-->

Lainnya Toggle

Pusat Studi dan Perpustakaan Sunda

may pader

Oleh: Drs. Cece Hidayat*

ADA semacam mitos yang beredar di masyarakat Sunda yang memang sulit terbantahkan kebenarannya, bahwa kalau ingin belajar dan meneliti masalah bahasa, sastra, dan budaya Sunda harus pergi ke Belanda. Mengapa demikian? Konon di sana –di Universiteit Bibhliotheek Leiden– terdapat sumber-sumber pustaka yang lengkap. Banyak peneliti kita yang mesti pergi ke sana karena semua pustaka klasik sampai moderen ada di sana. Buku-buku dan majalah atau surat kabar, sejak zaman kolonial hingga kini tersimpan dengan aman, dan menjadi sumber referensi para peneliti.

Sudah banyak peneliti dan cendikiawan Sunda yang mengadakan studi di Belanda, baik atas beasiswa dari Belanda, maupun atas beasiswa negara kita. Sederet nama intelektual dan peneliti Sunda yang pernah berkutat dengan koleksi bibliotik Universitas Leiden, misalya: Prof. Dr. Yus Rusyana, Prof. Dr. Edi S Ekadjati, Prof. Dr. Ajatrohaedi, Prof. Dr. Ajip Rosidi. Demikian pula peneliti dari luar Sunda seperti Prof. Dr. Mikihiro Moriyama, MA. dari Jepang. Mereka semua mengunakan dan memanfaatkan sumber-sumber kekayaan intelektual kita di sana, yang tidak dimiliki oleh kita sendiri sebagai pemiliknya.

Untunglah kita memiliki intelektual Sunda yang peduli, sehingga sebagian kekayaan budaya kita yang dimiliki oleh Negeri Belanda, dapat diboyong kembali ke Tatar Sunda, walau hanya dalam bentuk fotokopi atau microfish. Ini dilakukan oleh Prof.Dr. Edi S Ekadjati, ketika beliau menjabat sebagai Pimpinan Proyek Pengkajian dan Peneltian Kebudayaan Sunda (Sundanologi), sekitar tahun 1980-an. Koleksi-koleksi berupa fotokopi majalah zaman dapat kita baca kembali. Semua koleksi disimpan di Perpustakaan Sundanologi, yang waktu itu berada di salah satu ruangan perpustakaan Konferensi Asia Afrika di Gedung Merdeka Bandung.

Di perpustakaan inilah para peneliti, peminat kebudayaan Sunda dan para mahasiswa yang ngulik basa, sastra, dan kebudayaan Sunda, sebagian kebutuhannya cukup terlayani. Sayang usia perpustakaan ini tidak berlangsung lama, selain karena dibiayai oleh proyek, dan tempatnya menumpang pada Perpustakaan KAA di Gedung Merdeka, juga tidak dikelola dengan baik.

Keadaan lebih parah setelah Pimpinan Proyek diserahterimakan kepada Wahyu Wibisana sekitar tahun 1989, dan Kepala Museum KAA tidak dijabat lagi oleh Prof. Dr. Edi S Ekadjati, perpustakaan Sundanologi yang sudah cukup baik dan lengkap menyimpan koleksi buku-buku tentang budaya Sunda, harus tergusur dan terusir dari Gedung Merdeka.

Dari sinilah awal mula tercecernya koleksi-koleksi buku, naskah/manuscript, microfish, hasil-hasil penelitian beserta barang-barang inventaris proyek seperti tape recorder, kamera, microfilm, dan lain-lain. Sebagian inventaris barang ‘dititipkan’ di salah satu ruangan Gedung YPK bekas kantor redaksi majalah Gondewa di Jl. Naripan, yang kemudian menjadi sekretariat Caraka Sundanologi, salah satu pewaris laboratorium budaya Sunda, sebagian lagi tersimpan entah di mana.

Sempat tersiar kabar koleksi-koleksi itu oleh Prof. Dr. Edi S Ekadjati dititipkan ke Perpustakaan Patanjala yang dikelola oleh Lembaga Sejarah, dan Nilai-nilai Tradisional (Jarahnitra), kemudian diambil kembali oleh Prof. Dr. Edi S Ekadjati lalu dititipkan lagi ke Perpustakaan (Keluarga) Prof. Dr. Doddy A. Tisnaamidjaja.

Di sini koleksi-koleksi aman tersimpan dan banyak dimanfaatkan oleh peneliti, peminat budaya, dan mahasiswa Sunda. Ini karena dikelola oleh seorang pengarang/budayawan Sunda Ibu Dra. Tini Kartini, yang begitu peduli untuk menyelamatkan aset budaya Sunda. Selain uang pribadi, dukungan dana juga datang dari dari Pemkot Bandung, Pemprov Jabar, dan dari Yayasan Pembangunan Jawa Barat serta orang-orang besar perhatiannya pada budaya Sunda.

Kabar buruk kembali tersiar, dukungan dana dari pemerintah dan donatur berhenti. Akibatnya perpustakaan dikelola dengan uang pribadi yang pada akhirnya harus menyerah : perpustakaan tutup. Konon, semua koleksinya akan diserahkan atau dititipkan kepada Perpustakaan ITB, namun ITB hanya menerima koleksi perpustakaan tentang sain warisan almarhum Prof. Dr. Doddy A Tisnamidjaja, yang mantan rektor ITB, sedangkan buku tentang Sunda ditolak. Kini buku-buku bahasa, sastra, sejarah, dan kebudayaan Sunda, belum diketahui nasibnya. Ada upaya memang, dari Pusat Studi Sunda untuk mengambil alih, namun pihak keluarga enggan menyerahkan.

Ada pula Perpustakaan Pusat Studi Sunda (PSS), sebagai hasil tindak lanjut dari Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) tahun 2001. Di sini tersimpan sebagian koleksi Prof. Dr. Edi S Ekadjati (alm), Prof Dr. Ajatrohaedi (alm), Drs. Atja (alm), Ir. Amir Sutaarga, (alm), Dr. Uka Tjandrasasmita (alm) dan Prof. Dr. Ajip Rosidi, baik berupa buku maupun makalah-makalah dan hasil penelitian. Buku-buku, makalah, dan hasil penelitian mereka dengan sengaja diwariskan atau dititpkan kepada PSS agar bisa terbaca dan dapat dimanfaatkan oleh siapapun yang membutuhkan atau mereka yang meneliti bahasa, sastra, sejarah, atau kebudayaan Sunda secara umum.

Namun, lagi-lagi karena faktor sarana prasarana serta dana operasional pendukungnya sangat minim, perpustakaan PSS ini pun untuk sementara sempat pindah tempat, sebelum ditemukan tempat yang representatif dan ideal. Menurut informasi dari salah seorang pengelola, pengurus Yayasan Kebudayaan Rancage, pendiri dan pemegang amanah Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS), untuk sementara sebagian koleksi buku-buku beserta barang-barang berharga milik PSS itu dititipkan kepada person-person anggota Yayasan PSS dan Yayasan Kebudayaan Rancage di Bandung, serta sebagian lagi dititipkan di salah satu ruangan Museum Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat.

Entah, di sini pengelolaannya baik atau tidak. Amankah koleksi-koleksi ini tersimpan? Atau mungkin tercecer dan masuk kepada oknum-oknum pemburu buku langka, yang biasanya berorientasi pada finansial. Jangan sampai terjadi buku-buku Sunda yang terbilang langka, masuk ke bursa buku antik atau loak buku. Naudzubillahi min dzalik!

Akhir tahun 2010, Ajip Rosidi secara pribadi, membeli sebidang tanah di Jalan Garut, Bandung. Rencananya, selain bangunan heritage sebagai bangunan utama, bakal dibangun pula gedung baru pengembangan dari bangunan yang lama, salah satunya perpustakaan. Tapi baru rencana.

Satu-satunya harapan yang bisa diandalkan, mungkin bisa memanfaatkan perpustakaan pribadi milik Mamat Sasmita (Ua Sas) yang mengelola atas biaya pribadi “Rumah Baca Buku Sunda”, walau tidak selengkap Perpustakaan Sundanologi dahulu.

Untuk itu, kebutuhan akan informasi mengenai budaya Sunda, agar tidak mesti melanglang ke Belanda, sebaiknya harus dipikirkan perpustakaan terpusat yang khusus menyimpan dan mendokumentasikan buku-buku dan hasil penelitian mengenai budaya Sunda. Sunda butuh perpustakaan ideal. Kalau perlu dan memiliki dana, boyong kembali seluruh koleksi budaya Sunda yang terdapat di Belanda itu, walau dalam bentuk fotokopi. Segera selamatkan semua buku dan naskah yang mengandung nilai kekayaan budaya Sunda yang tak ternilai itu. Jangan sampai anak cucu kita kehilangan informasi dan kehilangan warisan budaya kita sendiri, budaya Sunda.

*) Guru Basa Sunda SMP Negeri 13 Bandung, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Budaya Sunda (S2) UPI Bandung.

**) Sumber: Portal berita Galamedia.com, 17 Juni 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan