-->

Resensi Toggle

Indigo, The Truth Is Now Here | Budhi Arahato (Toto) | 2011

derma-buku-GELARANIBUKU-IBOEKOE1Judul novel: Indigo, The Truth Is Now Here
Penulis: Budhi Arahato (Toto)
Tebal: 216 (spasi 2)

Obrolan Senja Angkringan Buku membedah draft novel ini.
Jumat, 10 Juni 2011
Pukul 15.30 – 18.00 wib
Angkringan Buku IBOEKOE, Jl Patehan Wetan 3, Alun2 Kidul Keraton, Yogya

Mendobrak Mitos: Kesaksian Orang-orang (Tak) Biasa
Oleh Fairuzul Mumtaz

Bayangkan suatu peradaban di mana sebuah lembaga berisi para manusia yang mampu membaca batin manusia lain dan hewan, melihat peristiwa yang terjadi di tempat lain, menilik kejadian yang akan datang, menggunakan roh sebagai perantara, dan memindai informasi melalui suatu benda. Suatu lembaga dengan kemampuan telekinesis (memindah benda dengan pikirannya), telepati (berkomunikasi dalam jarak jauh), dan teleportasi (berpindah tempat dari tempat yang jauh dalam tempo yang relatif cepat).

Alhasil… interogasi tak diperlukan. Alat-alat transportasi dan komunikasi tak laku. Dokter dan apotek ditinggalkan. Musim dan cuaca bisa dimanipulasi. Sejarah dibongkar, direvisi. Toh kejahatan dan kecelakaan bisa dicegah. Manusia mau tidak mau harus berniat baik, kalau tidak dia bisa bakal masuk penjara atas tuduhan kejahatan-pikiran. Dan sebagainya. Sebuah dunia yang tak terbayangkan.

Novel Indigo merupakan sekumpulan kesaksian tentang suatu dunia yang terkesan irasional, mistis, serba antah-berantah, yang konon dilihat dengan indera keenam (batin) yang kelewat tajam. Membaca Indigo tidak bisa tidak kita merenungkan-ulang keyakinan kita selama ini. Jangan-jangan apa yang kita anggap sebagai mitos itu adalah kebenaran, sedangkan apa yang kita yakini kebenaran rupanya mitos yang terbungkus begitu ciamik?

Indigo bertutur tentang petualangan Ninik dalam memaknai hidup (dan kematian). Bermula dari hobinya kongko di Bonbin UGM, ia terlibat dalam perseteruan antara mahasiswa dengan intel kepolisian. Tradisi tawur dua pihak itu mengantarkan ia berkenalan dengan seorang avatar, seorang air-bender, indigo yang lain (Avatar, Seorang Sarjana yang Menjadi Petugas Cleaning Service). Mengenal sang Avatar ini Ninik turut melacak silsilah keluarganya yang ruwet kayak rambut Einstein (Bilamana Emprit Menjelma Garuda).

Alur kemudian mundur ke masa SMA di mana Ninik akrab dengan 7 indigo lain (Nasib Bukanlah Kesunyian Masing-masing). Masing-masing siswa ini punya spesialisasi indigo. Ada yang jago memanipulasi pikiran, olah tubuh, musik, menggambar, sastra, teknik, fisika, arsitektur. Alur kemudian mundur lagi ke masa SMP kala Ninik minggat ke Jakarta kemudian pulang membaca cinta (Kereta, Lelaki Harum Melati, dan Tarot). Alur kembali lanjut dalam upaya Ninik mencari kakak lelakinya yang minggat ke Jakarta (Asmara Segitiga Maut). Malang, kali ini Ninik pulang membawa duka (Bulan Madu di Pasar Kembang).

Tak menyerah, Ninik kembali ke Jakarta. Dalam upayanya itu ia malah tersesat dan masuk ke sebuah perguruan silat yang aneh. Satu pekan ia digembleng di sana oleh seorang guru yang mistis sekaligus rasional (Main Lupa-lupaan). Pulang dari petualangannya Ninik mendapat undangan untuk hadir dalam sebuah makan malam yang misterius (Makan Malam yang Misterius bersama Buddha, Yesus, dan Muhammad)

Sebagaimana tagline novel ini, The truth is now here, Indigo adalah sebuah undangan bagi kita (calon pembaca) untuk mempertanyakan (dan menemukan) kebenaran macam apa yang ditawarkan di dalamnya. Bukan lagi the truth is out there ala film serial The X-files atau the truth is nowhere ala film-film misteri garapan Hollywood semacam Knowing, Constantine, The Sixth Sense, Final Destination, dan lain-lain.

Lebih dari itu, Indigo menyuarakan kebenaran universal yang bisa ditemui dalam tradisi manapun: ‘Jika kau mau hidup, maka pertama-tama yang harus kau lakukan adalah memahami hidup itu sendiri.’

Ya, bisa jadi Indigo adalah novel filsafat, karena ia mengajak kita merenung tentang hidup dan kehidupan. Bisa jadi pula Indigo adalah novel psikologi, karena ia menyajikan pergolakan batin orang-orang indigo dalam menjalani hidupnya yang tidak umum. Pun sebagai novel spritual, Indigo menawarkan konsep pencarian jatidiri dan upaya perbaikan dunia. Tak cuma itu, Indigo adalah sebuah novel (pengungkapan) misteri, menguak rahasia-rahasia kehidupan.

Percaya atau tidak percaya atas kesahihan kesaksian-kesaksian tersebut (apalagi disajikan dalam bentuk novel (baca: fiksi) dengan sudut pandang orang-pertama), itu urusan kita nanti sebagai pembaca. Sejalan dengan itu, Indigo dikemas dalam gaya penuturan yang kocak dan menghibur, alur yang mengalir luwes, enak dan layak dibaca oleh baik kalangan remaja maupun dewasa, jelata maupun akademisi.

Daftar Isi:

Bagian I
1.       Avatar, Seorang Sarjana yang Menjadi Petugas Cleaning Service…………….
2.       Nasib Bukanlah Kesunyian Masing-masing…………………………………………..
3.       Kereta, Lelaki Harum Melati, dan Tarot……………………………………………….
4.       Asmara Segitiga Maut ……………………………………………………………………….
5.       Bulan Madu di Pasar Kembang …………………………………………………………..
6.       Asmara Segitiga Maut II…………………………………………………………………….
7.       Bilamana Emprit Menjelma Garuda …………………………………………………….
8.       Main Lupa-lupaan………………………………………………………………………………

Bagian II
Makan Malam yang Misterius bersama Buddha, Yesus, dan Muhammad

* Fairuzul Mumtaz, koordinator Obrolan Senja

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan