-->

Resensi Toggle

Kabar Resensi Pekan Kedua Juni 2011

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia.

SukarnoSukarno dan Modernisme Islam

Karya Muhammad Ridwan Lubis

Resensi ditulis David Tobing

Dimuat MEDIA INDONESIA, 18 Juni 2011

Memahami pemikiran Sukarno tentang Islam tidak dapat dilepaskan dari konteks zaman yang memengaruhinya. Pada masa Bung Karno ada dua arus utama pemikiran yang membicarakan agama dan nasionalisme. Arus itu adalah pemikiran nasionalisme sekuler yang melihat antara agama dan nasionalisme harus terpisah. Pada kutub lain, arus utama kedua, adalah pemikiran nasionalisme Islami yang melihat agama dan nasionalisme senyawa. Dalam kaca mata Ridwan, Sukarno merupakan sosok yang tidak sederhana. Bapak bangsa itu bisa dilihat dalam tiga wajah, sebagai negarawan, pelaku politik, dan pribadi.

Sastra Indonesia Awal: Kontribusi Orang Tionghoa

Karya Claudine Salmon

Resensi ditulis Bandung Mawardi

Dimuat KOMPAS, 19 Juni 2011

Dua puluh esai dalam buku ini memunculkan pikat untuk pembayangan atas perkembangan sastra dari zaman ke zaman. Claudine Salmon menengarai, perkembangan usaha penerbitan dalam bahasa Belanda dan Melayu Tionghoa pada 1880-an merupakan momentum penting dalam sejarah kesusteraan Melayu di Jawa. Buku ini pantas menjadi sandaran untuk merenungi kronik sastra  dan pemahaman publik terhadap kontribusi kaum Tionghoa peranakan dalam pertumbuhan kesusteraan di Indonesia.

Evolusi: dari Teori ke Fakta

Karya Ernst Mayr

Resensi ditulis Dian R Basuki

Dimuat KORAN TEMPO, 19 Juni 2011

Ernst Mayr, salah satu pewaris ide Darwinian, dalam buku ini memetakan perjalanan gagasan evolusi sejak sebelum masa Darwin (Jean-Baptiste de Lamarck menerbitkan publikasinya 50 tahun lebih awal dari On the Origin). Namun, Darwinlah yang memasukkan cara berpikir populasi ke dalam sains. Mayr mengajak kita memasuki wilayah yang paling kontroversial: evolusi manusia. Manusia selalu dianggap sepenuhnya berbeda dari makhluk ciptaan lain. Mayr menguraikan tahapan-tahapan di mana manusia menjadi makin berbeda dari kera (bukan monyet) leluhurnya hingga kemudian menunjukan ciri-ciri khas manusia. Salah satu yang paling penting adalah perkembangan otak manusia. Mayr juga menunjukan sumber-sumber kesalahpahaman. Misalnya, orang hanya sering memperhatikan  satu penyebab atas suatu gejala evolusi.

Polisi Zaman Hindia Belanda, dari Kepedulian dan Ketakutan

Karya Marieke Blombergen

Resensi ditulis Wildani Hefni

Dimuat JAWA POS, 19 Juni 2011

Marieke Bombergen, dosen sejarah Universitas Amsterdam yang bertugas melakukan penelitian arkeologi Indonesia itu mengupas tuntas  sejarah kepolisian zaman Hindia Belanda. Mulai awal pembentukannya pada 1987 sampai keruntuhan negara kolonial pada 1942, yang merupakan cikal bakal polri. Blombergen menengarai bahwa kinerja buram polisi bermula pada awal pembentukan pertama.

Umat Bergerak: Mobilisasi Damai Kaum Islamis di Indonesia, Malaysia, dan Turki

Karya Julie Chernov Hwang

Dimuat JAWA POS, 19 Juni 2011

Resensi ditulis Muhammad Sholichin

Dalam buku ini, Julie Chernov Hwang  mengajukan tiga negara  besar yang mayoritas penduduknya Muslim dan pemerintah memberi ruang yang luas bagi mereka untuk melakukan partisipasi. Pergerakan-pergerakan itu menjadi aktor positif yang mampu menyediakan akses politik serta barang dan layanan publik, negara-negara tersebut adalah Turki, Indonesia, dan Malaysia. Buku ini patut dibaca untuk menerjemahkan ulang hubungan negara dan gerakan Islam.

Toeologi Kerukunan

Karya Prof  Dr Syahrin Harapan MA

Resensi ditulis Wawan Hariyanto

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 19 Juni 2011

Buku yang ditulis pemikir Islam ini patut diberi apresiasi yang tinggi. Karena di tengah-tengah suasana dan keadaan bangsa yang genting  dengan berbagai macam kerusuhan di sana sini penulis mencoba memberikan pencerahan kepada pembaca bahwa seharusnya hal itu terjadi tidak terjadi apalagi mengatasnamakan agama. Antar pemeluk agama tidak perlu saling berbantah-bantahan dan bermusuhan, melainkan saling menghormati dengan sesamanya.

Melejitkan Karir Guru dengan Menulis

Karya Sudaryanto

Resensi ditulis  Hendra Sugiantoro

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 19 Juni 2011

Guru, marilah menulis! Itulah esensi yang disampaikan buku ini. Siapapun guru sebenarnya memiliki potensi menulis, namun belum teraktualisasikan. Maka lewat buku ini penulis mencoba membangun motivasi sekaligus ingin menggiatkan budaya menulis di kalangn guru. Buku ini menjelaskan  seluk-beluk  menulis artikel ilmiah populer, menulis artikel ilmiah jurnal, menulis makalah seminar, menulis buku pengayaan siswa, dan perihal penulisan karya tulis ilmiah guru versi Tim Penilai Penetapan Angka kredit (PAK) Kemendiknas RI

Kamus Ilmiah Kontemporer, Indonesia-Arab

Karya Sarwanih SS Msi

Resensi ditulis Irawan Fuadi

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 19 Juni 2011

Buku berjudul Kamus Ilmiah Kontemporer, Indonesia-Arab merupakan salah satu karya untuk menjawab kegelisahan- kegelisahan para pelajar maupun mahasiswa yang seringkali kesulitan mencari padanan kosakata Bahasa Arab jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kamus ini semakin sempurna dilengkapi dengan bahasa gaul yang digunakan untuk percakapan sehari-hari. Juga singkatan-singkatan umum, nama-nama negara, bintang-bintang, organisasi-organisasi Islam, gelar akademik, serta nama  tokoh dan ilmuan non Arab yang terkadang sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

Cara Mudah Menuju Mekah

Karya Firmansyah Dimmy

Reensi ditulis Priyantono Oemar

Dimuat REPUBLIKA, 19 Juni 2011

Dalam buku ini Firman memberi beberapa contoh orang-orang yang diberi kemudahan berhaji meski memiliki keterbatasan biaya. Dalam buku yang tebalnya 180 halaman ini Firman juga menyebutkan perhitungan-perhitungan investasi untuk mendapatkan biaya haji. Tema buku ini dianggap berbeda dengan buku-buku haji lainnya yang lebih banyak bicara soal fikih haji maupun pengalaman berhaji.

Bayang-Bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi

Karya Yasraf Amir Piliang

Resensi ditulis M Najibur Rohman

Dimuat SUARA MERDEKA

Dalam buku ini penulis menyatakan imajinasi tak selalu melawan kehendak Tuhan. Imajinasi dan kreativitas, justru menjadi bagian paling intim dalam agama. Oleh karena itu umat beragama harus didorong untuk berimajinasi. Namun, imajinasi di sini lebih bersifat subtantif, bukan imajinasi populer yang tampil melalui simbol-simbol bersifat permukaan. Buku ini membawa pesan kepada umat  beragama agar tak terjerumus pada imajinasi artifisial yang berpotensi menghancurkan diri sendiri (self destruction). Popularisme yang menjauhkan agama dari makna hakikinya. Buku ini tidak menempatkan manusia seperti mesin yang tanpa imajinasi dan hasrat.

Kicau Kacau (Curahan Hati Penulis yang Galau)

Karya Indra Herlambang

Resensi ditulis Redaksi

Dimuat TRIBUN JOGJA, 19 Juni 2011

Buku ini mengumpulkan kicauan Indra Herlambang  soal gaya hidup, cinta, Jakarta, Indonesia, dan keluarga. Di awal bab, Indra banyak berkicau tentang gaya hidup. Indra menggambarkan kehidupan sekarang yang dikepung dengan teknologi. Demi sebuah gaya hidup harus ada orang yang rela menunggu gadget yang terbaru, bahkan dia juga membandingkan dengan orang yang sudah 5 tahun memakai handphone dengan jenis yang sama. Indra juga bercerita tentang kisahnya yang harus menemani seorang temannya yang putus cinta, untuk pergi ke klab malam menemani minum vodka green tea. Indra membungkus tulisannya dengan gaya bertutur yang santai, bercerita dengan detil, dan lugas dengan bahasa sehari-hari yang diselipkan juga bahasa prokem. (Aya/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan