-->

Perpustakaan Toggle

Perpustakaan Batu Api

10931361244496m

Sebagai seorang penulis, saya ‘berutang budi’ pada semua toko buku dan perpustakaan yang telah saya datangi sepanjang hidup saya – terutama toko-toko buku bekas yang bukunya bisa disewa per minggu dengan harga murah, semacam test drive buku.

Minggu lalu di Bandung, saya menjumpai tempat semacam itu, yang dikelola oleh Anton Solihin, seorang lulusan Sejarah dari Universitas Padjajaran yang pendiam dan bersuara halus.

Didorong oleh rasa cintanya – yang tampak tidak lazim di zaman sekarang – terhadap kata-kata, serta kepercayaannya akan kekuatan moral dan kuratif dari seni dan gagasan, Pak Anton yang berusia 41 telah menyulap ruangan depan rumahnya menjadi semacam tempat untuk publik.

Ini merupakan proyek sederhana, unik, tapi juga ambisius – seperti ‘mempertemukan’ Aristoteles dengan Marx, dalam upayanya membawa seni, sejarah dan filsafat untuk dinikmati banyak orang.

Namanya adalah Perpustakaan Batu Api, terletak di sebuah jalan yang ramai di Jatinangor, Bandung – tidak jauh dari almamater Pak Anton, Universitas Padjajaran.

Teras Perpustakaan Batu Api di depan rumah Pak Anton berubin keramik. Ada beberapa kursi rotan yang sudah tampak tua, juga poster-poster promosi festival film asing dan pemutaran film khusus tertempel rapi di dinding.
Filmnya macam-macam: film Perancis, film Indonesia tahun 60-an, dan film Iran.

Di dalam, di ruang yang tampak seperti ruang tamu- ada dua kamar yang penuh terisi buku, dari lantai hingga langit-langit. Sekilas, buku-buku ini seperti diatur asal-asalan. Tapi bila diperhatikan, ternyata ada nama-nama kategori yang ditempel dengan rapi di rak-raknya: India, Arab, Perancis dan Latin.

Tentu saja buku-buku yang tersusun ini adalah terjemahan bahasa Indonesia dari novel-novel karya pengarang-pengarang besar seperti Naipaul, Orhan Pamuk dan Amin Maalouf.

Buku-buku favorit Pak Anton diberi tanda. Seperti yang kita duga, dia adalah pengagum almarhum Pramoedya Ananta Toer – yang buku-bukunya sering dipinjam orang dengan teratur dari perpustakaan ini.

Novelis dan kolumnis Umar Khayyam adalah satu lagi pengarang favoritnya – terutama buku hikayat keluarga, Para Priyayi.

Perpustakaan ini didirikan dan dibiayai sendiri oleh Pak Anton. Pertama kali dibuka pada 1999, Pak Anton mencita-citakan tempat ini menjadi tempat beristirahat dan berkontemplasi bagi para mahasiswa di sekitarnya, juga bagi para pekerja pabrik garmen dan tekstil yang begitu banyak di lingkungan itu.

Pak Anton menjelaskan bahwa penduduk di lingkungan itu (termasuk para mahasiswa) tidak memiliki minat baca yang besar. Tapi dia tetap berhasil mengumpulkan lebih dari 5.500 anggota perpustakaan dan 8000 buku, sejumlah CD dan majalah-majalah untuk disewakan. Sekali pinjam, tiap buku hanya dikenakan biaya Rp 3.000,- untuk seminggu, dan biasanya 30 pengunjung meminjam dua buku sekaligus dalam sekali pinjam – jadi rata-rata 60 buku sehari.

Sebagai orang yang mengaku ‘agen perubahan’, Pak Anton mengorganisir banyak event: pembacaan buku, diskusi dan pemutaran film – termasuk yang dia adakan untuk saya di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

“Kami mengadakan banyak acara di lingkungan ini. Kami suka menantang asumsi dan membuat orang berpikir. Diskusi Anda itu pertama kalinya yang pernah kami adakan di IPDN. Kami ingin melihat responnya,” kata Pak Anton pelan.

Dia memang orang pemikir dan suka membaca: sepertinya tidak ada kata ‘heboh’ di DNA-nya.

Dia menambahkan: “Kami punya komunitas pembaca yang kecil tapi hidup di Jatinangor – termasuk beberapa pekerja pabrik Kahatex.”

Koleksi buku di perpustakaan ini begitu beragam, sampai kadang membuat bingung. Ada setumpuk map berisi potongan kliping koran, majalah Tempo dari tahun 80an dan 90-an hingga CD film-film luar negeri. Ini karena Pak Anton begitu memperhatikan koleksinya secara pribadi.

Dia tersenyum sambil menunjuk sebuah rak di sisi kirinya, dan berkata, “Ini buku-buku ‘kiri’ saya – dalam arti sebenarnya, karena memang adanya di sebelah kiri saya.”

Dia menunjukkan beberapa naskah pidato dan pamflet yang sudah kusam dari era Soekarno: Berdiri Diatas Kaki Sendiri, Penemuan Kembali Revolusi Kita dan Celaka Negara yg Tidak Bertuhan – kumpulan deklarasi kemerdekaan penuh semangat, yang diwarnai emosi dan gairah tinggi dari masa-masa itu.

Dalam era Twitter dan SMS, usaha Pak Anton ini mengingatkan kita akan masih adanya eksistensi yang terpenuhi dan juga memenuhi – eksistensi dalam kata-kata, musik, puisi dan gagasan – semuanya ada di sebuah ruang tamu sebuah rumah yang letaknya agak keluar dari Bandung, menunggu siapa saja yang mau meraihnya, hanya dengan Rp3.000. [mor]

Sumber: Portal berita Inilah.com, 14 Juni 2011

***

Baca juga:

Perpustakaan Batu Api yang Menebar Api

Perpustakaan Batu Api, sewakan buku dan film pergerakan

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan