-->

Literasi dari Sewon Toggle

Pengajian Jawa IBOEKOE-YANTRA: "Kayu Bertuah"

Budi Hardono

Budi Hardono

JOGJA–Kayu Bertuah menjadi tema “Pengajian Jawa” seri 7 yang diselenggarakan Yantra dan IBOEKOE di Gelaran Ibuku, Patehan, Keraton, Yogyakarta (2/6). Budi Hardono (71) dalam uraiannya mengatakan, kayu bertuah merupakan jenis kayu yang disediakan semesta mempunyai daya kekuatan energi dan memiliki potensi supranatural dan bukan rekayasa manusia.

“Dalam kayu bertuah itu ada ion-ion karbon organik dan anorganik. Kayu-kayu kering itu jika terbakar hanya bagian anorganiknya. Adapun organiknya tidak. Selain itu, dalam kayu bertuah, terkandung nitrogen yang tinggi yang berguna untuk kehidupan. Terutama mendapatkan pancaran energi dari kesadaran agung,” jelas pengasuh spiritual “Sadar Langsung” ini.

Budi Hardono bercerita, ia mendapatkan ilmu Kayu Bertuah ini dari pengalaman spiritualnya mengadakan kontak dengan kesadaran agung yang kemudian membimbingnya membuat metode “Sadar Langsung” dengan cara sujud. “Kesadaran ini adalah kesadaran pasrah sumarah ing ngarsaning gusti, manungsa mung sadarmi nglamapahi.”
Kayu adalah salah satu rangkaian bagaimana “Sadar Langsung” itu bisa dirabai.

“Nabi-nabi dan spiritualis juga berdekatan dengan kayu. Misalnya Sidharta Gautama yang tercerahkan di bawah pohon. Nabi Musa memiliki tongkat yang bisa membelah lautan,” lanjutnya.

Mantan mahasiswa Sosiatri, Universitas Gadjah Mada tahun 1961 (UGM masih di Pagelaran Keraton, red) ini bercerita, pertama kali menyadari pentingnya kayu bagi manusia tatkala pada 1987 mengikuti pameran kayu di Yogyakarta. “Waktu itu saya menafsirkan secara spiritual makna dan guna kayu-kayu. Tahu-tahunya menarik minat banyak orang. Sukses besar. Bahkan kayu-kayunya diborong pengusaha Mooryati Sudibyo,” ujar pensiunan Departemen Tenaga Kerja di Yogyakarta ini.

Dalam “Pengajian Jawa” itu, Budi Hardono membawa 34 dari 61 jenis kayu yang dia ketahui khasiatnya bisa diwujudkan kehidupan yang rahayu. Kayu-kayu bertuah itu antara lain nagasari, mentawa, mentigi, tasak, setigi, lotrok, sepang, lingsar, songgo langit, walikukun, dan lain-lain.

Kayu nagasari, misalnya. Tuah kayu yang di masa Pangeran Diponegoro dianjurkan ditanam dan terdapat di makam-makam raja ini mempunyai fungsi multiguna. Selain untuk keselamatan, keharmonisan keluarga, kesehatan, anti petir, anti daya negatif dan hal lain yang bersifat universal.

“Bisa juga Nagasari ini untuk pengobatan dengan cara merendam potongan kayu pada air dingin/direbus untuk penyakit dalam. Saya sarankan untuk jamu bisa mengikutsertakan bagian dari kayu ini, bisa biji, kulit, atau daunnya,” jelas mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI).

Lain lagi kayu kebak. Kayu jenis ini cocok digunakan untuk penjual-penjual bakso. Tuah kayu ini, kata Mbah Budi, anti daya negatif dan memperlancar rezeki. Cara penggunaannya, potongan kayu disimpan, direndam dalam air, berdoa kepada Tuhan lalu airnya diminm sebelum tidur.

Budayawan yang pernah diminta Keraton Hadiningrat Yogyakarta untuk menerangkan esoterisme keris ini menyimpulkan bahwa kayu-kayu bertuah itu, dalam pandangan spiritualitas orang jawa, merupakan pembuktian bahwa ada energi semesta yang bekerja di alam mikrokosmik. Dan cara masuk dan merasakan energi itu dengan laku dan doa. Kesadaran puncak dari sujud semesta itu yang disebut Kesadaran Agung. Semesta membuka diri untuk kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang terbangun jiwanya.*

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan