dukungan semua pihak. Karena mengajak masyarakat untuk membaca bukanlah hal mudah. (*)

Sumber: Portal berita Padang Ekspres, 13 Juni 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan