-->

Kronik Toggle

Mempopulerkan Katalog Bersama

Mempopulerkan Katalog Bersama
YOGYAKARTA–Hendro Wicaksono, SliMS Lead Developer, dalam workshop “Membangun Jaringan Katalog Perpustakaan” yang diselenggarakan ¬†Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogyakarta, Hotel Cakra Kusuma, Yogyakarta (17/6), mengatakan tahun 50-an sebetulnya sudah ada Katalog Bersama dalam tradisi perpustakaan. Namun di Indonesia justru tidak populer.
“Dulunya Katalog Bersama itu dalam bentuk ditulis dalam buku. Bayangkan bagaimana tebal dan ribetnya. Mungkin karena itu nggak populer. Ke sini-sini kemudian ada sistem mikrofom, dan kemudian berbasis online,” kisah Hendro.
sepengetahuan Hendro, katalog bersama yang cukup populer, antara lain bisa disebutkan Worldcat, PustakaBersama, Pustaka Agraria, OCLC, maupun Jogjalib.net.
Katalog Bersama atau kombinasi katalog dari berbagai perustakaan memiliki berbagai model. Antara lain tersentralisasi. Di model ini, ada institusi utama yang menjadi pusat, sementara perpustakaan lain bersifat periferal. “Umumnya punya modal banyak, besar. Contohnya Freedom Institute, Worldcat,” jelas Hendro.
Tantangan
Dalam pembuatan Katalog Bersama, yang mesti diperhatikan adalah soal kesepakatan bersama yang ditandatangani, sebagaimana dijelaskan mantan koordinator Jaringan perpustakaan Lingkungan Hidup (JPLH) Ruhimat. Yang lain adalah kesamaan posisi dan bersifat meritokrasi. yang dimaksud meritokrasi, kata Hendro, siapa yang berkontribusi harus diberi banyak tempat.
Di hadapan 15 perpustakaan yang dikelola lembaga masyarakat, Hendro menuturkan tantangan ketika membangun jaringan katalog bersama. Tantangan itu antara lain. Pertama, kualitas pengkatalogan. Di worldcat, ada yang ditugaskan memelototi katalog dan memperbaikinya jika keliru mengkatalog. Dalam konteks Indonesiaposisi itu hampir tidak ada. Untuk menyiasatinya, yang mereview adalah komunitas pesertanya sendiri. Kedua, kepemimpinan yang pas seperti apa. Yakni kepemimpinan yang tidak terinstitusionalisasi. Mungkin kepemimpinan bersama.
Ketiga, keberlanjutan dan motivasi. Biasanya, rasa bosan adalah siklus 3 tahunan titik kritis dalam hal bekerja bersama dalam jaringan. Apalagi ketika tak ada lagi tantangan. (GM/IBOEKOE)

YOGYAKARTA–Hendro Wicaksono, SliMS Lead Developer, dalam workshop “Membangun Jaringan Katalog Perpustakaan” yang diselenggarakan ¬†Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogyakarta, Hotel Cakra Kusuma, Yogyakarta (17/6), mengatakan tahun 50-an sebetulnya sudah ada Katalog Bersama dalam tradisi perpustakaan. Namun di Indonesia justru tidak populer.

“Dulunya Katalog Bersama itu dalam bentuk ditulis dalam buku. Bayangkan bagaimana tebal dan ribetnya. Mungkin karena itu nggak populer. Ke sini-sini kemudian ada sistem mikrofom, dan kemudian berbasis online,” kisah Hendro.

Sepengetahuan Hendro, katalog bersama yang cukup populer, antara lain bisa disebutkan Worldcat, PustakaBersama, Pustaka Agraria, OCLC, maupun Jogjalib.net.

Katalog Bersama atau kombinasi katalog dari berbagai perustakaan memiliki berbagai model. Antara lain tersentralisasi. Di model ini, ada institusi utama yang menjadi pusat, sementara perpustakaan lain bersifat periferal. “Umumnya punya modal banyak, besar. Contohnya Freedom Institute, Worldcat,” jelas Hendro.

Tantangan

Dalam pembuatan Katalog Bersama, yang mesti diperhatikan adalah soal kesepakatan bersama yang ditandatangani, sebagaimana dijelaskan mantan koordinator Jaringan perpustakaan Lingkungan Hidup (JPLH) Ruhimat. Yang lain adalah kesamaan posisi dan bersifat meritokrasi. yang dimaksud meritokrasi, kata Hendro, siapa yang berkontribusi harus diberi banyak tempat.

Di hadapan 15 perpustakaan yang dikelola lembaga masyarakat, Hendro menuturkan tantangan ketika membangun jaringan katalog bersama. Tantangan itu antara lain. Pertama, kualitas pengkatalogan. Di worldcat, ada yang ditugaskan memelototi katalog dan memperbaikinya jika keliru mengkatalog. Dalam konteks Indonesiaposisi itu hampir tidak ada. Untuk menyiasatinya, yang mereview adalah komunitas pesertanya sendiri. Kedua, kepemimpinan yang pas seperti apa. Yakni kepemimpinan yang tidak terinstitusionalisasi. Mungkin kepemimpinan bersama.

Ketiga, keberlanjutan dan motivasi. Biasanya, rasa bosan adalah siklus 3 tahunan titik kritis dalam hal bekerja bersama dalam jaringan. Apalagi ketika tak ada lagi tantangan. (GM/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan