-->

Lainnya Toggle

Menziarahi Buku, Mencerap Ilmu

munawirOleh: Munawir Aziz

Perjumpaan saya dengan buku merupakan kesesatan menuju jalan kebahagiaan. Saya lahir dan tumbuh di lingkungan yang jauh dari tradisi literer. Buku, dalam kenangan masa kecil saya adalah sebuah harapan, yang jauh dari kenyataan. Maka, perkenalan saya dengan buku—dunia bacaan—dituntun oleh lintasan dan sobekan koran dari hari ke hari.

Beruntung, ibu saya bekerja sebagai pedagang kelontong, yang saban hari menyiapkan kertas koran bekas, di samping daun pisang, untuk membungkus jualan. Saya, yang sering diminta untuk membeli koran bekas dari pedagang grosir, mulai berkenalan dengan bacaan, sebelum akhirnya menemukan ‘dunia’ yang tersimpan dalam halaman-halaman buku.

Maka, sebagai anak yang mulai keranjingan membaca, namun tak punya bahan bacaan, koran bekas merupakan media paling dekat dengan pengembaraan imajinasi diri saya. Meski, komik dan cerita silat juga menghamparkan kisah serta memori kreatif yang tertancap dalam pikiran dan ingatan, bahkan hingga kini. Kisah komik Gundala Putra Petir, dan cerita silat serial BuKek Siansu garapan Ko Ping Ho merupakan kisah penting dalam pembentuk memori masa kecil saya.

Koran bekas menjadi pelampiasan untuk mengakses bacaan serta kisah-kisah di seberang dunia lain—waktu saya berusia sekitar sepuluh tahun, komputer dan internet merupakan barang mewah, serta tentu saja jauh dari bayangan masyarakat di desa tempat saya lahir dan tumbuh. Dan, aktifitas membaca koran bekas, selama sekolah SD sampai Aliyah, merupakan kegiatan paling menggembirakan di sela-sela belanja di toko grosir. Aha, ibu saya sampai mafhum dan beberapa kali menyuruh saudara menjemput barang belanjaan, namun saya tetap melanjutkan membaca koran bekas sampai puas.

Perjumpaan saya dengan buku juga tak kalah menggelikan. Buku bacaan di sekolah dasar, mayoritas merupakan ‘peninggalan’ dari dinas P&K, yang diproduksi antara tahun 50 sampai 70-an. Dan, tentu sudah berwajah kusam serta tak lagi dipajang di rak perpustakaan sekolah, yang bahkan mirip gudang. Maka, suatu hari, saya dan teman sekelas diminta membersihkan perpustakaan—atau gudang itu—dan mengepel hingga bersih, sebab ujian catur wulan (cawu) telah selesai dan tak ada lagi pelajaran yang diberikan. Dari perpustaakan yang mirip gudang inilah, saya mendapatkan ‘artefak’ buku-buku prosa Melayu pengarang Indonesia produksi Balai Pustaka, dari sinilah saya berkenalah dengan Sutan Takdir Ali-Sjahbana, Armijn Pane, HAMKA, dan penulis segenerasi itu.

Selanjutnya, di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah, kitab-kitab klasik pesantren dan tradisi Islam memenuhi obsesi membaca. Lalu, sedikit demi sedikit belajar memahami bahasa dan tradisi Arab.

* * *

Okelah, kisah sekilas tadi merupakan fragmen memori serta sejarah diri saya berkenalan dengan buku. Tentu, kisah perkenalan awal dengan buku menjadi pondasi penting, bagi ziarah kata-kata selanjutnya bagi tiap orang. Kesan yang berbeda akan memberikan pemahaman serta pemaknaan yang berbeda.

Namun, baiklah, pada konteks ini saya akan menyampaikan pengalaman saya mengulas buku, sebagai jawaban atas permintaan teman-teman tentang proses panjang menziarahi buku serta menimbang makna. Pikiran serta cara kerja saya dalam mengulas buku, sangat dipengaruhi pengalaman pribadi dan penghormatan atas buku sebagai media ilmu. Perspektif inilah yang menjadi alat analisis untuk menimang, menimbang dan mengulas buku secara lebih mendalam.

Pertama, kontribusi buku dalam ilmu pengetahuan dan peradaban. Setiap penulis punya tujuan yang berbeda dalam proses menghasilkan karya. Cara pandang penulis terhadap permasalahan, serta bagaimana pendekatan terhadap fakta dan masalah, akan menghasilkan pola tulisan yang berbeda. Namun, setiap buku yang lahir dari rahim imajinasi penulis, punya makna serta kontribusi yang berlainan. Nah, proses mengidentifikasi kontribusi buku inilah yang menjadi ‘tekanan’ cara kerja mengulas buku.

Kedua, theoretical framework. Dalam konteks ilmu sosial, theoretical framework (atau kerangka kerja teoretis), merupakan nyawa dari proses panjang penelitian. Secara sederhana, theoretical framework yakni cara pandang, pernyataan-pernyataan epistemik atau teori-teori apa saja yang mendasari penelitian. Kerangka kerja teoretis inilah yang mendasari bagaimana analisis terhadap masalah, dapat menjadi gambaran dari ‘nyawa’ buku. Jika kita dapat memahami dan menangkap proses ini menjadi cara berpikir, maka akan lebih mudah kerja mengulas buku.

Ketiga, posisi buku dalam discourse yang serumpun. Cara pandang yang perlu disadari dalam mengulas yakni posisi pembaca dan posisi buku. Sadar membaca penting untuk memandang buku pada posisi yang ‘berjarak’. Meski, masuk dalam labirin-labirin buku juga merupakan tantangan. ‘Manunggaling manungso lan buku’ ini merupakan ujian sekaligus kenikmatan.

Dalam pengalaman saya, ketiganya merupakan satu kesatuan yang telah tertanam dalam pikiran, ia menjadi cara kerja dan perspektif. Cara pandang ini perlu dimiliki dalam proses khusyu’ membaca, serta mengulas buku. Dengan demikian, membaca sekaligus memaknai buku hadir sebagai tradisi, habitus, dan embodied—dalam keseluruhan tubuh, pikiran serta jiwa. Menurut saya, membaca tak hanya menggunakan indra penglihatan, namun seluruh indra. Proses mengulas—juga mengelus—buku dengan keseluruhan indra dan jiwa inilah yang perlu menjadi refleksi, kesadaran dan cara kerja.

Munawir Aziz, penikmat buku

Sumber: Facebook Komunitas Peresensi Jogjakarta, 24 Juni 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan